21 Jan 2021

FUNGSI KENDANG PADA KARAWITAN TARI DAN WAYANG KULIT

           FUNGSI KENDANG PADA KARAWITAN TARI DAN WAYANG KULIT


Penulis :

Adiyanto

Pamong Budaya Ahli Muda

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur


Dalam pertunjukan seni tari dan wayang kulit, seni karawitan bukan hanya sebagai pelengkap atau pengiring seni tari dan wayang kulit saja. Akan tetapi seni karawitan adalah partner dari seni tari dan wayang kulit, karena pertunjukan seni tari dan wayang kulit bukan seni yang dapat berdiri sendiri, melainkan membutuhkan kehadiran seni seni lainnya. Salah satu diantaranya adalah seni karawitan sebagai pendukung musikalnya.
Pertunjukan seni tari dan wayang kulit di Jawa Timur pada umumnya merupakan kesatuan yang utuh antara seni tari, wayang kulit dan seni karawitan, sehingga banyak yang beranggapan, bahwa pertunjukan tari dan wayang kulit adalah pertunjukan audio visual. Yang artinya, secara visual dapat dinikmati dari keindahan sajian gerak-gerak tari maupun dalam gerak wayang kulitnya, sedangkan secara audio dapat dinikmati suara musik instrumennya sebagai pendukung musik dalam pertunjukan seni tari dan wayang kulit.
Estetika seni karawitan sebagai pendukung pertunjukan tari maupun wayang kulit sangat berbeda dengan seni karawitan secara mandiri. Relasi garap instrumen kendang untuk mendukung kebutuhan pertunjukan tari maupun wayang kulit merupakan bentuk repertoar seni yang esetika garapannya bersifat saling membutuhkan atau dol tinuku. Artinya, estetika pertunjukan seni tari maupun wayang kulit bisa dengan signifikan memengaruhi bentuk garapan seni karawitan dan disaat yang sama juga sebaliknya estetika seni karawitan dapat memengaruhi estetika pertunjukan seni tari dan wayang kulit.
Seniman yang merepresentasikan kepakaran dalam bidang pertunjukan seni karawitan, serta seniman yang merepresentasikan kepakaran dalam bidang pertunjukan seni tari maupun seni wayang kulit, sepakat dan mengakui, bahwa instrumen kendang merupakan pusat atau poros garapan atau “fokus estetika”. Selain dipandang dominan dan menjadi acuan garap elemen musikal lainnya, instrumen kendang juga dapat mengungkap karakter  pertunjukan seni tari dan wayang kulit.
Dalam pertunjukan seni tari dan wayang kulit, kendang memiliki peran yang sangat penting. Oleh sebab itu, seorang pengendang tari maupun wayang kulit harus memiliki pengetahuan serta ketrampilan yang lebih dibandingkan dengan pangrawit yang lainnya, karena tugas pengendang dalam pertunjukan tari maupun wayang kulit menjadi ganda, yaitu harus memfokuskan permainan kendangnya untuk kebutuhan estetika pertunjukan seni tari, wayang kulit maupun estetika pertunjukan seni karawitan.
Pengetahuan tentang irama, tempo, lagu-lagu yang terdapat dalam seni karawitan menjadi modal utama bagi seorang pengendang, karena apabila modal pengetahuan tersebut tidak dimilikinya, maka estetika penyajian karawitan tidak akan tersampaikan dengan baik. Untuk kebutuhan estetika pertunukan seni tari dan wayang kulit, seorang pengendang harus dapat membantu memberikan ruh atau karakter pada sajian pertunjukan tersebut. Oleh karena itu instrumen kendang merupakan instrumen yang spesial, maka pengendang mempunyai spesialisasi khusus, yakni spesialisasi pengendang tari, pengendang wayang kulit, pengendang klenengan, pengendang tayup dan sebagainya. Spesialisasi tersebut merupakan dasar penilaian umum dalam memetakan kompetensi pengendang dalam konteks “karawitan pendukung”. Sekilas tampak berat, namun pada praktek di lapangan, kemampuan tersebut memang benar-benar dimiliki secara umum oleh para pengendang.
Seni karawitan merupakan penunjang yang harus memenuhi tuntutan kepentingan estetika pertunjukan  tari maupun wayang kulit. Yaitu berfungsi sebagai pemandu gerak yang lebih mengarah kepada kepentingan teknis yang berkaitan dengan tempo, irama, ritme dan aksen-aksen isian gerak tari maupun gerak dalam wayang kulit. Dalam tatanan seni karawitan tradisi, pengendali atas kepentingan teknis itu terletak pada instrumen kendang. Dan seni karawitan juga mempunyai fungsi sebagai ilustrasi dalam pertunjukan seni tari maupun wayang kulit, yang artinya bahwa iringan karawitan yang berupa gending atau vokal karawitan harus dapat mengungkap suasana yang dibutuhkan oleh pertunjukan seni tari maupun wayang kulit.

1 Nov 2020

JINEMAN MARIKANGEN

 

JIN MARIKANGEN                   

                                                                                          


  

 

 

 

 

 ADIYANTO

 

 

Duh Hyang Sukma

Mugi enggal pinanggehna garwa kula

Sampun dangu ngupadi boga

Ing kitha ngayogyakarta

Sun puji sun puji manggya basuki

(man eman eman) eman eman baguse

Wus suwe wus suwe nggonku ngenteni

Duh wang bagus

mbenjang napa kundur ndika  (2x)

elinga mring kulawarga (aduh rama ramane dewe)

aduh lae wong kangen ngene rasane

becike yen kangen ketemu wae

 

kembang kertas kembang melati

sing nggagas nganti setengah mati

jolali (4x) jolali jaman semana

nalikane nglamar kula

intak intik saben sore (eman 4x) lampahe

mbokya mbokya eling, mbok ya eling karo janjine

dek semana mati mukti den lampahi

mbok ya eling ati loro dadi siji

prasetyane paribasane umpami

sambuk cilik kebacut nggonku nresnani

sliramu sliramu mari kangen yen ketemu

19 Oct 2020

YEKTINE URIP PUNIKU (KINANTHI)

 

KINANTHI


 

 

ADIYANTO

 

 

 

 

YEKTINE URIP PUNIKU

KUDU ELING LAWAN GUSTI

TINDAK TANDUK KANG UTAMA

KARYENG NAKTYASING SESAMI

DEN ELINGA LAMUN MBENJANG

MANUNGSA NGUNDUH PAKARTI

 

ARTINYA

SEBENARNYA HIDUP ITU

HARUS SELALU INGAT TERHADAP TUHAN

PERBUATAN DAN PERILAKU YANG BAIK

SELALU MEMBUAT SENANG ORANG LAIN

INGATLAH SELALU BAHWA BESUK

MANUSIA AKAN MENDAPAT HASIL APA YANG DIA TANAM

JINEMAN GARA-GARA ( BOCAH BAJANG NGGIRING ANGIN)

 

Jineman Untuk Gara-Gara

Setiap latihan karawitan, tidak lupa Pak Prapto selalu membunyikan Jineman untuk Gara-Gara.

Lalu sebenarnya  apa yang menjadi keunikan dari Syair Jineman tersebut :

Bocah Bajang nggiring angin
anawu banyu segara
ngon-ingone kebo dhungkul
sa sisih sapi gumarang


Bojah bajang menggiring angin
Menguras air lautan
Peliharaannya kerbau bodoh
Beriringan dengan sapi gumarang

 

Anak bajang adalah gambaran dari manusia yang lemah, bodoh, rapuh dan berdosa, disatu sisi, namun disisi lain, ada Roh yang hidup di dalam kerapuhannya.

Menghidupi Roh yang sempurna di dalam pribadi yang lemah, membutuhkan perjuangan yang tak berkesudahan.

Diibaratkan anak bajang menggiring angin dengan sebatang lidi dan menguras samodra dengan tempurung kelapa, yang tidak akan pernah selesai.

Kecuali Sang Empunya Kehidupan sudah menganggap cukup.

Seolah Semar mewartakan kepada seluruh isi hutan belantara itu, mengabarkan kepada seluruh penghuni dunia, bahwa manusia dikaruniai kelemahan yang ada pada wujud seekor kerbau, namun di sisi lain juga memiliki kelebihan layaknya sapi gumarang yang cerdas dan bertanduk tajam.

Dan untuk menggapai kesempurnaan hidup haruslah diupayakan mengharmoniskan antara sifat yang serba kurang, lemah dan cacat di satu sisi dan sifat yang serba sempurna di sisi yang lain.

manusia membutuhkan perjuangan panjang, sepanjang umur manusia itu sendiri, seperti bocah bajang nggiring angin dan nawu segara, menggiring angin dan menguras lautan, tiada pernah akan selesai.

 

oleh:  Adiyanto