Showing posts with label Artikel Seni Budaya. Show all posts
Showing posts with label Artikel Seni Budaya. Show all posts

15 Jun 2025

HIBAH KEBUDAYAAN DAN TANTANGAN BIROKRASI: Bagaimana Meningkatkan Efektivitas Pendampingan Pokmas?

 HIBAH KEBUDAYAAN DAN TANTANGAN BIROKRASI: Bagaimana Meningkatkan Efektivitas Pendampingan Pokmas?


Oleh: Adiyanto, S.Sn, M.MPd

Pamong Budaya Ahli Muda Disbudpar Jatim

Hibah kebudayaan merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah dalam menjaga dan mengembangkan seni serta tradisi lokal. Di Jawa Timur, program hibah kebudayaan telah menjadi instrumen penting bagi kelompok masyarakat (Pokmas) dalam menjalankan berbagai kegiatan seni budaya. Dengan adanya hibah ini, Pokmas dapat memperoleh sumber daya yang diperlukan untuk sarana dan prasarana pelestarian kesenian seperti Gamelan, pakaian tari, Reog jaranan, kostum seni dan yang lainnya.

Namun, dalam praktiknya, berbagai tantangan masih kerap muncul, terutama terkait dengan birokrasi dan efektivitas pendampingan Pokmas. Proses hibah yang seharusnya menjadi stimulus bagi masyarakat justru sering kali menjadi beban administratif yang cukup berat. Mulai dari kesalahan dalam proposal, penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang tidak sesuai, kesulitan belanja barang setelah pencairan, hingga keterlambatan laporan pertanggungjawaban (LPJ), semua ini menjadi permasalahan yang menghambat efektivitas hibah kebudayaan.

Salah satu faktor utama penyebab permasalahan ini adalah minimnya pemahaman Pokmas terhadap prosedur administrasi yang berlaku. Sebagian besar Pokmas bukanlah entitas yang terbiasa dengan tata kelola anggaran pemerintah, sehingga banyak yang mengalami kesulitan dalam memenuhi persyaratan administratif. Kurangnya sosialisasi dan bimbingan dari pihak terkait.

Di sisi lain, regulasi yang berlaku dalam penyaluran hibah kebudayaan sering kali dianggap terlalu ketat dan tidak fleksibel. Hal ini menyebabkan banyak Pokmas mengalami hambatan sejak tahap awal, seperti dalam penyusunan proposal dan pencairan dana. Dengan berbagai kendala ini, dampak hibah kebudayaan yang seharusnya optimal menjadi kurang maksimal

Dalam konteks ini, pendampingan yang efektif sangat diperlukan untuk memastikan bahwa Pokmas dapat memanfaatkan hibah secara optimal. Tanpa adanya sistem pendampingan yang baik, hibah kebudayaan berpotensi menjadi sekadar program administratif yang tidak benar-benar berdampak pada pelestarian budaya. Oleh karena itu, perlu adanya solusi konkret untuk meningkatkan efektivitas pendampingan dan memperbaiki sistem birokrasi hibah kebudayaan.

Berbagai tantangan yang dihadapi dalam program hibah kebudayaan, pentingnya pendampingan yang lebih intensif, serta langkah-langkah solutif yang dapat diambil untuk meningkatkan efektivitas program Hibah, dapat benar-benar menjadi instrumen yang bermanfaat bagi masyarakat dalam melestarikan budaya lokal.

Dalam konteks ini, pendampingan efektif diperlukan agar Pokmas dapat memanfaatkan hibah dengan baik. Tanpa pendampingan yang memadai, program hibah kebudayaan hanya akan menjadi prosedur administratif yang tidak memberikan dampak signifikan bagi pelestarian budaya.

Birokrasi yang Rumit dan Kendala Teknis

Hibah kebudayaan harus mengikuti prosedur ketat demi transparansi dan akuntabilitas. Namun, sistem birokrasi sering kali menjadi hambatan bagi Pokmas. Banyak proposal yang diajukan masih keliru atau perlu revisi karena kurangnya pemahaman terhadap format yang sesuai dengan regulasi. Kesalahan ini menyebabkan keterlambatan pencairan dana.

Dalam penyusunan RAB, masih banyak Pokmas yang menetapkan harga yang tidak sesuai dengan standar pasar, sehingga memerlukan revisi berulang. Selain itu, setelah dana dicairkan, Pokmas sering mengalami kesulitan dalam belanja barang karena harga di lapangan berbeda dengan yang tertera di RAB, kurangnya pemahaman prosedur pengadaan, serta kendala administratif.

Regulasi pengadaan barang yang kurang fleksibel juga menjadi masalah. Pokmas harus mengikuti prosedur ketat, termasuk dalam pemilihan penyedia barang dan pelaporan transaksi, yang menjadi beban administratif bagi mereka. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi terhadap regulasi hibah kebudayaan agar lebih fleksibel tanpa mengurangi transparansi.

Pentingnya Pendampingan yang Lebih Intensif

Pendampingan terhadap Pokmas menjadi aspek krusial dalam efektivitas hibah kebudayaan. Pendampingan sebaiknya dimulai sejak tahap awal, terutama dalam penyusunan proposal dan RAB. Dengan adanya fasilitator aktif, kesalahan dapat diminimalisir sehingga tidak perlu melalui proses revisi yang panjang.

Selain itu, Pokmas perlu mendapatkan bimbingan dalam tata cara pengadaan barang agar sesuai aturan yang berlaku. Proses penyusunan LPJ juga memerlukan sistem pendampingan agar tidak mengalami keterlambatan. Solusi yang dapat diterapkan adalah penyederhanaan format LPJ dan penyediaan template standar yang mudah dipahami.

Peran pemerintah daerah dalam mendampingi Pokmas harus lebih aktif. Pendampingan tidak hanya dilakukan di awal program tetapi harus berlanjut hingga implementasi dan pelaporan hibah. Diperlukan tenaga pendamping profesional dari pemerintah daerah, akademisi, atau pihak lain yang memahami tata kelola hibah kebudayaan.

Pendampingan yang intensif dan berkelanjutan memastikan hibah kebudayaan dapat dimanfaatkan secara optimal. Dengan bimbingan yang tepat, Pokmas tidak hanya dapat menjalankan program dengan baik tetapi juga meningkatkan kapasitas dalam tata kelola keuangan dan administrasi.

Solusi untuk Meningkatkan Efektivitas Hibah Kebudayaan

Peningkatan efektivitas hibah kebudayaan memerlukan sejumlah perbaikan dalam sistem pendampingan dan regulasi. Salah satu langkah utama adalah meningkatkan kapasitas Pokmas dalam penyusunan proposal. Pelatihan teknis diperlukan agar mereka memahami tata cara penyusunan proposal yang benar.

Pendampingan dalam penyusunan RAB juga harus diperkuat. Kesalahan dalam RAB sering kali menyebabkan keterlambatan pencairan dana, sehingga Pokmas tidak dapat segera melaksanakan kegiatan budaya. Pemerintah juga perlu menyediakan daftar vendor atau penyedia barang yang terpercaya agar Pokmas tidak mengalami kendala dalam pengadaan barang.

Selain itu, pengawasan yang lebih fleksibel dan responsif harus diterapkan. Verifikasi dan pengawasan terhadap penggunaan dana hibah tidak boleh hanya bersifat administratif tetapi juga memberikan solusi bagi Pokmas yang mengalami kendala di lapangan. Evaluasi rutin harus dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan dan mencari solusi lebih efektif.

Digitalisasi sistem administrasi hibah menjadi langkah penting untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi. Proses pengajuan proposal, pencairan dana, hingga pelaporan LPJ sebaiknya dilakukan secara digital. Dengan adanya sistem digital, Pokmas dapat lebih mudah mengakses informasi dan memantau perkembangan proses hibah secara real-time.

Refocusing Anggaran dan Efisiensi Hibah Kebudayaan

Dalam menghadapi kebijakan refocusing anggaran sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025, program hibah kebudayaan perlu menyesuaikan diri agar tetap berjalan secara efektif meskipun dengan keterbatasan sumber daya. Salah satu langkah strategis adalah memastikan bahwa hibah dialokasikan secara lebih selektif dan tepat sasaran, dengan memprioritaskan kegiatan yang memiliki dampak nyata terhadap pelestarian seni dan budaya. Proses seleksi yang lebih ketat harus diterapkan untuk memastikan bahwa Pokmas yang benar-benar siap dan memiliki kapasitas administratif yang baik dapat mengakses dana hibah, sehingga program yang dijalankan tidak hanya sebatas pelaksanaan seremonial tetapi juga memiliki nilai keberlanjutan bagi masyarakat.

Selain itu, dalam situasi refocusing, efisiensi birokrasi harus menjadi perhatian utama. Penyederhanaan prosedur administrasi tanpa mengurangi transparansi perlu menjadi prioritas agar Pokmas tidak terbebani dengan persyaratan yang terlalu kompleks. Digitalisasi dalam sistem hibah, mulai dari pengajuan proposal, pencairan dana, hingga pelaporan pertanggungjawaban, harus segera diterapkan untuk mengurangi kendala teknis yang selama ini menjadi hambatan utama. Dengan sistem yang lebih sederhana dan berbasis digital, pengelolaan hibah kebudayaan dapat dilakukan secara lebih cepat, akurat, dan akuntabel.

Selain reformasi dalam aspek administrasi, pendampingan yang lebih efektif dengan sumber daya yang terbatas juga menjadi tantangan dalam kebijakan refocusing. Oleh karena itu, perlu diterapkan strategi pendampingan berbasis komunitas, di mana Pokmas yang telah berpengalaman dapat menjadi mentor bagi Pokmas lain yang baru mengakses hibah. Pemerintah daerah dapat memfasilitasi pelatihan daring atau menyediakan modul panduan standar agar Pokmas lebih mandiri dalam mengelola dana hibah. Dengan pendekatan ini, efektivitas pendampingan dapat tetap terjaga meskipun dengan keterbatasan tenaga pendamping yang tersedia.

Lebih lanjut, dalam kondisi refocusing, pengawasan terhadap hibah kebudayaan juga harus diperkuat dengan sistem evaluasi berbasis kinerja. Selain mengandalkan laporan administratif, perlu dilakukan monitoring berbasis dampak nyata di lapangan untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dialokasikan benar-benar berkontribusi dalam pelestarian budaya. Fleksibilitas dalam regulasi pengadaan barang juga perlu dipertimbangkan, agar Pokmas tidak mengalami kendala teknis yang justru dapat menghambat kelancaran pelaksanaan program. Dengan reformasi yang tepat, hibah kebudayaan dapat tetap menjadi instrumen yang efektif dalam mendukung pelestarian budaya, meskipun dalam kondisi keterbatasan anggaran akibat refocusing.

Kesimpulan

Hibah kebudayaan merupakan instrumen penting dalam menjaga kelestarian seni dan budaya daerah. Namun, tanpa sistem pendampingan yang baik dan birokrasi yang efisien, banyak Pokmas mengalami kendala administratif yang dapat menghambat efektivitas program. Oleh karena itu, peningkatan efektivitas pendampingan, penyederhanaan regulasi, serta pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan hibah menjadi langkah penting agar hibah kebudayaan benar-benar dapat dimanfaatkan secara optimal.

Dalam konteks kebijakan refocusing anggaran yang diberlakukan melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025, diperlukan penyesuaian dalam mekanisme hibah agar tetap relevan dan berdampak nyata. Selektivitas dalam pemberian hibah, efisiensi birokrasi melalui digitalisasi, serta strategi pendampingan yang inovatif menjadi kunci utama dalam mempertahankan keberlanjutan program hibah kebudayaan. Selain itu, sistem evaluasi berbasis kinerja harus diperkuat agar penggunaan dana hibah tidak hanya memenuhi aspek administratif tetapi juga memberikan dampak nyata bagi pelestarian budaya.

Dengan reformasi yang tepat, hibah kebudayaan dapat tetap menjadi solusi efektif dalam upaya pelestarian budaya di Jawa Timur dan dapat menjadi model bagi daerah lain di Indonesia. Pemerintah, akademisi, dan komunitas budaya perlu bekerja sama untuk menciptakan ekosistem hibah yang lebih transparan, efisien, dan berkelanjutan demi mendukung pengembangan seni dan budaya lokal di tengah tantangan kebijakan refocusing anggaran.


https://cakdurasim.com/artikel/hibah-kebudayaan-dan-tantangan-birokrasi-bagaimana-meningkatkan-efektivitas-pendampingan-pokmas

KOLABORASI MEMBANGUN EKOSISTEM SENI JAWA TIMUR: ANTARA HARAPAN DAN UPAYA NYATA

KOLABORASI MEMBANGUN EKOSISTEM SENI JAWA TIMUR: ANTARA HARAPAN DAN UPAYA NYATA

Oleh: Adiyanto, S.Sn, MM

Pamong Budaya Ahli Muda Disbudpar Jatim


Ekosistem seni dan budaya di Jawa Timur tak henti menjadi topik diskusi, menghadirkan berbagai perspektif tentang perkembangannya. Adalah hal yang wajar dalam iklim demokrasi untuk adanya suara-suara yang menyuarakan pandangan kritis, yang seyogianya diterima sebagai masukan berharga demi perbaikan dan kemajuan bersama di bidang kebudayaan. Artikel ini hadir untuk meluruskan dan memperkaya narasi, menyajikan gambaran utuh tentang upaya-upaya yang telah dan sedang berjalan dalam menjaga serta mengembangkan kesenian Jawa Timur.

Pemanfaatan pihak ketiga seperti event organizer (EO) dalam penyelenggaraan acara budaya, bertujuan untuk memastikan efisiensi, akuntabilitas, dan transparansi dalam pengelolaan anggaran negara. Setiap kegiatan yang didanai oleh APBD wajib dipertanggungjawabkan secara administratif dan hukum. Dengan melibatkan EO, pelaksanaan kegiatan sesuai dengan prosedur pengadaan barang dan jasa pemerintah serta aturan keuangan yang berlaku. Kehadiran EO meminimalisir potensi penyalahgunaan anggaran oleh pihak internal, karena seluruh pelaksanaan teknis, transaksi keuangan, dan laporan pertanggungjawaban menjadi tanggung jawab mitra eksternal yang diawasi oleh pihak dinas. Substansi dan konsep artistik acara tetap berasal dari kurator, seniman, dan pelaku budaya, sementara EO menjalankan fungsi manajerial dan teknis lapangan. Model kemitraan ini dianggap lebih efisien dan mengurangi risiko korupsi dibanding pengelolaan acara secara internal yang rawan konflik kepentingan.

Selain itu, keberadaan EO juga memiliki kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif. Industri event, di mana EO menjadi pemain utamanya, merupakan salah satu sektor vital yang mampu menciptakan lapangan kerja bagi berbagai profesi, mulai dari desainer, teknisi, pengisi acara, hingga pekerja logistik. Melalui berbagai acara yang diselenggarakan, EO tidak hanya menyediakan hiburan, tetapi juga mempromosikan produk dan budaya lokal kepada audiens yang lebih luas, merangsang perputaran ekonomi di sektor pariwisata, kuliner, fesyen, dan industri kreatif lainnya. Berbagai studi menunjukkan bahwa sektor ekonomi kreatif, termasuk di dalamnya industri event, memberikan sumbangan yang besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara dan daerah, serta memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah. (Sumber: Kementerian Luar Negeri RI, Berbagai Jurnal Penelitian Ekonomi Kreatif di Indonesia).

Dukungan anggaran langsung juga disalurkan melalui dana hibah kesenian kepada sanggar, kelompok masyarakat (pokmas), lembaga pendidikan seni, dan Dewan Kesenian. Dana hibah ini diperuntukkan bagi pengadaan alat-alat kesenian, penyelenggaraan pendidikan dan kegiatan seni, serta penguatan kelembagaan komunitas budaya. Dalam pelaksanaannya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur kini menerapkan pendampingan intensif agar hibah tepat sasaran, dengan memfasilitasi bimbingan dalam perencanaan hingga pelaporan penggunaan dana. Langkah ini merupakan respons proaktif atas berbagai kasus penyelewengan hibah di masa lalu. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur bekerja sama dengan Inspektorat dan Badan Pemeriksa Keuangan untuk mengawal hibah, memastikan penggunaannya sesuai peruntukan. Upaya preventif ini menunjukkan komitmen terhadap potensi penyalahgunaan anggaran kebudayaan.

Di bidang pelestarian budaya, Jawa Timur termasuk provinsi yang paling aktif mengusulkan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) ke pemerintah pusat. Hingga tahun 2024, Jawa Timur telah memiliki lebih dari 100 karya budaya yang ditetapkan sebagai WBTb Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bahkan, pada ajang Anugerah Warisan Budaya Indonesia 2024, sebanyak 13 karya budaya disetujui dan ditetapkan menjadi WBTb nasional. Prestasi ini tidak lepas dari peran tim ahli, akademisi, dan pegiat budaya lokal yang bekerja sama dalam mendokumentasikan dan mengusulkan warisan-warisan leluhur. Di aspek cagar budaya atau warisan benda, Jawa Timur juga menerima 5 sertifikat penetapan Cagar Budaya Peringkat Nasional dari Kemendikbudristek, jumlah terbanyak se-Indonesia. Penetapan ini berarti objek-objek tersebut dilindungi undang-undang dan diperhatikan kelestariannya dengan standar tinggi. Inventarisasi dan fasilitasi terus dilakukan agar situs-situs bersejarah di Jawa Timur terjaga, serta melibatkan akademisi, pelaku seni, dan budayawan untuk menentukan kebijakan perlindungan cagar budaya daerah. Hal ini menunjukkan kolaborasi antara pemerintah, tim ahli, akademisi, dan komunitas seniman-budayawan dalam melestarikan warisan budaya.

Kiprah para seniman daerah di tingkat nasional juga menunjukkan ekosistem seni yang produktif. Beberapa tokoh budaya asal Jawa Timur telah meraih penghargaan bergengsi di kancah nasional, seperti dalam ajang Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2024. Prestasi ini tak lepas dari peran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur serta pelaku seniman budayawan yang mengusulkan nama-nama tersebut ke tingkat pusat, menunjukkan upaya aktif mendorong seniman daerah mendapat pengakuan. Pencapaian ini mencerminkan bahwa sistem pembinaan dan perhatian pemerintah memberikan hasil konkret.

Terkait infrastruktur seni, pengelolaan fasilitas seperti Taman Budaya Jatim (Surabaya), Taman Candra Wilwatikta (Pasuruan), Museum Mpu Tantular (Sidoarjo), dan Taman Krida Budaya Jatim (Malang) terus diupayakan revitalisasi dan optimalisasi fungsinya untuk mendukung kegiatan seni secara aktif.

Penting untuk diingat bahwa upaya menjaga dan mengembangkan ekosistem seni budaya adalah sebuah proses yang dinamis. Tidak ada satu pun model yang sempurna, dan adaptasi terhadap perubahan zaman serta kebutuhan komunitas menjadi kunci keberlanjutan. Diskusi dan dialog yang konstruktif antara pemerintah, seniman, budayawan, akademisi, dan masyarakat umum adalah fondasi untuk mencapai tujuan bersama ini. Dengan semangat kebersamaan, segala tantangan dapat diatasi dan potensi besar seni budaya Jawa Timur dapat terus digali dan disalurkan.

Pembentukan forum-forum komunikasi yang lebih intensif antara pemangku kepentingan, seperti dialog rutin, lokakarya, atau platform daring, dapat menjadi sarana efektif untuk menampung aspirasi, merumuskan kebijakan, dan mengevaluasi program yang ada. Keterbukaan informasi dan transparansi dalam setiap tahapan, mulai dari perencanaan hingga evaluasi, akan membangun kepercayaan dan meminimalkan kesalahpahaman. Dengan demikian, setiap kritik yang muncul dapat menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar keluhan tanpa arah.

Kritik dari berbagai pihak dipandang sebagai cermin untuk melihat apa yang masih kurang dan harus dibenahi. Suara kritis ini disambut sebagai vitamin bagi perbaikan, dan penting untuk melihatnya dalam konteks fakta di lapangan secara menyeluruh. Daripada saling berhadapan secara konfrontatif, ajakan kolaborasi selalu terbuka untuk menemukan solusi. Dengan memahami tantangan sekaligus mengapresiasi capaian yang sudah diraih, diharapkan dapat melangkah maju secara lebih proporsional. Ekosistem seni Jawa Timur adalah milik bersama, dan semua pihak memiliki peran dalam merawatnya. Melalui kolaborasi yang sinergis, optimisme muncul bahwa iklim seni budaya Jawa Timur akan semakin subur, dengan program pemerintah yang tepat sasaran, seniman yang berkembang dan sejahtera, serta masyarakat yang semakin menikmati kekayaan budaya daerah sendiri. Gotong royonglah yang akan membangkitkan kembali marwah ekosistem seni Jawa Timur untuk jangka panjang, secara sehat dan berkelanjutan. 

https://cakdurasim.com/artikel/kolaborasi-membangun-ekosistem-seni-jawa-timur-antara-harapan-dan-upaya-nyata



22 Oct 2023

Daksa Budaya, Aplikasi Perlindungan Kebudayaan dan Inventarisasi Budaya Jatim

 


https://pesonajawatimur.com/daksa-budaya-aplikasi-perlindungan-kebudayaan-dan-inventarisasi-budaya-jatim/


Daksa Budaya, Aplikasi Perlindungan Kebudayaan dan Inventarisasi Budaya Jatim

Oleh : Adiyanto

Pamong Budaya Disbudpar Prov. jatim

 

Amanat Undang-Undang No 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, didalamnya menyatakan terkait perlindungan kebudayaan salah satunya terkait inventarisasi data. Namun amanat Undang Undang tersebut belum dapat dipetakan dalam kerangka yang lebih mudah. Usaha untuk inventarisaasi data yang bisa dilakukan salah satunya adalah program kegiatan pendataan. Inventarisasi data sebagai wujud dari perlindungan kebudayaan  dengan mewujudkan Sistem Pendataan Kebudayaan Terpadu yang dapat diakses oleh masyarakat dan terus diperbarui berdasarkan masukan dari para praktisi dan pengguna.

Daksa Budaya adalah aplikasi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur khususnya Bidang Kebudayaan yang memuat informasi dan publikasi kebudayaan yang berisikan data kebudayaan antara lain, event budaya, sarana dan prasarana budaya, warisan budaya takbenda dan yang lainnya terkait dengan kebudayaan dari 38 (tiga puluh delapan) Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Jawa Timur. Daksa berasal dari Bahasa Sansekerta yang bermakna ahli, Daksa Budaya juga merupakan akronim dari Data Kebudayaan dan Sistem Aplikasi Budaya. Daksa Budaya merupakan salah satu bentuk implementasi Disbudpar Jatim khususnya Bidang Kebudayaan dalam melakukan upaya pelindungan kebudayaan yakni melalui inventarisasi data. Aplikasi Daksa Budaya diharapkan menjadi platform data digital yang akan menyebarluaskan data kebudayaan secara masif kepada masyarakat, dapat pula menjadi dasar kebijakan bagi pemerintah melalui dinamika data budaya yang dimiliki Disbudpar Jatim khususnya Bidang Kebudayaan.

Menurut saya aplikasi digital seperti Daksa Budaya  merupakan sebuah terobosan yang sangat penting dan relevan untuk pemajuan kebudayaan dalam era digital seperti saat ini. Dengan adanya aplikasi Daksa Budaya tersebut, kita dapat menggali, melestarikan, dan mempromosikan keberagaman budaya khususnya di Jawa Timur. Ini adalah peluang besar untuk memperkuat identitas budaya, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap warisan budaya, dan mendukung pengembangan kegiatan kebudayaan secara berkelanjutan sebagai wujud dari pemajuan kebudayaan. Secara keseluruhan, aplikasi Daksa Budaya memiliki potensi besar untuk memajukan kebudayaan dengan cara yang berkelanjutan dan terarah. Dalam era digital yang semakin maju, kebudayaan merupakan aset tak ternilai bagi suatu bangsa. Melalui beragam ekspresi seni, tradisi, dan nilai-nilai budaya, sebuah masyarakat dapat mengekspresikan identitasnya serta mengenali dan menghargai perbedaan dengan masyarakat lain.

Salah satu keuntungan utama dari aplikasi Daksa Budaya adalah memungkinkan akses informasi budaya yang mudah dan cepat bagi masyarakat luas. Dengan menghadirkan informasi diantaranya mengenai seni budaya, warisan budaya, tradisi budaya, dan lainnya terkait dengan budaya. Aplikasi ini memperluas pemahaman masyarakat tentang identitas budaya mereka sendiri serta memungkinkan mereka untuk memahami kebudayaan orang lain dengan lebih baik. Hal ini, pada gilirannya, akan meningkatkan toleransi, saling pengertian, dan kerjasama antarbudaya.

Selain itu, aplikasi Daksa Budaya dapat menjadi sarana untuk mendorong generasi muda untuk lebih mengenal, menghargai, dan mengambil bagian dalam budaya mereka sendiri. Dengan dukungan teknologi dan penggunaan media yang luas, aplikasi ini memiliki potensi untuk menarik perhatian anak muda, membantu mengatasi risiko kepunahan budaya, serta menghidupkan kembali praktik dan tradisi yang mulai terpinggirkan oleh perkembangan modernisasi. Aplikasi ini tidak hanya untuk konsumsi bagi Jawa Timur akan tetapi aplikasi ini juga dapat menjadi jendela dunia bagi kebudayaan suatu bangsa. Dengan penggunaan bahasa yang mudah dipahami dan tampilan yang menarik, aplikasi ini dapat menarik perhatian pengunjung dari berbagai wilayah. Dengan demikian, pemajuan kebudayaan dapat ditingkatkan, membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat serta meningkatkan citra positif suatu bangsa di mata dunia.

Tentu saja, aplikasi Daksa Budaya harus dibangun dengan berhati-hati dan dengan mengedepankan partisipasi masyarakat secara luas. Melibatkan para ahli budaya, seniman, dan komunitas lokal dalam proses pendataan adalah kunci untuk menghadirkan informasi yang akurat dan menyeluruh. Keterlibatan masyarakat juga dapat memberikan rasa memiliki terhadap aplikasi ini, sehingga diharapkan akan lebih banyak orang yang aktif berkontribusi untuk memastikan keberlanjutan dan pengembangan aplikasi ini.

Namun, perlu diingat bahwa aplikasi Daksa Budaya bukanlah tujuan akhir, tetapi hanya sebuah alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar, yaitu melestarikan, mempromosikan, dan memajukan kebudayaan sebagai wujud seperti yang di amanatkan dalam Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. Oleh karena itu, selain menginventarisasi data budaya, perlu ada upaya konkret untuk mendukung seniman dan pelaku budaya, menyediakan fasilitas untuk pelestarian seni budaya, serta menghadirkan edukasi budaya secara menyeluruh di masyarakat.

Aplikasi Daksa Budaya, dalam teorinya, mungkin tampak sebagai langkah maju untuk memajukan kebudayaan. Namun, seperti banyak aplikasi teknologi lainnya, aplikasi seperti ini juga memiliki kelemahan tujuan sebenarnya untuk pemajuan kebudayaan. Diantaranya adalah penggantian nilai tradisional dengan teknologi. Aplikasi Daksa Budaya berpotensi menggantikan interaksi langsung dengan nilai-nilai budaya tradisional dengan teknologi. Dalam mengandalkan aplikasi, generasi muda mungkin kehilangan pengalaman belajar dan menghayati kebudayaan melalui interaksi fisik dan pengalaman langsung dengan para sesepuh atau tokoh budaya.

Aplikasi ini mungkin hanya menyajikan gambaran permukaan tentang kebudayaan, tanpa mampu menangkap esensi dan kedalaman dari tradisi-tradisi budaya tersebut. Pengguna aplikasi mungkin merasa puas hanya dengan mengetahui hal-hal dasar tanpa benar-benar memahami atau mengalami kehidupan sehari-hari dalam kebudayaan tersebut. Aplikasi ini mungkin dapat mengurangi interaksi sosial dalam memajukan kebudayaan. Penting untuk diakui bahwa budaya sering kali ditransmisikan melalui interaksi langsung antara generasi yang lebih tua dan muda, tetapi aplikasi ini dapat menyebabkan pengurangan dalam pertukaran pengetahuan budaya secara lisan. Meskipun aplikasi Daksa Budaya mungkin memiliki beberapa manfaat, perlu juga diakui potensi dampak negatifnya. Penting untuk selalu mempertimbangkan keseimbangan antara teknologi dan kebudayaan, serta mendekati inovasi digital dengan hati-hati agar tujuan pemajuan kebudayaan tetap terjaga dan nilainya tidak terkikis. Sementara aplikasi Daksa Budaya mungkin menawarkan beberapa manfaat dalam upaya memajukan kebudayaan, penting untuk secara kritis mempertimbangkan dan mencari cara-cara yang lebih seimbang untuk melestarikan dan menghargai kekayaan budaya tanpa kehilangan esensinya.

Secara keseluruhan, aplikasi Daksa Budaya memiliki potensi besar dalam memajukan kebudayaan dengan cara yang inklusif dan berkesinambungan. Dengan mendorong kolaborasi, pelestarian, dan pemanfaatan teknologi, dengan kelebihan dan kekurangannya aplikasi ini membuka pintu bagi keberlanjutan perkembangan budaya. Namun, implementasi yang bijaksana dan perhatian terhadap aspek privasi, pelibatan masyarakat luas menjadi kunci kesuksesan agar aplikasi ini benar-benar menjadi alat yang bermanfaat dan mendukung pemajuan kebudayaan secara berkelanjutan.

 

https://pesonajawatimur.com/daksa-budaya-aplikasi-perlindungan-kebudayaan-dan-inventarisasi-budaya-jatim/


EKSISTENSI WAYANG KULIT: ANTARA TRADISI DAN TRANSFORMASI DI ERA MILENIAL



https://www.pewartapos.com/eksistensi-wayang-kulit-antara-tradisi-dan-transformasi-di-era-milenial/ 


EKSISTENSI WAYANG KULIT: ANTARA TRADISI DAN TRANSFORMASI DI ERA MILENIAL

Penulis : Adiyanto

Pamong Budaya Ahli Muda

 

Wayang kulit, seni pertunjukan tradisional Indonesia yang kaya akan sejarah dan makna, sedang menghadapi tantangan besar dalam menjaga eksistensinya di era milenial ini. Meskipun dianggap sebagai salah satu warisan budaya tak benda dunia oleh UNESCO, seni wayang kulit kini perlu menghadapi berbagai dinamika yang ada dalam masyarakat modern. Namun, perjuangan untuk tetap eksis harus dianggap sebagai suatu usaha berharga yang patut kita dukung. Wayang kulit, dengan segala keindahan dan kompleksitasnya, telah menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas budaya Indonesia. Namun, di tengah kemajuan teknologi yang memudahkan aksesibilitas informasi dan hiburan, banyak generasi muda cenderung lebih tertarik pada hal-hal yang lebih modern dan instan. Oleh karena itu, perjuangan wayang kulit untuk tetap relevan di era milenial adalah suatu keniscayaan.

Di era milenial ini, eksistensi wayang kulit bertransformasi dan menemukan cara untuk tetap relevan. Salah satu faktor kunci dalam menjaga eksistensinya adalah adaptasi terhadap teknologi. Pertunjukan wayang kulit kini dapat diakses secara daring melalui berbagai platform digital. Hal ini memungkinkan generasi milenial untuk mengakses dan mengapresiasi seni ini tanpa harus menghadiri pertunjukan langsung. Selain itu, wayang kulit juga berperan dalam mendukung pariwisata budaya di Indonesia. Banyak wisatawan dari seluruh dunia tertarik untuk menyaksikan pertunjukan wayang kulit dan mempelajari tentang budaya Indonesia melalui seni ini. Ini memberikan peluang ekonomi bagi komunitas wayang kulit dan juga membantu melestarikan tradisi ini.

Meskipun dihadapkan pada tantangan ini, wayang kulit telah menunjukkan ketahanannya. Sebagian besar kelompok seniman dan dalang telah berupaya keras untuk beradaptasi dengan perubahan zaman. Mereka tidak hanya mempertahankan tradisi wayang kulit, tetapi juga mencoba untuk menghadirkan inovasi dan kreasi baru yang relevan dengan zaman saat ini. Beberapa di antaranya telah menggunakan media sosial dan teknologi modern untuk memperluas jangkauan penonton mereka.

Namun, penting untuk diingat bahwa eksistensi wayang kulit tidak hanya tentang transformasi teknologi. Ini juga tentang bagaimana masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, dapat terlibat dalam melestarikan dan menghormati warisan budaya ini. Sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan dapat memasukkan pembelajaran tentang wayang kulit dalam kurikulum mereka, sehingga generasi milenial memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang nilai budaya ini.

Kita harus menghargai bahwa wayang kulit bukan hanya bentuk seni yang indah, tetapi juga sarana untuk menyampaikan nilai-nilai dan moral yang berharga. Eksistensinya di era milenial ini menunjukkan bahwa budaya dan tradisi kita memiliki daya tahan yang kuat, asalkan kita mau beradaptasi dengan zaman. Mencintai dan melestarikan wayang kulit adalah cara kita menjaga akar budaya kita yang kaya dan merayakan keunikan kita sebagai bangsa Indonesia.

Di tengah laju modernisasi dan globalisasi, eksistensi wayang kulit menjadi terancam. Generasi milenial yang tumbuh dalam era digital cenderung lebih tertarik pada hiburan yang lebih kontemporer seperti media sosial, streaming, dan video game. Hal ini menuntut para dalang (pemain wayang) untuk mencari cara-cara baru untuk menarik perhatian generasi muda. Mereka harus mengintegrasikan elemen-elemen teknologi dan mengemas pertunjukan wayang dalam format yang lebih modern, seperti menggunakan animasi, video mapping, atau mengadopsi cerita-cerita yang lebih relevan dengan isu-isu kontemporer.

Namun, perjuangan wayang kulit untuk tetap eksis di era milenial bukanlah semata-mata tugas para dalang. Pemerintah, lembaga budaya, dan masyarakat juga harus berperan aktif dalam mendukung pelestarian seni budaya ini. Ini dapat dilakukan melalui pendanaan untuk pelatihan dan pendidikan bagi generasi muda yang tertarik untuk menjadi dalang, penyelenggara festival dan pertunjukan wayang, serta kampanye pendidikan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan warisan budaya kita.

Selain itu, kita juga perlu menghargai nilai-nilai yang terkandung dalam wayang kulit, seperti moralitas, kebijaksanaan, dan solidaritas. Seni wayang bukan hanya pertunjukan, tetapi juga merupakan cerminan nilai-nilai budaya kita yang kaya. Oleh karena itu, menjaga eksistensi wayang kulit adalah upaya untuk melestarikan identitas dan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia.

Dalam menghadapi tantangan eksistensi di era milenial ini, wayang kulit membutuhkan dukungan penuh dari seluruh elemen masyarakat. Kita harus melihatnya sebagai bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya kita yang harus dijaga dan diperbarui agar tetap relevan. Dengan upaya bersama, wayang kulit akan terus bersinar dan tetap menjadi bagian penting dari budaya Indonesia yang kita cintai. penting bagi kita untuk menggabungkan tradisi dengan transformasi. Wayang kulit memiliki potensi yang besar untuk terus menginspirasi, mendidik, dan menghubungkan kita dengan budaya kita yang kaya. Mari kita bersama-sama menjaga warisan budaya kita ini agar tetap hidup dan berkembang di era yang terus berubah ini.

https://www.pewartapos.com/eksistensi-wayang-kulit-antara-tradisi-dan-transformasi-di-era-milenial/

9 Jun 2023

MENGHITUNG HARI ORANG MENINGGAL TRADISI JAWA (KI ADIYANTO)


 MENGHITUNG HARI ORANG MENINGGAL TRADISI JAWA (KI ADIYANTO)

 

Tingkatan Hari Peringatan Orang Meninggal adalah Geblag, Nelung Ndina, Mitung Ndina, Matangpuluh, Nyatus, Mendak Sepisan, Mendak Pindho, Nyewu Dina.

 

1.   Geblag hitunganya JISARJI yang harus dilaksanakan saat itu juga.

2.   Nelung Dino hitunganya LUSARLU yaitu hari ketiga dan pasaran ketiga

3.   Mitung Dina hitungannya TUSARO, yaitu hari ketujuh dan pasaran kedua.

4.   Matangpuluh hitungannya MOSARMO yaitu hari kelima dan pasaran kelima.

5.   Nyatus Dina hitungannya ROSARMO yaitu hari kedua dan pasaran kelima.

6.   Mendhak Sepisan hitungannya PATSARPAT, yaitu hari keempat dan pasaran keempat.

7.   Mendhak Pindho hitungannya JISARLU yaitu hari kesatu dan pasaran ketiga.

8.   Nyewu hitungannya SINDURO NEMSARMO, yaitu Bulan mundur loro, dan hari keenam dan pasaran kelima.

 

 

 

CARA MENGHITUNGNYA

 

1.   Menghitung 3harinya Contoh: misal matinya Jum’at Legi di hitung 1-2 jadi Sabtu Pon

2.   Menghitung 7 harinya Contoh : misal matinya hari Jum’at Legi , di hitung 6 hari berarti Rabu Pahing  

3.   Menghitung 40 harinya Contoh: di hitung 1 bulan penuh di tambah 3 hari, misal matinya hari Jum’at legi dihitung sampai Jum’at Legi lagi trus di tambah 3 hari yaitu Sabtu,Minggu, Senin Wage malam

4.   Menghitung 100 harinya Contoh: di hitung dari bulan matinya sampai 3 bulan di tambah 10 hari lebih tepatnya 4 bulan di hitung mulai hari 1 di bulan ke 4 sampai 10 hari dan di cocokkan dengan ROSARMO hari dan pasaran. Misal matinya hari Jum’at Legi dihitung Jum’at, Sabtu  pasaran Pahing, Pon, Wage, Kliwon, jagi ketemu hari Sabtu Kliwon

5.   Menghitung         Mendhak  Sepisan/ satu tahun Contoh: misal matinya di bulan Sura dihitung sampai 1 tahun tepat bulan Sura lagi. Lalu di cocokkan dengan hari matinya, misal hari matinya Jum’at legi dihitung dengan PATSARPAT yaitu 4 hari 4 pasaran, ketemu hari Senin Wage 1 tahun matinya.

6.   Menghitung         Mendhak  Pindho Contoh: misal matinya di bulan Sura dihitung sampai 2 tahun tepat bulan Sura lagi. Lalu di cocokkan dengan hari matinya, misal hari matinya Jum’at legi dihitung dengan JISARLU yaitu 1 hari 3 pasaran, ketemu hari Jum'at Pon 2 tahun matinya.

7.   Menghitung 1000 harinya Contoh: dihitung 35 bulan dimulai dari bulan matinya, misal matinya di bulan Sura sampai 35 bulan, lalu di cocokkan hari matinya, misal matinya hari Jum’at Legi dihitung SINDURO NEMSARMO yaitu, Bulan mundur luro  Dulkaidah, dan 6 hari 5 pasaran, ketemu hari Selasa Legi pas 1000 harinya.

2 Nov 2022

Kajian Serat Wulangreh Tembang Wirangrong (notasi tembang wirangrong sl dan pl)

 

SARASEHAN MACAPAT ANGGARA KASIH,

Pada Senin, 1 Agustus 2022

DI dispendik kabupaten sidoarjo

 

Kajian Serat Wulangreh Tembang Wirangrong

Pada (bait) ke-117;118, Pupuh ke-8, Wirangrong, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.

Den samya marsudeng budi,
weweka dipun waspaos.
Aja dumeh bisa muwus,
yen tan pantes ugi,
sanadyan mung sekecap,
yen tan pantes prenahira.

Kudu golek masa ugi,
panggonan lamun miraos.
Lawan aja age sira muwus,
durunge den kaesthi.
Aja age kawedal,
yen durung pantes lan rowang.

 Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Harap semua memperbagus akal budi,
kehati-hatian harus selalu diwaspadai (agar tak tertinggal).
Jangan mentang-mentang bisa bicara,
kalau tak pantas juga,
walau hanya satu ucapan,
kalau tak pantas letaknya.

Harus mencari saat (yang tepat) juga,
tempatnya kalau mau curhat.
Dan jangan lekas engkau bicara,
sebelum dipikirkan.
Jangan tergesa untuk melahirkan (isi hati),
kalau belum pantas di dengar teman curhatnya.

 

 

 

Kajian per kata:

Den (harap) samya (semua) marsudeng (memperbagus) budi (akal budi), weweka (kehat-hatian) dipun (di) waspaos (waspadai, dilihat dengan teliti, waskitha). Harap semua memperbagus akal budi, kehati-hatian harus selalu diwaspadai (agar tak tertinggal).

Harap semua memperbagus, meningkatkan, melakukan upaya pemuliaan, terhadap akal budi. Kehati-hatian selalu diwaspadai agar tidak hilang dari hati. Karena kehati-hatian diperlukan setiap saat agar tidak terpeleset dalam perbuatan tercela. Dalam kaitannya dengan bahaya dari sifat-sifat buruk yang timbul dari lidah, kita harus selalu berhati-hati. Salah satunya terhadap sifat buruk berikut ini.

Aja (jangan) dumeh (mentang-mentang) bisa (bisa) muwus (bicara), yen (kalau) tan (tak) pantes (pantas) ugi (juga), sanadya (walaupun) mung (hanya) sekecap (satu ucapan), yen (kalau) tan (tak) pantes (pantas) prenahira (letaknya). Jangan mentang-mentang bisa bicara, kalau tak pantas juga, walau hanya satu ucapan, kalau tak pantas letaknya.

Mengenai berbicara sembarangan kita sudah mengoleksi beberapa istilah yang berkaitan, nyacat, maoni, ngrasani, mada. Itu semua jelas harus ditinggalkan tanpa pengecualian. Oleh karena itu jika hendak berbicara harus melihat kepantasan. Apakah pembicaraan kita nanti masuk ke dalam salah satu sifat buruk di atas. Hal ini hendaknya selalu diperhatikan, lebih baik berhati-hati dan menahan diri. Jangan sampai hanya karena sepatah kata diri kita menjadi hina.

Kudu (harus) golek (mencari) masa (saat) ugi (juga), panggonan (tempat yang tepat) lamun (kalau) miraos (curhat, mencurahkan isi hati).  Harus mencari saat (yang tepat) juga, tempatnya kalau mau curhat.

Namun ada kalanya kita memerlukan teman untuk berbagi rasa, mencurahkan isi hati, bercakap secara pribadi dengan seseorang. Hal ini umum terjadi karena kadang orang memerlukan nasihat atau pun hanya sekedar menumpahkan perasaan.

Jika kita ingin melakukan hal di atas, maka perlu berhati-hati juga. Carilah waktu dan tempat yang baik. Jangan sembarang waktu dan tempat karena bisa terdengar oleh orang yang tidak berkepentingan.

Lawan (dan) aja (jangan) age (lekas) sira (engkau) muwus (bicara), durunge (sebelum) den kaesthi (dipikirkan). Dan jangan lekas engkau bicara, sebelum dipikirkan.

Selain harus memilih waktu dan tempat, juga perlu dipikirkan dahulu apa yang akan dibicarakan. Jangan cepat-cepat menumpahkan perasaan, rileks saja dahulu. Tergesa-gesa takan membuat celaka dan kontrol diri hilang.

Aja (jangan) age (cepat, tergesa) kawedal (terlahir), yen (kalau) durung (belum) pantes (pantas) lan rowang (didengar teman). Jangan tergesa untuk melahirkan (isi hati), kalau belum pantas di dengar teman curhatnya.

Menurut para ahli, tembang macapat ada bermacam-macam jumahnya, di dalam Widyaswara dan Serat Mardawa Lagu , tembang macapat terdapat delapan jenis, antara lain: pucung, dandanggula, sinom, pangkur, asmaradana, kinanti, durma, dan mijil (Sastrasuwignya dan Moelyono, 1981 :23-25).

Menurut Sarining Kasusastran Djawa, tembang macapat terdiri atas sembilan jenis, yaitu semua jenis tembang yang terdapat di dalam Widyaswara ditambah maskumambang (Subalidinata, 1968: 89).

Di samping itu, menurut "Serat Purwaukara", Kasusaslran Djawi I (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 1946:29), Ngengrengan Kasusastra Djawa I (Padmosoekotjo, 1958: 17), dan Pengantar Puisi Djawa (Darnawi, 1964: 13) tembang macapat berjumlah sembilan jenis.

Selanjutnya, menurut buku yang berjudul Purwakanthi, tembang macapat terdiri atas sepuluh jenis, yaitu semua jenis tembang yang terdapat di dalam Sarining Kasusastran Djawa dilambah dengan megatruh atau dudukwuluh (Mangunwidjaja, 1992: (19). Hal itu terdapat juga di dalam Panglipur (Sasrasumarta, 1931 :3-21) dan kasusatran djawa I (Samidjo, 1975: 13).

Menurut buku yang berjudul Himpunan Tembang Mataraman, tembang macapat terdiri atas sebelas jenis, yaitu seperti pada jenis tembang yang terdapat di dalam Purwakanthi ditambah dengan gambuh (Madukusuma, 1980:3-54). Hal itu terdapat juga dalam Mbombong Manah I (Tedjohadisumarto, 1958:5), Serat Sekar Macapat (Bratadipura dkk .), Dasar Kasusastran Jawi (Soetetarno dan Hadisubrata, 1974:27), "Serat Kasusastran Jawa" (Hadisubrata, 1974:73), dan "Sekar Alit/ Macapat, Sekar Tengahan, Sekar Ageng, Lagon-Lagon".

Menurut Tata Sastra, tembang macapat terdiri atas lima belas jenis, yaitu seperti pada jenis tembang yang terdapat di dalam Himpunan Tembang Mataraman ditambah dengan balabak, jurudemung, wirangrong. dan gurisa atau girisa (Hadiwidjana. 1967:54). Hal itu terdapat juga di dalam Pathokaning Nyekaraken (Hardjowirogo. 1952: 9-12, 18-19). "Teori Tembang Jawi" (Sugiyo. 1978:9--10) dan Sekar Macapat (Arintoko. 1981:3).

KESIMPULAN MAKNA TEMBANG

Jangan terlalu cepat mengatakan, pikirkan juga soal kepantasan. Lihat dan perhatikan juga teman curhat yang ada. Pilihlah orang yang bisa diajak bicara, bisa menjaga rahasia, sanggup memberi wawasan dan tidak picik. Memilih orang yang salah dapat mendatangkan bencana, meski kelihatan sepele, curhat bisa jadi salah satu bahaya yang berkaitan dengan lidah. Waspadalah, untuk jaman sekarang atau pada saat ini sangat sulit melakukan, mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini banyak sekali orang yang mengkritik dengan kebencian,lewat kabar hoak, (maido). Banyak bicara tidak bisa melakukan (akeh ngendikane dianggep jarkoni, iso ngujar ora iso nglakoni).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

WIRANGRONG

Laras Slendro Patet Sanga

 

 3   2  3   1   3  2    56  6

DEN SA-MYA MAR-SU-DENG   BU-  DI

 

5   6  !  !  !   !    !@!  ^%

WE-WE-KA DI-PUN-WAS-    PA-    OS

 

3  5 3  5   6  !  !   !

A-JA DU-MEH  BI-SA MU-WUS

 

!    !  6    6   6!6  53

YEN TAN PAN-TES      U-      GI

 

23 5   6    6    !  !  !

SA-NA-DYAN MUNG SA-KE-CAP

 

5    5   3   3  5   2   321  1

YEN TAN PAN-TES PRE-NAH    I-     RA

 

 

 

 

 

 

 

 

WIRANGRONG

Laras Pelog Patet Nem

 

 3   2  3   1   3  2    16  6

DEN SA-MYA MAR-SU-DENG   BU-  DI

 

5   6  !  !  !   !    !@!  65

WE-WE-KA DI-PUN-WAS-    PA-    OS

 

3  5 3  5   3  5 6!   !

A-JA DU-MEH  BI-SA MU-WUS

 

!    @   !   6    6   54

YEN TAN PAN-TES      U-      GI

 

24 4   4    56  56   23 21

SA-NA-DYAN MUNG SA-    KE-CAP

 

3    2  1    y  3    2  321   1

YEN TAN PAN-TES PRE-NAH    I-     RA