AYAK-AYAK TLUTUR SL MANYURA (NOTASI BALUNGAN)
RUMAH SENI BUDAYA, SEKAR ADI WIRAMA, SALAM BUDAYA, MARI KITA MELESTARIKAN ( MELINDUNGI, MEMBINA, MENGEMBANGKAN, DAN MEMANFAATKAN SENI BUDAYA................ SEBAGAI ASET BUDAYA BANGSA............. SERTA UNTUK ANAK CUCU KITA SEBAGAI GENERASI PENERUS BANGSA................ MATURNUWUN.....TERIMA KASIH.... SALAM BUDAYA
24 Feb 2024
11 Feb 2024
RAJAH KALA CAKRA & CARAKA WALIK
RAJAH KALA CAKRA & CARAKA WALIK
KALA CAKRA

Rajah Kalacakra dalam pewayangan bermula dari penulisan mantram sakti di dada Batara Kala oleh Batara Wisnu yang menitis sebagai dalang Kandhabuwana. Dibuatnya Rajah Kalacakra bertujuan agar siapa pun yang membacanya atau mengucapkan mantram tersebut tidak akan menjadi korban gangguan Batara Kala, pembawa sengkala. Kejadian buruk dalam kehidupan manusia dipercayai terkait dengan karma, baik dari masa lalu, perbuatan sekarang, kondisi kelahiran, atau karma orang lain. Ilmu Kalacakra digunakan untuk menangkal dan mengatasi hal tersebut.
Filosofi Ilmu Kalacakra adalah kekuatan gaib yang merubah keburukan menjadi kebaikan. Ini adalah doa kepada Yang Maha Kuasa untuk mengubah kondisi buruk menjadi baik selama hidup dalam kekuasaan waktu (Sang Kala). Mantra Kalacakra, seperti:
"Yamaraja - Jaramaya, Yamarani - Niramaya, Yasilapa - Palasiya, Yamiroda - Daromiya, Yamidosa - Sadomiya, Yadayuda - Dayudaya, Yasiyaca - Cayasiya, Yasihama - Mahasiya,"
merupakan upaya membalik keadaan, menundukkan, bukan menyerang balik. Ilmu ini menjadi perisai pagaran gaib, melindungi dari gangguan mahluk halus, dan memberikan perlindungan dari keburukan dalam kehidupan.
Ilmu Kalacakra, dengan latar belakang keilmuan India dan agama Hindu atau Buddha, dianut oleh kalangan resi. Ini bukan untuk menyerang, tetapi menundukkan dengan cinta kasih. Rajah Kalacakra banyak digunakan dalam ruwatan tradisi Jawa, membaca mantranya untuk melindungi dari ilmu gaib, mengusir mahluk halus, dan mengubah keburukan menjadi kebaikan.
Meskipun ilmu Kalacakra banyak diajarkan di dalam negeri, kebanyakan bersifat ilmu gaib dan khodam. Mantranya hanya berfungsi jika seseorang menerima khodam ilmunya. Kegunaannya meliputi menangkal serangan ilmu gaib, menjauhkan dari mahluk halus, dan mengubah niat jahat menjadi baik.
Ilmu Kalacakra juga terkait dengan keilmuan kebatinan kejawen, dengan orang-orang yang memahaminya memiliki kegaiban yang melibatkan kekuatan sukma. Pagaran gaib dapat dibuat dengan kekuatan sukma atau dengan bantuan benda gaib berkhodam. Wirid amalan Kalacakra perlu dilakukan untuk mempertahankan kekuatan gaibnya.
Dalam mewirid amalan Kalacakra, sensitivitas rasa diperlukan untuk menyesuaikan jumlah wirid sesuai dengan kebutuhan. Pengguna dapat menambah kekuatan pagar gaib dengan mewiridkan amalan lagi. Keseluruhan, ilmu Kalacakra mengajarkan filosofi kebaikan, kesetiaan pada prinsip-prinsip moral, dan penggunaan kekuatan gaib dengan penuh kesadaran.
Kalacakra dalam pewayangan berasal dari penulisan mantram sakti di dada Batara Kala oleh Batara Wisnu yang menyamar sebagai dalang Kandhabuwana. Rajah Kalacakra diciptakan untuk melindungi mereka yang bisa membacanya, memberikan perlindungan dari gangguan Batara Kala, pembawa sengkala.
Kehidupan manusia, selain dipengaruhi oleh nasib dan takdir, juga terkait erat dengan karma. Ilmu Kalacakra diyakini mampu mengubah keburukan menjadi kebaikan dengan mendoakan perubahan kondisi melalui kekuatan gaib Sang Kala atau Sang Hyang Kala.
Filosofi Ilmu Kalacakra berfokus pada mengubah keburukan menjadi kebaikan dan memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk memperbaiki kondisi selama manusia berada di bawah kekuasaan waktu. Mantra Kalacakra, seperti "Yamaraja - Jaramaya," memiliki tujuan membalikkan keadaan dan menundukkan, bukan menyerang balik.
Dalam perkembangannya, Ilmu Kalacakra dijadikan mantra untuk melindungi dari kekuatan magis jahat dan memberikan perisai gaib. Namun, di Indonesia, kebanyakan ilmu Kalacakra lebih fokus pada keilmuan gaib dan khodam, sering digunakan sebagai pertahanan dan serangan gaib.
Rapalan mantra Kalacakra, dengan makna yang dibalik, menunjukkan transformasi dari kejahatan menjadi kebaikan. Ilmu ini, berasal dari tradisi kebatinan India, memiliki asal-usul agama Hindu atau Budha, dengan fokus pada pembebasan manusia dari karma jelek.
Meskipun banyak yang mengajarkan Ilmu Kalacakra dengan membaca mantranya, keberhasilannya bergantung pada penerimaan khodam ilmu atau transfer energi. Seringkali, ilmu ini dihubungkan dengan kegaiban amalan, doa, dan sugesti, yang harus dipertahankan agar tetap kuat.
Ilmu Kalacakra digunakan untuk berbagai tujuan, seperti menangkal serangan gaib, menaklukkan makhluk halus, menjauhkan diri dari kejahatan, dan mengubah niat buruk menjadi baik. Meskipun populer, penggunaannya harus sejalan dengan filosofi dasar, yaitu cinta kasih dan kesediaan untuk tidak membalas kejahatan.
Dalam keilmuan kebatinan kejawen, ilmu serupa diajarkan dengan nama yang berbeda. Keselarasan dengan filosofi dasar kebaikan dan rendah hati menjadi kunci dalam mengaktifkan kegaiban sukma yang terkandung dalam diri manusia.
CARAKA WALIK
Caraka Walik, seringkali diaplikasikan untuk menolak berbagai malapetaka, termasuk teluh, pepasangan, rerajahan, dan sebagainya. Dengan rangkaian aksara Jawa Kuno seperti "nga ta ba ga ma," dapat diartikan sebagai tolak balak dengan menyiratkan makna:
NGA "Ngluruk tanpa sesami" = Bersikap rendah hati, melepaskan egoisme pribadi.
THA "Tansah saka niat" = Berawal dari niat yang tulus dan baik.
BA "Babar layu kang jumeneng" = Menyesuaikan diri dengan kekuatan alam.
GA "Gunggung mami nuwun" = Belajar pada nurani dan kebijaksanaan guru sejati.
MA "Mantep tumindak karo Gusti" = Yakin dan mantap dalam mengikuti kehendak Ilahi.
NYA "Nyumurupi dewe kudu ngerti" = Memahami kodrat kehidupan tanpa tergantung pada pandangan fisik.
YA "Yakti marang titah kang Dumadi" = Yakin pada petunjuk dan kehendak Ilahi.
JA "Jaluk dadi Gusti" = Selalu berusaha menyatu dengan kehendak Ilahi.
DHA "Dhuwur wekasane tumindak" = Yakin pada ketetapan dan kodrat Illahi.
PA "Papan kang tanpa kiblat" = Mengakui keberadaan Tuhan yang melibatkan segala arah.
LA "Lir handaya nyantos jati" = Mengalirkan hidup sesuai petunjuk Ilahi.
WA "Wujud tanpa batas ilmune" = Ilmu manusia terbatas, namun implikasinya dapat melampaui batas.
SA "Sifat kasih handulunipun" = Membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan.
TA "Tatas, tutus, titis, titi, lan wibawa" = Menentukan visi, totalitas, satu pandangan hidup, dan ketelitian.
DA "Dumadi mring dzat kang ora winangenan" = Menerima hidup apa adanya dari Yang Maha Tunggal.
KA "Karsa memayu hayuning bawono" = Hasrat diarahkan untuk keselarasan alam.
RA "Rasa cinta sejati muncul saka cinta nurani" = Cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani.
CA "Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi siji" = Menentukan arah dan tujuan pada Yang Maha Esa.
NA "Nur candra, gaib candra, warsitaning candara" = Harapan manusia selalu pada sinar Ilahi.
HA "Hana hurip wening suci" = Adanya hidup adalah kehendak yang Maha Suci.
Caraka Walik atau caraka sungsang, dengan filosofi aksara Jawa Kuno, digunakan sebagai upaya untuk menghadapi dan membalikkan berbagai malapetaka dalam kehidupan.
Caraka Walik, sering digunakan sebagai upaya untuk menolak berbagai malapetaka, seperti teluh, pepasangan, rerajahan, dan sebagainya. Melalui rangkaian aksara Jawa Kuno, mantra ini diyakini dapat membentuk perlindungan yang kuat. Misalnya, "Nga ta ba ga ma" menyiratkan harapan agar tidak ada kematian, "Nya ya ja da pa" menunjukkan aspirasi untuk menghindari kesaktian, "La wa sa ta da" diartikan sebagai usaha untuk mencegah peperangan, dan "Ka ra ca na ha" berarti tidak ada utusan yang membawa malapetaka.
Makna dari Caraka Walik pun mencerminkan nilai-nilai spiritual dan filosofis. Sebagai contoh, "Tha – Tukul saka niat" merujuk pada pentingnya memulai sesuatu dengan niat yang baik, sementara "Ma – Madep mantep manembah mring Ilahi" menekankan kebutuhan untuk yakin dan mantap dalam menyembah Yang Ilahi. Selain itu, "Ya – Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi" menunjukkan keyakinan atas kehendak Ilahi, dan seterusnya.
Caraka Walik juga bisa dipahami sebagai panduan hidup. Dalam hal ini, "Ta – Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa" menyiratkan perlunya hidup dengan visi yang jelas dan ketelitian dalam pandangan terhadap kehidupan. Begitu pula dengan "Da – Dumadining dzat kang tanpa winangenan" yang mengajarkan untuk menerima hidup apa adanya.
Dalam bahasa Jawa, Hanacaraka disajikan sebagai "ada ucapan, ada kata-kata," sedangkan Datasawala diartikan sebagai "saling perselisihan," dan Padajayanya menunjukkan "adanya adu kekuatan yang sama jayanya." Sebaliknya, memahami makna aksara ini dalam konteks Caraka Walik dapat membantu masyarakat menjauhkan diri dari konflik dan kekerasan.
Top of Form
Top of Form
10 Jan 2024
2 Nov 2023
25 Oct 2023
22 Oct 2023
Daksa Budaya, Aplikasi Perlindungan Kebudayaan dan Inventarisasi Budaya Jatim
Daksa Budaya, Aplikasi Perlindungan Kebudayaan dan Inventarisasi Budaya Jatim
Oleh : Adiyanto
Pamong Budaya Disbudpar Prov. jatim
Amanat Undang-Undang No 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, didalamnya menyatakan terkait perlindungan kebudayaan salah satunya terkait inventarisasi data. Namun amanat Undang Undang tersebut belum dapat dipetakan dalam kerangka yang lebih mudah. Usaha untuk inventarisaasi data yang bisa dilakukan salah satunya adalah program kegiatan pendataan. Inventarisasi data sebagai wujud dari perlindungan kebudayaan dengan mewujudkan Sistem Pendataan Kebudayaan Terpadu yang dapat diakses oleh masyarakat dan terus diperbarui berdasarkan masukan dari para praktisi dan pengguna.
Daksa Budaya adalah
aplikasi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur khususnya
Bidang Kebudayaan yang memuat informasi dan publikasi kebudayaan yang berisikan
data kebudayaan antara lain, event budaya, sarana dan prasarana budaya, warisan
budaya takbenda dan yang lainnya terkait dengan kebudayaan dari 38 (tiga puluh
delapan) Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Jawa Timur. Daksa berasal dari
Bahasa Sansekerta yang bermakna ahli, Daksa Budaya juga merupakan akronim dari
Data Kebudayaan dan Sistem Aplikasi Budaya. Daksa Budaya merupakan salah satu
bentuk implementasi Disbudpar Jatim khususnya Bidang Kebudayaan dalam melakukan
upaya pelindungan kebudayaan yakni melalui inventarisasi data. Aplikasi Daksa Budaya
diharapkan menjadi platform data digital yang akan menyebarluaskan data
kebudayaan secara masif kepada masyarakat, dapat pula menjadi dasar kebijakan
bagi pemerintah melalui dinamika data budaya yang dimiliki Disbudpar Jatim
khususnya Bidang Kebudayaan.
Menurut saya aplikasi digital seperti
Daksa Budaya merupakan sebuah terobosan
yang sangat penting dan relevan untuk pemajuan kebudayaan dalam era digital seperti
saat ini. Dengan adanya aplikasi Daksa Budaya tersebut, kita dapat menggali,
melestarikan, dan mempromosikan keberagaman budaya khususnya di Jawa Timur. Ini
adalah peluang besar untuk memperkuat identitas budaya, meningkatkan kesadaran
masyarakat terhadap warisan budaya, dan mendukung pengembangan kegiatan
kebudayaan secara berkelanjutan sebagai wujud dari pemajuan kebudayaan. Secara
keseluruhan, aplikasi Daksa Budaya memiliki potensi besar untuk memajukan
kebudayaan dengan cara yang berkelanjutan dan terarah. Dalam era digital yang
semakin maju, kebudayaan merupakan aset tak ternilai bagi suatu bangsa. Melalui
beragam ekspresi seni, tradisi, dan nilai-nilai budaya, sebuah masyarakat dapat
mengekspresikan identitasnya serta mengenali dan menghargai perbedaan dengan
masyarakat lain.
Salah satu keuntungan utama dari
aplikasi Daksa Budaya adalah memungkinkan akses informasi budaya yang mudah dan
cepat bagi masyarakat luas. Dengan menghadirkan informasi diantaranya mengenai
seni budaya, warisan budaya, tradisi budaya, dan lainnya terkait dengan budaya.
Aplikasi ini memperluas pemahaman masyarakat tentang identitas budaya mereka
sendiri serta memungkinkan mereka untuk memahami kebudayaan orang lain dengan
lebih baik. Hal ini, pada gilirannya, akan meningkatkan toleransi, saling
pengertian, dan kerjasama antarbudaya.
Selain itu, aplikasi Daksa Budaya
dapat menjadi sarana untuk mendorong generasi muda untuk lebih mengenal,
menghargai, dan mengambil bagian dalam budaya mereka sendiri. Dengan dukungan
teknologi dan penggunaan media yang luas, aplikasi ini memiliki potensi untuk
menarik perhatian anak muda, membantu mengatasi risiko kepunahan budaya, serta
menghidupkan kembali praktik dan tradisi yang mulai terpinggirkan oleh
perkembangan modernisasi. Aplikasi ini tidak hanya untuk konsumsi bagi Jawa
Timur akan tetapi aplikasi ini juga dapat menjadi jendela dunia bagi kebudayaan
suatu bangsa. Dengan penggunaan bahasa yang mudah dipahami dan tampilan yang
menarik, aplikasi ini dapat menarik perhatian pengunjung dari berbagai wilayah.
Dengan demikian, pemajuan kebudayaan dapat ditingkatkan, membawa manfaat
ekonomi bagi masyarakat setempat serta meningkatkan citra positif suatu bangsa
di mata dunia.
Tentu saja, aplikasi Daksa Budaya
harus dibangun dengan berhati-hati dan dengan mengedepankan partisipasi
masyarakat secara luas. Melibatkan para ahli budaya, seniman, dan komunitas
lokal dalam proses pendataan adalah kunci untuk menghadirkan informasi yang
akurat dan menyeluruh. Keterlibatan masyarakat juga dapat memberikan rasa
memiliki terhadap aplikasi ini, sehingga diharapkan akan lebih banyak orang
yang aktif berkontribusi untuk memastikan keberlanjutan dan pengembangan
aplikasi ini.
Namun, perlu diingat bahwa aplikasi Daksa
Budaya bukanlah tujuan akhir, tetapi hanya sebuah alat untuk mencapai tujuan
yang lebih besar, yaitu melestarikan, mempromosikan, dan memajukan kebudayaan sebagai
wujud seperti yang di amanatkan dalam Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. Oleh
karena itu, selain menginventarisasi data budaya, perlu ada upaya konkret untuk
mendukung seniman dan pelaku budaya, menyediakan fasilitas untuk pelestarian seni
budaya, serta menghadirkan edukasi budaya secara menyeluruh di masyarakat.
Aplikasi Daksa Budaya, dalam teorinya,
mungkin tampak sebagai langkah maju untuk memajukan kebudayaan. Namun, seperti
banyak aplikasi teknologi lainnya, aplikasi seperti ini juga memiliki kelemahan
tujuan sebenarnya untuk pemajuan kebudayaan. Diantaranya adalah penggantian
nilai tradisional dengan teknologi. Aplikasi Daksa Budaya berpotensi
menggantikan interaksi langsung dengan nilai-nilai budaya tradisional dengan
teknologi. Dalam mengandalkan aplikasi, generasi muda mungkin kehilangan
pengalaman belajar dan menghayati kebudayaan melalui interaksi fisik dan
pengalaman langsung dengan para sesepuh atau tokoh budaya.
Aplikasi ini mungkin hanya menyajikan
gambaran permukaan tentang kebudayaan, tanpa mampu menangkap esensi dan
kedalaman dari tradisi-tradisi budaya tersebut. Pengguna aplikasi mungkin
merasa puas hanya dengan mengetahui hal-hal dasar tanpa benar-benar memahami
atau mengalami kehidupan sehari-hari dalam kebudayaan tersebut. Aplikasi ini
mungkin dapat mengurangi interaksi sosial dalam memajukan kebudayaan. Penting
untuk diakui bahwa budaya sering kali ditransmisikan melalui interaksi langsung
antara generasi yang lebih tua dan muda, tetapi aplikasi ini dapat menyebabkan
pengurangan dalam pertukaran pengetahuan budaya secara lisan. Meskipun aplikasi
Daksa Budaya mungkin memiliki beberapa manfaat, perlu juga diakui potensi
dampak negatifnya. Penting untuk selalu mempertimbangkan keseimbangan antara
teknologi dan kebudayaan, serta mendekati inovasi digital dengan hati-hati agar
tujuan pemajuan kebudayaan tetap terjaga dan nilainya tidak terkikis. Sementara
aplikasi Daksa Budaya mungkin menawarkan beberapa manfaat dalam upaya memajukan
kebudayaan, penting untuk secara kritis mempertimbangkan dan mencari cara-cara
yang lebih seimbang untuk melestarikan dan menghargai kekayaan budaya tanpa
kehilangan esensinya.
Secara keseluruhan, aplikasi Daksa Budaya
memiliki potensi besar dalam memajukan kebudayaan dengan cara yang inklusif dan
berkesinambungan. Dengan mendorong kolaborasi, pelestarian, dan pemanfaatan
teknologi, dengan kelebihan dan kekurangannya aplikasi ini membuka pintu bagi
keberlanjutan perkembangan budaya. Namun, implementasi yang bijaksana dan
perhatian terhadap aspek privasi, pelibatan masyarakat luas menjadi kunci
kesuksesan agar aplikasi ini benar-benar menjadi alat yang bermanfaat dan
mendukung pemajuan kebudayaan secara berkelanjutan.

















