download Tinjauan Seni karawitan PDF
RUMAH SENI BUDAYA, SEKAR ADI WIRAMA, SALAM BUDAYA, MARI KITA MELESTARIKAN ( MELINDUNGI, MEMBINA, MENGEMBANGKAN, DAN MEMANFAATKAN SENI BUDAYA................ SEBAGAI ASET BUDAYA BANGSA............. SERTA UNTUK ANAK CUCU KITA SEBAGAI GENERASI PENERUS BANGSA................ MATURNUWUN.....TERIMA KASIH.... SALAM BUDAYA
15 Jul 2020
9 Jul 2020
PANDUAN PENILAIAN PAMONG BUDAYA 2020 JATIM
SOP PENILAIAN
JABATAN FUNGSIONAL PAMONG BUDAYA
2019-2020
1. Pejabat fungsional yang bersangkutan mengumpulkan berkas penilaian ke sekretariat tim penilai, diantaranya :
a. Pengumpulan berkas penilaian ke sekretariat tim penilai dapat dilakukan kapan saja, dengan syarat bukti fisik yang dinilaikan mempunyai minimal rentang waktu 1 semester dan maksimal 2 semester atau 1 tahun sesuai dengan prosedur yang ada;
b. Dupak terakhir yang sudah pernah dinilaikan;
c. Bukti fisik yang akan dinilaikan di berikan Form bukti fisik dalam setiap butir kegiatan di PermenpanRB nomor : 7 tahun 2020 tentang Jabatan Fungsional Pamong Budaya.
d. Untuk pamong budaya yang menilaikan dari luar instansi induk tim penilai, dilengkapi surat pengantar kepala dinas atau bkd pamong budaya bersangkutan yang ditujukan kepada Kadisbudpar Prov. Jatim.
2. Sekretariat menginformasikan kepada tim penilai, bahwa ada pejabat fungsional yang akan melakukan penilaian.
3. Tim penilai melakukan penilaian, dengan proses :
a. Tim penilai akan melakukan penilaian sesuai dengan prosedur;
(lampiran prosedur)
b. Dupak yang tidak lolos penilaian, akan di berikan catatan dan di kembalikan ke jabfung melewati sekretariat tim penilai, untuk di perbaiki jabfung yang bersangkutan;
c. Dupak yang sudah lolos penilaian, sebelum di tandatangani akan di kembalikan ke jabfung untuk dibuatkan surat pernyataan melewati sekretariat tim penilai untuk dimintakan tanda tangan ke ketua tim penilai dan kepala dinas.
d. Dupak dan Surat pernyataan yang telah ditandatangani dicopy rangkap empat sebagai dokumen ( sekretariat tim penilai, tim penilai, jabfung yang bersangkutan dan gudang penyimpanan berkas)
e. Dupak yang telah memenuhi syarat kredit poin dibuat PAK sebanyak rangkap empat (4) untuk pengurusan kenaikan pangkat.
DOWNLOAD Panduan Penilaian Pamong Budaya
20 Jun 2020
SANDHANGAN/ PAKAIAN/ BUSANA WAYANG KULIT
Sandhangan/ Pakaian/ Busana pada wayang kulit purwa berfungsi sebagai identitas atau ciri
dari suatu tokoh.
Nama-nama suatu tokoh dapat diketahui dengan melihat
komposisi busana yang dikenakannya. Busana-busana tersebut mempunyai
nama tersendiri.
Untuk lebih jelasnya lihat contoh pada gambar tokoh sandhangan/ pakaian/ busana wayang kulit. di bawah ini!
NAMA SANDHANGAN/ PAKAIAN/ BUSANA WAYANG KULIT BAGIAN ATAS DENGAN CONTOH WAYANG MEKUTHAN, SEPERTI BALADEWA, KRESNA, DASAMUKA, TUGU WASESA, DAN WAYANG MAKUTHAN YANG LAINNYA.
NAMA SANDHANGAN/
PAKAIAN/ BUSANA WAYANG KULIT BAGIAN BAWAH JANGKAHAN DENGAN CONTOH WAYANG JANGKAHAN,
SEPERTI BALADEWA, GATUTKACA, DASAMUKA, ANTAREJA, DAN WAYANG JANGKAHAN
YANG LAINNYA.
NAMA SANDHANGAN/
PAKAIAN/ BUSANA WAYANG KULIT BAGIAN BAWAH BOKONGAN DENGAN CONTOH WAYANG BOKONGAN,
SEPERTI KRESNA, JANAKA, RAMA, PANDU, SALYA DAN WAYANG BOKONGAN
YANG LAINNYA.
NAMA SANDHANGAN/
PAKAIAN/ BUSANA WAYANG KULIT BAGIAN ATAS DENGAN CONTOH WAYANG GELUNG,
SEPERTI JANAKA, WERKUDARA, DAN WAYANG GELUNG YANG LAINNYA.
NAMA SANDHANGAN/
PAKAIAN/ BUSANA WAYANG KULIT PUTREN DENGAN CONTOH WAYANG PUTREN,
SEPERTI SRIKANDI, SEMBADRA, BABNOWATI DAN WAYANG PUTREN YANG LAINNYA.
NAMA SANDHANGAN/ PAKAIAN/ BUSANA WAYANG KULIT RADEN WERKUDARA
SANDANGAN/ PAKAIAN/ BUSANA RADEN WERKUDARA
SANDANGAN/ PAKAIAN/ BUSANA RADEN WERKUDARA
OLEH : ADIYANTO, S.Sn, MM
Raden Werkudara berhati lembut, namun menakutkan bagi pasukan lawan. Ini merupakan karakteristik esensial bagi Raden Wrekudara atau yang biasa kita selama ini kita kenal dengan nama Bima. Sastra yang menghiasi nama “Bima” sendiri sebagai busana identitas tentunya memiliki makna tersendiri. Kata “bhīma” dalam bahasa Sanskerta memiliki arti seperti 'hebat', 'dahsyat', 'mengerikan'. Tak hanya nama, busana secara harfiah yang dikenakan tiap-tiap bagian tubuh Ksatria dengan tujuh puluh kekuatan gajah ini pun memiliki arti tersirat.
Mulai dari bagian atas kepala,
Gelung Minangkara Cinandhi Rengga yang bersifat endhek ngarep dhuwur mburi, dalam Bahasa Indonesia berarti “rendah depan tinggi belakang”. Makna yang tersirat dibalik busana ini melambangkan bahwa Bima merupakan ksatria yang enggan menyombongkan diri akan ilmu dan kekuatan yang dimilikinya. Serta dapat menunjukkan dirinya sebagai makhluk Tuhan, dan juga Tuhan sebagai penguasa yang harus disembah.
Pada bagian dahi terdapat
Pupuk Mas Rineka Jaroting Asem yang memiliki bentuk seperti akar pohon asem yang wujudnya rumit sebagai simbol bahwa Bima memiliki akal budi yang sangat maju.
Sumping Pudhak Sinumpet, mewujudkan Bima sebagai pribadi yang memiliki pengetahuan yang apik dalam teologi tetapi enggan dipamerkan kepada semua orang. Layaknya peribahasa “air tenang menghanyutkan”, Bima memiliki wawasan seluas dan sedalam samudra walaupun tampaknya tak demikian rupa. Beberapa kisah wayang yang dapat dilihat seperti pada kisah Dewa Ruci kemudian dilanjutkan dengan kisah Bima Suci. Pada kisah yang pertama diceritakan bahwa Bima bertemu dengan guru sejatinya yang mengajarkan tujuan hidup kepada Bima. Dari mana hidup tercipta, untuk apa hidup tercipta dan akan dibawa kemana hidup manusia pada akhirnya. Sedangkan pada kisah Bima Suci, Bima menjadi pertapa yang mengajarkan ilmu tersebut kepada Hanoman dan Arjuna.
Anting-anting Panunggul Maniking Toya yang menghiasi telinga Ksatria tersebut memberikan makna kejernihan dalam penglihatan mata batin Bima. Dengan hati yang terbuka ia dapat memahami berbagai macam karakter orang-orang yang ditemuinya.
Pada kedua lengan Bima terdapat perhiasan yang berbentuk belahan buah manggis yang dikenal dengan nama
Kelat Bahu Rineka Balibar Manggis Binelah Tekan Kendhagane. Perhiasan tersebut sebagai represan Raden Wrekudara dikenal memiliki hati yang tulus dan tak pernah ingkar janji.
Raden Wrekudara dikenal dapat memberi pencerahan orang lain layaknya cerah rembulan pada malam hari.
Gelang Candrakirana yang memajang pergelangan tangan Raden Wrekudara memberikan simbol bulan purnama. Hal ini melambangkan bahwa Bima adalah orang yang memiliki pengetahuan yang benar serta luas yang digunakan untuk diamalkan kepada sesama.
Kuku Pancanaka merupakan lima kuku yang sama panjangnya yang menandakan Bima merupakan orang yang mampu menyimpan berbagai macam pengetahuan. Tak hanya itu, busana ini melambangkan bahwa Bima merupakan pelindung perkasa para Pandawa.
Busana yang terdapat pada pinggang Raden Wrekudara tak lain dikenal dengan nama
Paningset Cindhe Bara Binelah Numpang Wentis Kanan Kering yang melambangkan orang yang sudah menguasai keyakinan religi dengan tuntas.
Porong Nagaraja Mungwing Dhengkul. Maknanya Bima memegang kebenaran dan memantapkan ilmu diri terhadap kritik dan pendapat orang lain.
Diantara semua, salah satu busana yang paling mengesankan yang tersirat beberapa mendalam yang sangat mendalam adalah
Kampuh Poleng Bang Bintulu. Kampuh yang mempunyai pewarnaan kotak-kotak warna merah, hitam, putih, kuning, dan hijau yang melambangkan sifat-sifat yang ada dalam diri manusia. Hal ini juga termasuk bentuk simbolisasi dan nafsu manusia, yaitu Lawwamah, Sufiah, Ammarah, dan Mutmainah. Nafsu merah dari desakan kedugingan yang berasal dari anasir api (keberanian,) nafsu hitam berasal dari anasir tanah (kekuatan), nafsu kuning berasal dari anasir suasana/udara (kesucian) dan nafsu putih yang berasal dari anasir air (kebijaksanaan). Empat nafsu tersebut merupakan pembentuk jasmani dan sifat Bima yang layaknya di dunia ini manusia harus kendalikan, atau kalahkan.
Subscribe to:
Comments (Atom)









































































































































































































