Kajian gending Pangkur menurut sejarah
seperti yang telah tersebut diatas, dapat dianalisa bahwa keberadaan gending Pangkur
tersebut berasal dari sekar Macapat Pangkur Paripurna, yang disajikan untuk
kebutuhan beksan langendriyan. Dengan garap sajian menggunakan sindenan dengan
cakepan sekar macapat Pangkur Paripurna, tanpa menggunakan lagu gerongan. Dalam
penyajian gending Pangkur tersebut, digarap dengan menggunkan irama ciblon atau
wilet, yang pada perkembangannya disusul dengan garap sajian menggunakan irama
tanggung dan irama dadi.
Penyajian gending Pangkur secara tradisional diawali dengan sajian irama tanggung atau
irama dadi kemudian selanjutnya digarap menggunakan irama wilet, selalu diawali dengan sajian irama dadi. Apabila
mengacu pada pendapat tersebut,
Ladrang Pangkur Paripurna diciptakan
pertama kali untuk keperluan gending
langendriyan yang mengedepankan garapan bagian irama wilet sebagai
sarana untuk dialog, maka
Ladrang Pangkur Paripurna bagian irama tanggung dan dadi, hanya digunakan
sebagai rambatan sebelum menuju pada sajian irama wilet.
Gerongan Gending Pangkur (Cakepan
Sekar Kinanthi Dan Sekar Pangkur)
Menurut cerita di lingkungan pengrawit keraton Surakarta, gerongan baru
lahir pada masa pemerintahan Paku Buwana IX (akhir abad XIX), konon pada waktu
itu, secara periodik susuhunan berkenan bersilaturahmi dengan Pangeran
Mangkunegara IV di pasanggrahan Langen Harjo ( kurang lebih sekitar 5 km dari
Surakarta kearah selatan). Selain berbincang-bincang, pada setiap pertemuan
tersebut selalu disuguhkan pula acara-acara kesenian. Pada suatu pertemuan,
Paku Buwana IX berkenan menyuguhkan sajian kesenian baru/ kejutan dengan
menampilkan vokal gerong, yaitu sajian vokal bersama yang dilakukan oleh
sekelompok wiraswara/ vokalis pria yang disebut penggerong. Dalam sajian vokal
bersama tersebut dilagukan menggunakan irama metris (mengikuti matra dari
gending). Dari peristiwa tersebut diperkirakan mulai timbulnya gerongan pada
karawitan. (R.L. Martapangrawit, 1988)
Sebelumya di dalam karawitan hanya terdapat istilah sindenan untuk
menyebut seni suara vokal didalam gending. Sindenan adalah istilah yang digunakan
untuk menyebut seni suara vokal baik untuk vokal bersama atau koor (yang pada
waktu itu dilakukan oleh sekelompok pesinden) wanita dan atau pria (seperti
sindenan bedaya/ srimpi), maupun vokal tunggal putri yang dilakukan oleh
pesinden/ waranggana atau swarawati dengan irama lagu ritmis (tidak terikat
oleh matra gending). Sejak dikenalkannya gerong prakarsa paku Buwana IX
tersebut, yang konon disajikan oleh Pangeran Kusumabrata, saat itu gending yang
di sajikan adalah gending Pangkur Paripurna laras slendro patet sanga. Kemudian
barulah muncul pemisahan penggunaan istilah sindenan dengan gerongan. Sindenan
digunakan untuk menyebut vokal putri, baik vokal tunggal maupun vokal bersama
pada sindenan bedaya/ srimpi, sedangkan untuk vokal bersama pria disebut
penggerong. (R.L. Martapangrawit, 1988).
K.R.T Warsodiningrat dalam Wedhapradangga, menyebutkan:
“Sareng jumeneng dalem ingkang
Sinuwun Paku Buwana XI kaping sewelas, sadhatengipun Nipon (Jepang) nguwaosi
tanah jawi, sedaya ungel-ungelan utawi pakecapan ingkang mawi basa landi wau,
dhawuh dalem, ingandikakaken anyantuni cakepanipun gending Ludira piyambak,
inggih punika: Mideringrat hangelangut, sapiturutipun, mijilipun wastra
ngangrang tebinging patani, sapiturutipun, dene gendhing Ludiramadura minggah
Kinanthi lajeng Mijil, dalah sakcakepanipun wau yasan dalem Paku Buwana V”.
“Panembrama gendhing Ludira
kasebut nginggil wau, kejawi kagem sisindhen Kinanthi Sarimpi, dawuh dalem Paku
Buwana X, ingandikakaken kangge gerongan gendhing Pangkur ingkang laras slendro
pathet sanga”. (K.R.T.
Warsodiningrat, 1979: 90).
Artinya
adalah: “bersamaan dengan naiknya tahta kerajaan Paku Buwana XI yang kesebelas,
dengan kedatangan tentara Jepang (Nipon) menguasai tanah Jawa, semua
pembicaraan yang menggunakan bahasa Belanda, raja memerintahkan, untuk
memeriksa syair gending Ludira sendiri, yaitu: Mideringrat hangelangut, dan
seterusnya. Mijilnya: Wastra ngangrang tebinging patani, dan seterusnya,
Sedangkan gending Ludiramadura minggah Kinanthi terus Mijil, beserta syairnya
adalah ciptaan Paku Buwana V”.
“penyajian
gending Ludira tersebut diatas, selain digunakan suara vokal Kinanti Sarimpi,
perintah Paku Buwana X, mengatakan untuk digunakan dalam gending Pangkur yang
menggunakan laras slendro patet sanga”.
Berdasarkan pernyataan diatas
dapat disimpulkan bahwa gending Pangkur laras slendro patet sanga, memiliki
vokal gerongan yang diambilkan dari syair gending Ludiramadura, karena situasi
pada saat itu, Sinuwun Paku Buwana XI memerintahkan untuk tidak menggunakan
bahasa Belanda, sehingga beliau memeriksa sendiri syair yang digunakan dalam gending
Ludira tersebut. Syair lagunya adalah: Mideringrat hangelangut dan seterusnya,
yang merupakan karya dari leluhur beliau yaitu Paku Buwana V. Penyajian gending
Ludiramadura minggah Kinanti lajeng Mijil tersebut, Sinuwun Paku Buwana X memerintahkan
supaya syair vokal pada Kinanti Sarimpi digunakan dalam gending Pangkur Laras
Slendro patet sanga.
Menurut para empu dikalangan pengrawit sepuh keraton Surakarta, bahwa
pada masa Paku Buwana IX dan Pangeran Mangunegara IV selain untuk Bedaya dan
Srimpi belum ada gending yang mempunyai vokal bersama atau koor, akan tetapi
setelah peristiwa gending Pangkur yang di garap menggunakan vokal bersama atau
koor yang disuarakan oleh vokalis pria (penggerong), lalu timbulah bakat seni
Pangeran Mangkunegara IV yang menumbuhkan
inspirasi dan kemudian menyusun sembilan paket gending berbentuk ketawang yang
mengutamakan vokal gerongan sebagai tulang punggungnya, yaitu: ketawang
Langengita, Walagita, Rajaswala, Sitamardawa, Puspanjala, Tarupala,
Puspagiwang, Lebdasari dan Puspawarna. (Haryono, 1994: 44).
Keberadaan ngelik gending Pangkur pada irama ciblon atau wilet, meminjam
dari bagian ngelik ladrang Kasmaran (Eling-Eling). Penambahan bagian ngelik
pada ladrang Pangkur ini dimaksudkan sebagai pelengkap agar sajian gending
tidak kemba atau hambar. Buku “Karawitan Source Readings In Javanese Gamelan And Vocal Music”, tercatat sebagai berikut:
“When Paku Buwana X obtained Gendhing Pangkur, he changed the laras to
pelog pathet barang and added a gerong part. The wilet of the gendhing and the melody and wilet of the gerong part reflect great feeling and
a sense of respect proper to the kraton. To enhance the beauty and
effectiveness of Gendhing Pangkur, a
ngelik from Ladrang Kasmaran was added. Upon approaching
the first kenong, the irama changes to rangkep. After the gong, the irama reverts to its
previous state. [These alternations in irama] became standard [during the reign
of Paku Buwana] X, and for that reason Pangkur
[played in this style] is referred to as "the Pangkur of Kaping Sadasa" [that
is, of Paku Buwana X]. (Judith Becker,
1987:155).
Artinya adalah: “Ketika Paku Buwana X
memperoleh Gendhing Pangkur, ia mengubah laras menjadi pelog pathet barang dan
menambahkan bagian gerong. Wilet dari gendhing dan melodi, dan wilet dari bagian gerong
mencerminkan perasaan yang besar dan rasa hormat yang tepat untuk keraton. Untuk meningkatkan keindahan
dan efektivitas gendhing Pangkur, ditambahkan sebuah ngelik dari Ladrang
Kasmaran. Saat mendekati kenong pertama, irama berubah menjadi rangkep. Setelah
gong, irama kembali ke keadaan sebelumnya. Pergantian irama ini menjadi standar
pada masa pemerintahan Paku Buwana X, dan oleh karena itu Pangkur yang
dimainkan dengan gaya ini, disebut sebagai "Pangkur Kaping Sadasa" yaitu: Paku Buwana X.
Kutipan pernyataan diatas menunjukan, bahwa bagian ngelik Ladrang Pangkur tersebut ada
sejak zaman Paku Buana X, yang meminjam dari bagian ngelik Ladrang Kasmaran (Eling-eling).
Penambahan bagian ngelik ini dimaksudkan
sebagai pelengkap agar sajian ladrang Pangkur tidak kemba (hambar) karena disajikan dalam bentuk klenengan, jika disajikan dalam
bentuk langendriyan maka tidak
akan memerlukan penambahan ngelik
yang digarap rangkep seperti
pada Ladrang Kasmaran (Eling-eling), karena dalam langendriyan
hanya dibutuhkan vokal sindenan atau macapatnya
saja. Pada sajian klenengan,
ngelik menjadi ajang garap
terutama pada irama rangkep. Maka
semuanya juga akan ikut untuk menggarap rangkep
yang umumnya pada garap rangkep
terkesan gayeng, serta prenes. Maka dari itu perlu
ditambahkan ngelik dari Ladrang Kasmaran yang menggunakan
garap rangkep agar terkesan
lebih sigrak serta tidak kemba atau hambar.
Peminjaman bagian ngelik yang
disebut diatas sepertinya tidak diadopsi secara utuh, tetapi diambil kenong
pertama, kenong ke dua, dan tiga gatra kenongan ke tiga yang digunakan untuk
keperluan bagian ngelik Ladrang Pangkur laras slendro pathet sanga
mempunyai kerangka balungan gending yang berbeda. Namun demikian keduanya masih
mempunyai nada-nada seleh yang
sama. (Uni Ambarwati, 2019: 76).
K.R.T Wasitodiningrat dalam bukunya “The
Vokal Natation Of K.R.T Wasitadiningrat Volume I: Slendro”, mendiskripsikan
garap gending Pangkur yang disajikan dengan menggunakan sindenan tanpa
menggunakan gerongan, cakepan sekar Pangkur Paripurna tersebut yaitu: “Jinejer
ning wedhatama, Mrih tan kemba kembenganing pambudi, Mangka nadyan tuwa pikun,
Yen tan mikani rasa, Yekti sepi asepa lir sepah samun, Samangsane pakumpulan, Gonyak-ganyuk
nglelingsemi”. Disajikan
pada irama ciblon
atau wilet tanpa menggunakan ngelik, dengan garap sindenan mengunakan irama ritmis atau tidak terikat dengan
matra gending. (K.R.T. wasitodiningrat, 1995: 112-113).
Lagu dan
cakepan gerongan gending-gending gaya Surakarta “Dibuang Sayang” karya R.L. Martopangrawit, mencatatkan gerongan
Pangkur Paripurna laras slendro patet sanga dengan garap irama tanggung
menggunakan syair rujak-rujakan, yaitu : Rujak
laos ginodhong lestari atos, Durung jegos anggepe kaya wus bontos, Ala bapak
balung sate, yen wani ijen-ijenan. Irama dadi menggunakan cakepan salisir
dan pangkur larasmadya, syair salisirnya adalah: Parabe sang smara bangun, Sepat domba kali oya, aja dolan lan wong
priya, gerameh nora prasaja, sedangkan syair pangkur laras madyanya yaitu: Sekar pangkur kang winarna, lelabuhan kang
kanggo ing ngaurip, ala lan becik puniku, prayoga kawruhana, adat waton puniku
dipun kadulu, miwah ingkang tata karma, den kaesti siyang ratri. Pada irama
ciblon atau wilet menggunakan ngelik dan cakepan gerongan kinanti, syair
lagunya adalah: Midering rat hangelangut, Lelana njajah
nagari, Mubeng tepining samudra, Sumengka hanggraning wukir, Anelasak wana
wasa, Tumuruning jurang terbis, sedangkan untuk ngelik menggunakan syair: Sayekti kalamun suwung, Tangeh miriba kang warni, Lan sira pepujaning
wang, Manawa dhasaring bumi, Miwah luhuring angkasa,Tuwin jroning jalanidhi.(R.L.
Martapangrawit, 1988: 88-90).
Tuntunan Karawitan gending Jawi
mendiskripsikan gerongan gending pangkur pada irama dadi menggunakan cakepan
yang diambil dari serat “Pralambangin
Rasa Kenya” karya Mangkunegara IV. Syair cakepan tersebut pada gending
pangkur irama dadi menggunakan salisir, yaitu : Indahe swasana mahya, Sapta wlas agustus warsa, Eka nawa catur panca,
Dorengan wiwit mardika. Irama ciblon atau wilet menggunakan cakepan
kinanti, yaitu: Kinanti pralambangipun,
Kenya kang nedeng birahi, Anglir sekar naga puspa, kang medem mencit
neng uwit, Sekare mudra salaga, Kang sari misih piningit, untuk gerongan
pada ngelik, yaitu: Kang ganda mung
sumber arum, Tan kongas sangkaning tebih, Marma sagung kang sadmada, Kang
ngruruh maduning sari, kekilapan kang mangkana, mung marsudi kang kaeksi. (Kodirun,
B.A, 1975: 28-31).
K.R.M.T Bodjrodiningrat mengatakan bahwa gerongan gending Pangkur irama
ciblon atau wilet yang pertama ada adalah menggunakan cakepan sekar Kinanti.
Adanya gerongan gending Pangkur menggunakan cakepan sekar Pangkur adalah perkembangan
kemudian. Gending Pangkur pada irama ciblon atau wilet dianggap lebih sigrak,
sedangkan gending Pangkur yang menggunakan cakepan sekar Pangkur dianggap
kurang sigrak dan dianggap sulit untuk para wiraswara yang belum berpengalaman,
karena guru wilangan atau jumlah suku katanya tidak sama. Untuk guru wilangan
atau jumlah suku kata sekar Kinanti : 8, 8, 8, 8, 8, 8. Sedangkan sekar Pangkur
: 8, 11, 8, 7, 12, 8, 8. (R.M.S. Gitasapraja,1996: 38).
Buku panduan rekaman gendhing mat-matan volume 5-8, mendiskripsikan
gerongan Pangkur pada irama dadi menggunakan cakepan salisir, syairnya yaitu: Parabe sang smara bangun, Sepat domba kali
oya, aja dolan lan wong priya, gerameh nora prasaja. Sedangkan untuk irama
ciblon atau wilet diberikan opsi pilihan antara menggunakan gerongan cakepan
sekar Pangkur dan cakepan sekar Kinanti. Gerongan yang menggunakan cakepan
sekar pangkur, yaitu dengan syair: Sekar
pangkur kang winarna, lelabuhan kang kanggo ing ngaurip, ala lan becik puniku,
prayoga kawruhana, adat waton puniku dipun kadulu, miwah ingkang tata karma,
den kaesti siyang ratri, sedangkan untuk gerongan yang menggunakan cakepan
sekar Kinanti, dengan syairnya yaitu: Midering rat hangelangut, Lelana njajah
nagari, Mubeng tepining samudra, Sumengka hanggraning wukir, Anelasak wana
wasa, Tumuruning jurang terbis.
Berbagai Garap sajian Gending
Pangkur
Sebagai karya kreatifitas, gending Pangkur terbuka untuk
diinterpretasi musikalitasnya
sesuai dengan citra rasa estetik dari para penggarapnya. Bentuk interpretasi
musikal terhadap sajian Ladrang
Pangkur yang berupa: tafsir instrumentasi, tafsir irama, tafsir dinamik,
tafsir laras dan pathêt, tafsir vokal, dan sebagainya
diwujudkan dalam garapan aneka Pangkur yang kemudian diberi sebutan
sesuai dengan unsur garap yang
ditonjolkan, seperti: Pangkur Pamijen,
Pangkur Jengleng, Pangkur Gobyog, Pangkur Cengkok Kethoprak, Pangkur
Wolak-walik, dan sebagainya.
Pangkur
Pamijen adalah ladrang Pangkur yang disajikan secara
tradisional dengan sajian gending, seluruh ricikan atau
instrumen dalam sajian ini ikut dimainkan. Namun demikian, untuk menambah
variasi garap dalam sajian
tersebut, kadang-kadang diselingi garapan gendhing dengan hanya menampilkan ricikan tertentu untuk ditonjolkan garap-nya. Pemilihan garap
ricikan yang demikian merupakan bentuk perkembangan garap musikal yang berpijak dari
tafsir instrumentasi. Salah satu sajian gending yang berpijak dari tafsir
instrumentasi tersebut adalah Pangkur
Pamijèn.
Garapan Pangkur Jenggleng diduga
berasal dari daerah Yogyakarta. Hal ini dapat dilihat dari lagu vokal yang
diambil dari lagu Rambangan Pangkur
Paripurna yang digarap Jenggleng. Selain itu garap Pangkur Jenggleng sangat populer di daerah Yogyakarta. Ketika almarhum
Basiyo (pelawak) masih hidup, ia selalu menyajikan Pangkur Jenggleng pada setiap acara uyon-uyon manasuka di RRI Yogyakarta. Penyajiannya diselingi dengan
banyolan-banyolan yang segar, sehingga menjadikan garapan Pangkur Jenggleng
banyak disukai oleh para pendengarnya. Cakepan sekar Pangkur yang selalu disajikan oleh
almarhum Basiya dalam garapannya,
mengambil dari Serat Wedhatama pupuh
I, yaitu: Uripe
sepisan rusak, nora mulur nalare ting seluwir, kadi ta guwa kang sirung,
sinerang ing maruta, gumarenggeng anggereng anggung gumrunggung, pindha padhane
si mudha, prandene paksa kumaki. (Sugimin,
2013: 101).
Pangkur
Jenggleng adalah bentuk pengembangan garap musikal ladrang
Pangkur yang berpijak dari tafsir garap intrumentasi
yang lain. Pangkur Jenggleng adalah
sajian Ladrang Pangkur dengan
menampilkan ricikan balungan, seperti:
demung, saron, dan slentem sebagai garapan ricikan yang menonjol. Tabuhan ricikan balungan dilakukan secara
bersama-sama dengan intensitas
tabuhan yang keras dan digunakan sebagai penguatan rasa seleh pada nada-nada seleh
lagu vokal. Suara gleng yang
ditimbulkan dari tabuhan ricikan
balungan pada sajian ladrang
Pangkur inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Pangkur
Jenggleng.
Pangkur Cengkok Kethoprak biasanya
digunakan pada penyajian ketoprak, sehingga disebut cengkok ketoprakan.Penyajian
gendingnya hanya menampilkan satu macam garapan irama, yaitu irama rangkep dengan menggunakan pola kendhang ciblon. Dengan sajian semacam ini, maka Pangkur Cengkok Kethoprak merupakan
bagian Ladrang Pangkur yang disajikan
secara mandiri, yakni bukan merupakan rangkaian sajian Ladrang Pangkur secara
keseluruhan. Pemilihan satu macam garapan
irama semacam ini merupakan bentuk interpretasi musikal yang berpijak
dari tafsir irama. Penyajian pada umumnya selalu memunculkan senggakan
untuk membangun suasana kasmaran.
Pangkur Wolak-walik
adalah garap ladrang Pangkur yang disajikan
dalam laras slendro maupun pelog,
pada umumnya disajikan dalam irama wiled dan rangkep dan
disajikan dengan menggunakan dua perangkat gamelan laras slendro dan
pelog secara bergantian dalam
satu sajian gending. Sajian semacam ini merupakan bentuk perkembangan garap musikal yang berpijak dari
tafsir laras dan patet. Pemilihan patet dalam
sajian Pangkur wolak walik sangat
mempertimbangkan larasan gamelan
yang digunakan,
supaya pada saat pergantian dari laras
slendro menjadi laras pelog atau sebaliknya tidak
terasa njeglek. (Sugimin, 2013:
101-108).
Gending Pangkur garapan Ki
Nartasabda adalah bentuk reinterpretasi yang berpijak dari balungan gending Ladrang Pangkur.
Beliau banyak menggarap Ladrang Pangkur
dengan menonjolkan garap irama
dan vokal yang kemudian diberi judul sesuai dengan tema yang terkandung dalam
syair lagu, seperti Pangkur Gala-gala,
Pangkur Padhang Rembulan, Pangkur Sumbangsih,
Pangkur Rimong Batik, Pangkur Macan Ucul, dan sebagainya (A. Sugiarto,
1998 : 137-162).
Kesimpulan
Terdapat opini dalam masyarakat pelaku seni atau seniman bahwa
gerongan gending Pangkur harus menggunakan cakepan sekar pangkur, dan yang
menggunakan cakepan sekar kinanti adalah sesuatu yang tidak ada dan bahkan dianggap
sesuatu yang salah. Diantara perdebatan para seniman tersebut, dalam perspektif
historis telah terjawab bahwa gerongan gending Pangkur yang menggunakan cakepan
sekar kinanti dibenarkan oleh sejarah dan bahkan keberadaannya sudah ada sejak
dulu yaitu pada masa Paku Buwana IX.
Dengan kajian analisa literatur terkait dengan gending Pangkur
dalam perspektif historis, sebenarnya pendapat para pelaku seni atau seniman
terkait dengan garap vocal macapat, sindenan ataupun gerongan hanya berpijak
pada situasi yang terjadi maupun pada hasil penyajiannya. Kajian analisa
tentang gending Pangkur tersebut bukan
dilihat dari aspek sejarah yang telah tertulis melainkan lebih condong kepada
informasi verbal yang ditularkan melalui turun temurun. Hal tersebut membuat seolah-olah
gerongan gending Pangkur yang benar, hanya di gerongi menggunakan cakepan sekar
Pangkur.
Secara historis gending Pangkur
yang ada, disajikan dengan garap vokal sindenan tanpa menggunakan vokal
gerongan dengan memakai cakepan sekar Macapat Pangkur. Sajian gending Pangkur tersebut digunakan sebagai sajian untuk kebutuhan langendriyan, pada perkembangannya
dimasa Paku Buwana IX munculah gerongan gending Pangkur yang mengambil cakepan
dari syair bedhaya Ludiramadura dengan cakepan syair Kinanti. Selanjutnya dalam
irama wilet ditambahi ngelik dengan mengambil ngelik dari ladrang Eling-Eling Kasmaran.
Perkembangan selanjutnya terdapat aneka garapan gending
Pangkur yang merupakan karya kreatifitas para pelaku seni menyesuaikan
kebutuhan.
Berbagai ragam
garap ladrang Pangkur seperti
yang telah dipaparkan tersebut diatas menunjukkan bahwa sampai tahapan ini gending Pangkur telah mengalami
perkembangan garap vokal dan musikal
sesuai dengan dinamika yang berkembang dalam dunia karawitan. Terkait dengan penyajian gending Pangkur yang
hanya sindenan saja, menggunakan gerongan kinanti, menggunakan gerongan Pangkur
ataupun digarap dengan versi yang lain itu semua disesuaikan dengan kebutuhan
dan selera dari pelaku seninya. Dalam sajian gending Pangkur sudah tidak ada
lagi garapan yang salah dan benar, yang ada hanyalah enak dan tidak enak,
harmonis dan tidak, disesuaikan dengan skill
dari pelaku seni itu sendiri atau dengan kata lain menyesuaikan selera. Dengan
munculnya aneka garapan gending
Pangkur tersebut, yang akan terjadi keberadaan gending Pangkur semakin populer di masyarakat khususnya seni karawitan.
Daftar
Pustaka
Ambarwati U, Suyoto
(2019). “Ngelik Silihan
Dalam Karawitan Gaya Surakarta”. Keteg. Vol.
19. No. 2. hlm. 67-84.
Becker, Judith (1987). “Karawitan Source Readings In Javanese Gamelan And Vocal Music”. America, Center for
South and Southeast Asian Studies The University of Michigan.
Gitosaprojo, R. M. S (1996). “Buku Panduan Rekaman Gendhing Mat-Matan
Volume 5 - 8”. Surakarta: Hadiwijaya.
_____________
(1992). “Titi Laras Gendhing Jilid I”. Surakarta:
Hadiwijaya.
Haryono (1994). “Gending Ketawang Puspawarna Awal Jadi Dan
Perkembangannya”. Yogyakarta. Lembaga Penelitian Institut Seni Yogyakarta.
Kodirun, B.A (1975). “Tuntunan Karawitan Gending Jawi Jilid I”. Surakarta:
T.B Pelajar.
Martapangrawit, R.L (1975). “Pengetahuan Karawitan” Jilid I dan II”.
Surakarta: ASKI.
_____________(1988). “Dibuang
Sayang”. Surakarta: Seti-Aji. ASKI.
Sugiarto, A (1998). “Kumpulan Gending-gending Karya Ki
Nartosabdo”. Semarang : Pemda Tingkat I Jawa Tengah.
Sugimin (2013). “Aneka Garap Ladrang Pangkur”. Keteg. Vol. 13. No. 1. hlm. 88-122.
Sumarsam (2003). “Gamelan: Interaksi
Budaya dan Perkembangan Musikal”. Yogyakarta: Pustaka Pelajar offset.
Warsodiningrat, K.R.T (1979). “Wedhapradangga”. Surakarta: Sekolah
Menengah Kesenian Indonesia.
Link Download File (dibawah ini)
https://id.scribd.com/document/565652360/GENDING-PANGKUR-DALAM-PERSPEKTIF-HISTORY-SEKAR-MACAPAT-SINDENAN-DAN-GERONGAN