RUMAH SENI BUDAYA, SEKAR ADI WIRAMA, SALAM BUDAYA, MARI KITA MELESTARIKAN ( MELINDUNGI, MEMBINA, MENGEMBANGKAN, DAN MEMANFAATKAN SENI BUDAYA................ SEBAGAI ASET BUDAYA BANGSA............. SERTA UNTUK ANAK CUCU KITA SEBAGAI GENERASI PENERUS BANGSA................ MATURNUWUN.....TERIMA KASIH.... SALAM BUDAYA
2 Mar 2020
24 Feb 2020
BAHASA JAWA TERANCAM PUNAH
BAHASA JAWA TERANCAM PUNAH
Mengapa bahasa Jawa terancam punah? Apakah
orang Jawa tidak mempertahankan bahasanya? Atau bagaimana masyarakat Jawa itu
sendiri? Apa yang terjadi sehingga muncul pendapat semacam itu? Kiranya kita
perlu mencari sumber yang menyebabkan terjadinya pernyataan tersebut. Tidak
mungkin ada suatu pernyataan yang terungkap jika tidak ada sebab yang menjadi
gejalanya. Sehingga dapat ditemukan makna sesungguhnya dari pernyataan yang
digambarkan dalam kata-kata tersebut. Tentunya ada sebuah peristiwa yang
terjadi dalam kehidupan masyarakat Jawa yang berkaitan dengan bahasa yaitu bahasa Jawa.
Bahasa
merupakan salah satu alat pemersatu dan identitas bangsa dalam komunitasnya
masing-masing, dalam hal ini bahasa Jawa pada komunitas masyarakat Jawa
tentunya. Jika kehidupan bahasa Jawa telah mulai terancam, bagaimana dengan
masyarakatnya? Secara tidak langsung, ketika bahasa Jawa terancam punah, maka
dapat mengakibatkan bercerai-berainya masyarakat Jawa itu sendiri dan
berangsur-angsur hilanglah identitasnya. Hal ini bukanlah masalah kecil dalam
perkembangan budaya masyarakat Jawa, namun karena tidak terungkap secara vulgar
dalam satu kesatuan masyarakatnya, maka tidak dianggap sebagai sebuah masalah
besar yang mengancam dalam kehidupannya. Oleh karena itu, perlulah diadakan suatu
penelitian lebih lanjut untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Tentunya
kemungkinan jawaban yang terjadi adalah ya bahasa Jawa memang terancam punah.
Untuk memperoleh jawaban tersebut, ada baiknya kita memperhatikan keadaan yang
terjadi dalam kehidupan masyarakat Jawa berkaitan dengan bahasanya akhir-akhir
ini.
Pengaruh lingkungan
terdekat yang paling menentukan untuk saat ini,
misalnya, dalam kehidupan keluarga
Jawa,
mereka sudah tidak lagi menggunakan bahasa Jawa seperti yang terjadi pada jaman
era orang-orang tua kita dengan
unggah-ungguhing basa Jawa dalam
komunikasinya. Bahkan saat ini mereka lebih banyak menggunakan bahasa
Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh faktor ajaran yang diterima dari orang
tua yang tidak lagi menggunakan bahasa Jawa, apalagi mengajarkan bahasa
Jawanya. Dan faktor lingkungan dalam masyarakat yang tidak lagi mengganggap
penting bahasa Jawa.
Di samping itu, aspek pendidikan pada
pemerintahan yang baru mempunyai kebijakan secara politis merugikan kepentingan
perkembangan bahasa Jawa. Mengapa? bahasa Jawa tidak memberikan ruang
pengembangan bahasa Jawa yang sepadan dengan ilmu lain dari tingkat dasar
sampai lanjut. Kurikulum Sekolah Menengah Atas tidak mengijinkan bahasa Jawa
diajarkan pada anak didik.
Pada level perguruan tinggi, bahasa Jawa sama sekali tidak mendapatkan tempat.
Bahasa Jawa cepat atau lambat akan masuk dalam ranah masa
lampau yang mungkin tak akan dilirik lagi oleh masyarakat pendukungnya.
Masyarakat pendukung kebudayaan Jawa yang seharusnya memakai bahasa ini sebagai medium berekspresi justru bersemangat untuk meninggalkannya. Orang Jawa yang berasal dari kalangan terdidik dan menempati kelas menengah masyarakat Indonesia lebih condong mempergunakan bahasa Inggris, dan Indonesia. Mereka membiasakan anak-anak mereka dengan bahasa Inggris dan Indonesia yang lebih fleksibel, prestise, dan sesuai dengan spirit kemajuan.
Inilah realita sekarang bahasa Jawa seolah menunggu waktu untuk punah, butuh sebuah perjuangan yang berat untuk tetap bisa menjaga keberadaan dan kelestarian bahasa Jawa. Pemerintah dan masyarakat harus saling bahu-membahu untuk menjaga kelestarian bahasa Jawa. Memang kita tidak boleh saling menyalahkan, sebagai orang Jawa minimal kita secara pribadi, harus mau melestarikan dan menggunakan bahasa Jawa.
Masyarakat pendukung kebudayaan Jawa yang seharusnya memakai bahasa ini sebagai medium berekspresi justru bersemangat untuk meninggalkannya. Orang Jawa yang berasal dari kalangan terdidik dan menempati kelas menengah masyarakat Indonesia lebih condong mempergunakan bahasa Inggris, dan Indonesia. Mereka membiasakan anak-anak mereka dengan bahasa Inggris dan Indonesia yang lebih fleksibel, prestise, dan sesuai dengan spirit kemajuan.
Inilah realita sekarang bahasa Jawa seolah menunggu waktu untuk punah, butuh sebuah perjuangan yang berat untuk tetap bisa menjaga keberadaan dan kelestarian bahasa Jawa. Pemerintah dan masyarakat harus saling bahu-membahu untuk menjaga kelestarian bahasa Jawa. Memang kita tidak boleh saling menyalahkan, sebagai orang Jawa minimal kita secara pribadi, harus mau melestarikan dan menggunakan bahasa Jawa.
KESIMPULAN
Setelah
melihat kenyataan sekarang , kita mungkin pesimis dengan gerusan bahasa asing
dan budaya luar yang bertubi memasuki kancah lalu lintas komunikasi lokal dan
apalagi nasional. Bahasa Jawa mau tidak mau akan mengalami nasib yang sama
dengan suku-suku lain yang ada di dunia ketika masyarakat pendukung budayanya
mulai meninggalkan bahasa ini begitu saja. Dalam rentang historis, bahasa Jawa
mengalami proses dinamikanisasi. Artinya ada saatnya bahasa Jawa menjadi
sesuatu yang mutlak dan dibutuhkan untuk sarana legitimasi sosial politik,
namun di sisi lain ada saatnya bahasa Jawa mengalami keruntuhan karena sudah
dianggap tidak sesuai dengan perkembangan globalisasi.
Untuk itu mengembalikan bahasa Jawa sebagai bahasa pergaulan dan tetap eksis mutlak dibutuhkan perjuangan yang amat berat, perlu semua elemen bangsa untuk melakukannya agar bahasa Jawa tidak mengalami fosilisasi dan dapat kembali dipergunakan sebagai bahasa pergaulan dan komunikasi umumnya pada lingkup yang terbatas.
Untuk itu mengembalikan bahasa Jawa sebagai bahasa pergaulan dan tetap eksis mutlak dibutuhkan perjuangan yang amat berat, perlu semua elemen bangsa untuk melakukannya agar bahasa Jawa tidak mengalami fosilisasi dan dapat kembali dipergunakan sebagai bahasa pergaulan dan komunikasi umumnya pada lingkup yang terbatas.
Banyak
cara dan strategi untuk tetap bisa menjadikan bahasa Jawa tidak mengalami
kepunahan, strategi tersebut antara lain :
1.
Ajarkan bahasa Jawa tentu dengan
unggah-ungguhnya dari diri kita dan keluarga kita.
2.
Batasi penggunaan bahasa Indonesia/Inggris
pada lingkup keluarga kita.
3.
Pemerintah harus memberikan porsi mata
pelajaran Bahasa Jawa yang seimbang dengan pelajaran yang lain sekolah-sekolah
dari tingkat TK, SD, SMP dan SLTA.
4.
Di tingkat Perguruan tinggi, Dikti atau
Kopertis menganjurkan kepada Universitas-universitas untuk membuka
Fakultas/Prodi Bahasa Jawa, sehingga ke depan SDM Intelektual bahasa Jawa tetap
masih ada.
Sebenarnya
masih banyak strategi-strategi untuk bisa menjadikan bahasa Jawa tetap lestari,
kita bisa mengambil contoh Negara Jepang, Bahasa dan budaya Jepang disana
sangat dijunjung tinggi, sehingga walaupun Negara Jepang sebuah Negara maju
dengan peradaban yang modern, akan tetapi tidak akan lupa akan budaya dan
bahasa mereka.
PENULIS : ADIYANTO, S.Sn, MM
DOSEN PENGAJAR MATA KULIAH SANSEKERTA, JAWA KUNO DAN SASTRA JAWA
DI STAH MALANG
PAMONG BUDAYA AHLI MUDA
PROVINSI JAWA TIMUR
DAFTAR PUSTAKA
Budiman, Arif | Jumat, 23 Nopember 2007 Blog pada WordPress.com.
Fashri Fauzi. Penyingkapan Kuasa Simbol. Yogyakarta: Juxtapose. 2007
Herusatoto, Budiono. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: PT Hanindita.1985.
13 Feb 2020
10 Feb 2020
6 Feb 2020
29 Jan 2020
PERKEMBANGAN SENI KARAWITAN SAAT INI
PERKEMBANGAN SENI KARAWITAN SAAT INI
Abstrak
Saat ini seni
karawitan perlu ada perhatian khusus baik tentang pelestarian, pengembangan
serta pemanfaatan supaya keberadaanya tidak punah. Perlu adanya perhatian khhusus oleh semua pihak baik
pemerintah, pelaku seni seta masyarakat pemerhati seni ikut serta dalam
melestarikan serta mengembangkan seni karawitan agar bisa menyesuaikan
perkembangan jaman. Untuk mengikuti perkembangan jaman maka perlu adanya strategi supaya seni
karawitan bisa menyesuaikan kondisi jaman dengan tanpa menghilangkan esensi
adiluhung yang terdapat pada seni karawitan.
I.
Seni Karawitan
Karawitan berasal dari
bahasa jawa rawit berarti rumit, berbelit-belit, tetapi rawit juga berarti halus, cantik, berliku-liku dan
enak. Kata jawa karawitan khususnya dipakai untuk
mengacu kepada musik gamelan dengan menggunakan laras slendro dan pelog, yang garapan-garapannya
menggunakan sistem notasi, warna suara, ritme, memiliki fungsi, pathet dan
aturan garap dalam bentuk sajian instrumentalia, vokalia dan campuran yang
indah didengar, mengandung nilai-nilai historis dan filosofis bagi masyarakat
Indonsia khususnya Jawa. Dikatakan
demikian sebab gamelan Jawa merupakan salah satu seni budaya yang diwariskan
oleh para pendahulu dan sampai sekarang masih banyak digemari serta ditekuni.
Secara hipotesis, masyarakat Jawa sebelum adanya pengaruh Hindu sudah mengenal
yang namanya wayang dan gamelan.
Dahulu pemilikan gamelan ageng Jawa hanya terbatas untuk kalangan istana. Kini
siapapun yang berminat dapat memilikinya sepanjang bukan gamelan-gamelan Jawa
yang termasuk ketegori pusaka yang mempunyai fungsi
yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial, moral dan spiritual. Kita harus
bangga memiliki alat kesenian tradisional gamelan. Keagungan gamelan sudah
jelas ada. Duniapun mengakui bahwa gamelan adalah alat musik tradisiaonal timur
yang dapat mengimbangi alat musik barat yang serba besar. Di dalam suasana
bagaimanapun suara gamelan mendapat tempat di hati masyarakat. Gamelan dapat
digunakan untuk mendidik rasa keindahan seseorang. Orang yang biasa
berkecimpung dalam dunia karawitan, rasa
kesetiakawanan tumbuh, tegur sapa halus, tingkah laku sopan. Semua itu karena
jiwa seseorang menjadi sehalus gendhing- gendhing.
II.
Seni Karawitan
pada Masa Keraton
Kehidupan
seni karawitan sejauh ini sudah mengalami perjalanan sejarah yang panjang
bersamaan dengan munculnya kerajaan-kerajaan besar, seperti Majapahit, dan
Mataram. Di bawah kekuasaan kerajaan-kerajaan tersebut, gamelan (seni
karawitan) mengalami perkembangan yang sangat pesat. Sehingga menarik para
ilmuwan asing untuk mempelajari dan mendokumentasikan. Banyak penemuan-penemuan
hasil penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan asing. Sebagian hasil penemuan
tersebut selanjutnya digunakan untuk mempelajari seni karawitan. Perkembangan
yang terjadi pada dunia seni karawitan menggambarkan bahwa seni karawitan
merupakan suatu produk kebudayaan yang selalu ingin berkembang, menyesuaikan
dengan kondisi jaman.
Pada
jaman kerajaan perkembangan seni karawitan berjalan pesat. Peran Raja sebagai
penguasa tunggal sangat menentukan hidup dan matinya suatu bentuk seni.
Perkembangan seni karawitan berlanjut dengan munculnya Kerajaan Mataram. Pada
jaman ini dianggap sebagai tonggak seni karawitan, terutama untuk gaya Yogyakarta
dan Surakarta. Tidak hanya penambahan jenis-jenis gamelan saja, melainkan
fungsi seni karawitanpun mengalami perkembangan. Disamping sebagai sarana
upacara, seni karawitan juga berfungsi sebagai hiburan. Dahulu seni karawitan
produk kraton hanya dinikmati di lingkungan kraton. Selanjutnya karena
keterbukaan kraton dan palilah Dalem, seni karawitan produk kraton kini sudah
berbaur dengan masyarakat pendukungnya. Sedangkan di Jawa Timur yang jauh dari lingkungan
Keraton maka seni karawitan berkembang di masyarakat sesuai dengan masyarakat
pendukungnya yaitu menyesuaikan kondisi daerahnya, seperti seni karawitan
pesisiran yang memang fungsinya sebagai hiburan dan ritual di masyarakat
setempat, contohnya petik laut, bersih desa, syukuran panen dan yang lainnya.
III.
Seni Karawitan
pada Saat Ini
Kesenian Karawitan pada saat ini memang mulai tergerus
dan pudar, apalagi anak bangsa yang diembani tugas untuk mengkonservasi seni
dan budaya ikut hanyut dalam kemudahan teknologi, jarang kita jumpai sekumpulan
pemuda mengisi waktu luangnya untuk belajar bermain gamelan, menarikan tarian
tradisional atau menonton wayang. Namun dibalik itu semua penulis
memandang bahwa seni dan budaya merupakan sarana berdiplomasi yang sangat
efektif dalam memperkuat hubungan antar
masyarakat
semua bangsa, ketika penulis
memperkenalkan seni karawitan di International School Ho Chi Mint City, Vietnam
rupanya disambut dengan baik oleh masyarakat disana. Betapa
tertariknya mereka untuk mempelajari seni gamelan ini, terbukti di sana ada satu set gamelan Jawa lengkap yang mereka miliki, serta banyaknya mahasiswa yang tertarik mempelajari gamelan. Menurut
penulis,
kondisi inilah yang begitu ironi terjadi di Negeri kita, dimana masyarakat
negara lain lah yang justru mempunyai minat begitu besar
untuk mempelajari kebudayaan kita, namun masyarakat kita sendiri tidak ada usaha untuk melestarikan dan
tidak mau peduli dengan warisan budaya leluhur ini.
IV.
Strategi
Pengembangan Seni Karawitan
Strategi untuk mengembangkan seni karawitan salah satunya adalah Kekreatifitasan dalam berkarya untuk member
warna baru pada seni karawitan merupakan modal
yang sangat penting apalagi di jaman yang serba cepat dan serba instan ini,
diperlukan daya saing dan keunikan tersendiri bagi tiap-tiap produk atau karya
yang dihasilkan.
Begitu pula yang terjadi di Surabaya pada tahun 2015,
ide diadakannya Parade Musik Gamelan ini sama sekali ide baru dan cemerlang. Mengingat dalam memeriahkan dan
melestarikan budaya kita tidak boleh lupa untuk memasukan unsur kompetitif
untuk memacu semangat para penggiat budaya ini. Disamping tujuan
utama yaitu menghibur masyarakat, ajang ini juga
dianggap mampu menumbuhkan bibit-bibit semangat bagi mereka yang baru mulai
menaruh minatnya dalam seni karawitan atau gamelan
untuk lebih mengasah bakatnya disini. Dalam Parade Musik Gamelan ini merupakan ajang untuk
berkreativitas dengan media gamelan untuk sekaligus menggunakan gamelan sebagai
media memperkenalkan ke generasi muda bahwa dengan media gamelan kita bisa
menciptakan musik baru dengan suasana yang baru juga.
Perlu diingat
bahwa tugas melestarikan kebudayaan Indonesia adalah tugas semua kalangan, baik anak-anak,
remaja, dewasa serta orang tua. Acara
diselenggarakan Festival Gamelan ini dengan harapan
bahwa semua
masyarakat mampu melirik keindahan
musik karawitan ini dan akan menggandrunginya. dalam hal mempopulerkan kembali
kesenian karawitan, usaha konservasi seni gamelan dengan cara alih budaya,
dengan banyaknya mahasiswa asing yang mengapresiasi dan ingin mempelajari
kesenian negri kita, diharapkan mampu melahirkan motivasi anak negeri untuk
mencintai dan melestarikan budaya dan seni yang kita miliki. Selain itu seni harus
dipopulerkan dengan cara mengadakan ajang kompetisi seperti banyak dilakukan
oleh ranah seni yang lain, Festival Gamelan atau yang lainnya adalah usaha kreatif
masyarakat untuk memotivasi lahirnya pecinta seni karawitan dan bakat-bakat
yang potensial dalam melestarikan warisan budaya kita. Penulis merasa untuk mempopulerkan
Kesenian Karawitan Jawa di jaman
sekarang,
juga diperlukan strategi marketing yang memadai, dan dikemas dalam tampilan
visual yang lebih modern, sehingga menjadi daya tarik tersendiri baik di kancah
Nasional atau bahkan Internasional. Beberapa contoh yang penulis ketahui, acapkali
diselenggarakan Konser musik Jazz yang dipadu dengan gamelan, serta di berbagai
pementasan
musik pop yang instrumennya bukan lagi gitar atau drum melainkan kecapi dan
gamelan.
Menilai
sifat masyarakat kita yang suka ikut-ikutan
dan tidak mau ketinggalan, dengan melihat seni gamelan yang kini
menjadi tren dan di sambut dengan antusias yang besar oleh masyarakat bangsa lain, semoga akan membangkitkan
gairah masyarakat untuk mempelajari dan melestarikan Kesenian Karawitan yang
juga merupakan aset bangsa milik kita yang sangat berharga.
Kesimpulan
Perkembangan
yang terjadi pada dunia seni karawitan menggambarkan bahwa seni karawitan
merupakan suatu produk kebudayaan yang selalu ingin berkembang, menyesuaikan
dengan kondisi jaman. Pada jaman kerajaan perkembangan seni karawitan berjalan
pesat. Peran Raja sebagai penguasa tunggal sangat menentukan hidup dan matinya
suatu bentuk seni.
Dan pada jaman
sekarang ini kita semualah yang menentukan hidup dan matinya kesenian karawitan
oleh karena itu usaha untuk menyadarakan masyarakat akan begitu berharganya
kesenian kita ini perlu di didukung dari banyak kalangan, termasuk kalangan akademisi, seniman seniman itu sendiri serta
masyarakat pecinta seni. tidak hanya itu untuk melestarikan serta mengembangkan seni karawitan
juga diperlukan strategi marketing yang memadai, dan dikemas dalam tampilan
visual yang lebih modern, sehingga menjadi daya tarik tersendiri baik di kancah
Nasional atau bahkan Internasional
Daftar
Pustaka
Soenarto.
2016 “Tehnik Tabuhan Karawitan Jawa Timur gaya Mojokerto Surabaya”.
Surabaya, PT Revka Petra Media.
Prasetyo,
Puguh. 2015 “Tabuhan dan Vokal Wayang Jawatimuran”. Surabaya, Dewan Kesenian Provinsi Jawa Timur.
http://visitjavacs.blogspot.co.id/2011/11/seni-karawitan.html
Subscribe to:
Comments (Atom)











