7 Feb 2021

Realisasi Pemajuan Kebudayaan di Masa Pandemi Covid






 

Realisasi Pemajuan Kebudayaan di Masa Pandemi Covid

 

Penulis : Adiyanto

Pamong Budaya Ahli Muda

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur.

 

Presiden Republik Indonesia didalam usaha untuk  memberikan peran dalam pelestarian kebudayaan secara strategis bagi kebudayaan nasional, telah terwadahi dalam Undang-Undang  Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dalam upaya pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan nasional. Hal ini menjadikan semangat baru bagi para pelaku budaya, pemerhati budaya, dan pecinta budaya, ddan menjadikan pedoman untuk ikut andil didalam melestarikan kebudayaan.

Presiden Joko Widodo menginginkan adanya keseimbangan antara pembangunan fisik yang saat ini gencar dibangun di berbagai wilayah seperti jalan, jembatan, bandara, dan yang lainnya,  dengan pembangunan mental lewat jalan kebudayaan dalam wujud karakter dan jatidiri bangsa. Untuk itulah diperlukan kebijakan makro kebudayaan dalam rangka proses untuk melestarikan kebudayaan. Presiden Joko Widodo pernah bilang Kita kan terlalu sering berbicara masalah infrastruktur yang keras. Mengenai jalan, mengenai jembatan, mengenai pelabuhan. Tidak pernah kita berbicara mengenai infrastruktur lunak, yaitu kebudayaan”.

Dengan adanya pernyataan diatas bahwa secara nyata Presiden Joko Widodo mempunyai keinginan yang merupakan komitmen yang sejalan dengan Undang-Undang pemajuan kebudayaan yang didalamnya memuat sepuluh unsur kebudayaan diantaranya: tradisi lisan, manuskrip, adat-istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat dan olahraga tradisional.

Kondisi pandemi covid saat ini banyak sekali sanggar seni, paguyuban budaya, dan organisasi-organisasi lainnya dibidang kebudayaan tidak ada program kegiatan, dilarang membuat kegiatan yang mengundang massa, di larang mengadakan kegiatan dengan cara bergerombol dan yang sejenisnya. Maka dengan adanya larangan-larangan itu banyak sekali para seniman dan budayawan mengeluhkan bahwa disaat pandemi covid ini, usaha untuk melestarikan kebudayaan dianggap menemui jalan buntu dan dipastikan keberadaannya akan mengalami kemunduran. Para pelaku seni banyak yang sepi job pentas, banyak instansi pemerintah yang tidak berani menyelenggarakan progam kegiatan di bidang kebudayaan, dan masyarakat secara umum yang biasanya ikut andil di dalam usaha melestarikan kebudayaan juga terbatasi geraknya dalam kondisi pandemi covid ini.

Disisi lain setelah ditetapkannya Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Dan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Nomor: 02/Kb/2020 Nomor: KB/1/UM.04.00/M-K/2020  Tentang Panduan Teknis Pencegahan Dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Di Bidang Kebudayaan Dan Ekonomi Kreatif Dalam Masa Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Covid-19, maka berangsur-angsur keberlangsungan program kegiatan pelestarian kebudayaan mulai bisa di lakukan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Sehingga dalam kondisi pandemi covid seperti saat ini, secara pelan-pelan sudah mulai  banyak sekali program kegiatan yang bertajuk kebudayaan, diantaranya pertunjukan seni wayang kulit, tari, musik dan yang lainnya yang dilakukan secara daring on line lewat streaming youtube. Lalu ada lagi kegiatan semacam seminar budaya, sarasehan budaya, diskusi budaya dan yang lainnya  yang dilakukan lewat media zoom. Kemudian banyak sekali para seniman dan budayawan yang membuat konten konten tentang budaya melalui youtube, instagram, facebook dan aplikasi on line lainnya.

Dalam kondisi seperti ini banyak bermunculan karya-karya virtual baru yang mana para seniman dan budayawan bisa menciptakan karya seni dengan kolaborasi antar seniman dan budayawan lintas daerah, lintas negara bahkan lintas benua, yang mana itu sangat sulit dilakukan pada waktu sebelum pandemi covid dikarenakan biaya akomodasi dan transportasi yang cukup mahal. Tapi dengan teknologi on line banyak kegiatan untuk melestarikan seni budaya itu bisa di lakukan dengan ide –ide serta gagasan melalui virtual.

Program kegiatan memalui virtual atau daring on line ini bisa menjadikan semangat dan antusias baru bagi para seniman dan budayawan untuk ikut berpartisipasi dalam upaya melindungi, mengembangkan, memanfaatkan dan membina kebudayaan. Sehingga didalam merealisasikan pelestarian kebudayaan yang sesuai amanat Undang-Undang pemajuan kebudayaan tetap bisa berjalan di masa pandemi covid. Maka dari itu kiranya patut diapresiasi bersama sekaligus menepis keraguan kita bersama, bahwa dalam upaya melestarikan obyek kebudayaan akan mengalami kesulitan di masa pandemi covid seperti saat ini.

Dari banyaknya karya-karya eksperimen baru secara virtual online oleh para seniman dan budayawan di saat pandemi covid ini, menurut saya secara  kwalitas dan kwantitas masyarakat seniman dan budayawan di dalam peran sertanya dalam pelestarian di bidang kebudayaan meningkat. Dengan meningkatnya kwalitas dan kwantitas masyarakat seniman dan budayawan ini mengindikasikan masih tingginya kemampuan masyarakat seniman dan budayawan untuk turut berpartisipasi dalam merealisasikan obyek-obyek kebudayaan yang tertuang dalam Undang- Undang Pemajuan Kebudayaan. Secara nyata, hal itu memberikan optimisme akan keberhasilan program kegiatan untuk melestarikan kebudayaan yang sesuai dengan amanat Undang-Undang. Sehingga untuk mengembangkan pembangunan infrastruktur lunak melalui kebudayaan akan tetap terealisasikan walaupun dalam kondisi pandemi kovid, sehingga akan tercipta keseimbangan antara pembangunan infrastruktur lunak dan infrastruktur keras seperti yang diinginkan Presiden Joko Widodo.

 



artikel ini juga di publikasikan di media on line kabar gress. com
dengan alamat : 

http://kabargress.com/2021/02/08/realisasi-pemajuan-kebudayaan-di-masa-pandemi-covid/

 

dan juga di muat di koran harian pojok kiri korane rakyat pada hari Selasa Legi 9 Februari 2021


 

21 Jan 2021

FUNGSI KENDANG PADA KARAWITAN TARI DAN WAYANG KULIT

           FUNGSI KENDANG PADA KARAWITAN TARI DAN WAYANG KULIT


Penulis :

Adiyanto

Pamong Budaya Ahli Muda

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur


Dalam pertunjukan seni tari dan wayang kulit, seni karawitan bukan hanya sebagai pelengkap atau pengiring seni tari dan wayang kulit saja. Akan tetapi seni karawitan adalah partner dari seni tari dan wayang kulit, karena pertunjukan seni tari dan wayang kulit bukan seni yang dapat berdiri sendiri, melainkan membutuhkan kehadiran seni seni lainnya. Salah satu diantaranya adalah seni karawitan sebagai pendukung musikalnya.
Pertunjukan seni tari dan wayang kulit di Jawa Timur pada umumnya merupakan kesatuan yang utuh antara seni tari, wayang kulit dan seni karawitan, sehingga banyak yang beranggapan, bahwa pertunjukan tari dan wayang kulit adalah pertunjukan audio visual. Yang artinya, secara visual dapat dinikmati dari keindahan sajian gerak-gerak tari maupun dalam gerak wayang kulitnya, sedangkan secara audio dapat dinikmati suara musik instrumennya sebagai pendukung musik dalam pertunjukan seni tari dan wayang kulit.
Estetika seni karawitan sebagai pendukung pertunjukan tari maupun wayang kulit sangat berbeda dengan seni karawitan secara mandiri. Relasi garap instrumen kendang untuk mendukung kebutuhan pertunjukan tari maupun wayang kulit merupakan bentuk repertoar seni yang esetika garapannya bersifat saling membutuhkan atau dol tinuku. Artinya, estetika pertunjukan seni tari maupun wayang kulit bisa dengan signifikan memengaruhi bentuk garapan seni karawitan dan disaat yang sama juga sebaliknya estetika seni karawitan dapat memengaruhi estetika pertunjukan seni tari dan wayang kulit.
Seniman yang merepresentasikan kepakaran dalam bidang pertunjukan seni karawitan, serta seniman yang merepresentasikan kepakaran dalam bidang pertunjukan seni tari maupun seni wayang kulit, sepakat dan mengakui, bahwa instrumen kendang merupakan pusat atau poros garapan atau “fokus estetika”. Selain dipandang dominan dan menjadi acuan garap elemen musikal lainnya, instrumen kendang juga dapat mengungkap karakter  pertunjukan seni tari dan wayang kulit.
Dalam pertunjukan seni tari dan wayang kulit, kendang memiliki peran yang sangat penting. Oleh sebab itu, seorang pengendang tari maupun wayang kulit harus memiliki pengetahuan serta ketrampilan yang lebih dibandingkan dengan pangrawit yang lainnya, karena tugas pengendang dalam pertunjukan tari maupun wayang kulit menjadi ganda, yaitu harus memfokuskan permainan kendangnya untuk kebutuhan estetika pertunjukan seni tari, wayang kulit maupun estetika pertunjukan seni karawitan.
Pengetahuan tentang irama, tempo, lagu-lagu yang terdapat dalam seni karawitan menjadi modal utama bagi seorang pengendang, karena apabila modal pengetahuan tersebut tidak dimilikinya, maka estetika penyajian karawitan tidak akan tersampaikan dengan baik. Untuk kebutuhan estetika pertunukan seni tari dan wayang kulit, seorang pengendang harus dapat membantu memberikan ruh atau karakter pada sajian pertunjukan tersebut. Oleh karena itu instrumen kendang merupakan instrumen yang spesial, maka pengendang mempunyai spesialisasi khusus, yakni spesialisasi pengendang tari, pengendang wayang kulit, pengendang klenengan, pengendang tayup dan sebagainya. Spesialisasi tersebut merupakan dasar penilaian umum dalam memetakan kompetensi pengendang dalam konteks “karawitan pendukung”. Sekilas tampak berat, namun pada praktek di lapangan, kemampuan tersebut memang benar-benar dimiliki secara umum oleh para pengendang.
Seni karawitan merupakan penunjang yang harus memenuhi tuntutan kepentingan estetika pertunjukan  tari maupun wayang kulit. Yaitu berfungsi sebagai pemandu gerak yang lebih mengarah kepada kepentingan teknis yang berkaitan dengan tempo, irama, ritme dan aksen-aksen isian gerak tari maupun gerak dalam wayang kulit. Dalam tatanan seni karawitan tradisi, pengendali atas kepentingan teknis itu terletak pada instrumen kendang. Dan seni karawitan juga mempunyai fungsi sebagai ilustrasi dalam pertunjukan seni tari maupun wayang kulit, yang artinya bahwa iringan karawitan yang berupa gending atau vokal karawitan harus dapat mengungkap suasana yang dibutuhkan oleh pertunjukan seni tari maupun wayang kulit.

1 Nov 2020

JINEMAN MARIKANGEN

 

JIN MARIKANGEN                   

                                                                                          


  

 

 

 

 

 ADIYANTO

 

 

Duh Hyang Sukma

Mugi enggal pinanggehna garwa kula

Sampun dangu ngupadi boga

Ing kitha ngayogyakarta

Sun puji sun puji manggya basuki

(man eman eman) eman eman baguse

Wus suwe wus suwe nggonku ngenteni

Duh wang bagus

mbenjang napa kundur ndika  (2x)

elinga mring kulawarga (aduh rama ramane dewe)

aduh lae wong kangen ngene rasane

becike yen kangen ketemu wae

 

kembang kertas kembang melati

sing nggagas nganti setengah mati

jolali (4x) jolali jaman semana

nalikane nglamar kula

intak intik saben sore (eman 4x) lampahe

mbokya mbokya eling, mbok ya eling karo janjine

dek semana mati mukti den lampahi

mbok ya eling ati loro dadi siji

prasetyane paribasane umpami

sambuk cilik kebacut nggonku nresnani

sliramu sliramu mari kangen yen ketemu