14 Apr 2019

TEMBANG MACAPAT


TEMBANG  MACAPAT



1.                   Pengertian Tembang Macapat

Jenis tembang menurut bentuk sastra tembang yaitu :
a.        Kakawin (sastra kuna/ kawi, berupa kidung)
b.        Sekar ageng (tembang gedhe, padapala/ pada dirgo, lampah, pedotan)
c.        Sekar tengahan (madya)
d.        Sekar macapat (alit)bentuk sastra sekar tengahan dan macapat, memiliki ciri-ciri : guru gatra, guru wilangan dan guru lagu”
e.        Sekar dolanan (dolanan bocah dan dolanan lagu popular/ dewasa)
f.         Sekar gendhing dan gendhing sekar.

Macapat menurut beberapa ahli dapat diartikan sebagai :
a.    Macapat (maca papat, atau pedotan papat-papat)
b.    Macapat (dalam bentuk wilayah desa/ kecamatan)
c.    Macapat (pat: keblat papat, lima pancer artinya satu orang yang membawa di tengah dan didengar oleh empat penjuru)
d.    Macapat (maca-limpat/ cerdas)
e.    Macapat (maca cepat)
f.     Waosan ( pedhotan sastra yang utama, guna lebih kuat dalam penyampaian pesan melalui Bahasa dan sastra, lagu winengku sastra)
g.    Macapat ( salah satu bentuk/ jenis sastra tenbang)
h.    Macapat (dalam macapat lagu/ maca ro lagu/ maca lu lagu, sastra winengku lagu, sebuah pengelompokkan tembang gedhe pertama, kedua dan macapat)
Menurut Padmosoekotjo (1978: 25) tembang inggih menika reriptan utawi dhapukaning basa mawa paugeran tartamtu (gumathok) ingkang pamaosipun kedah dipunsekaraken ngangge kagunan swanten. Artinya, tembang Macapat adalah karangan atau rangkaian bahasa menggunakan patokan tertentu yang cara membacanya harus dilagukan dengan seni suara. Paugeran dalam tembang macapat yaitu guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan. Sedangkan menurut Mawardi (1992: 9) tembang macapat inggih menika mengku suraos reroncening swanten ingkang mawi titilaras sarta kinathenan rumpakaning basa sumawana sastra ingkang gumathok. Maksudnya, tembang Macapat memiliki arti penataan suara yang menggunakan titi nada dan disertai susunan bahasa serta sastra tertentu.
Dari beberapa pengertian di atas, maka tembang Macapat dapat didefinisikan sebagai karangan atau gabungan kata dengan patokan tertentu dan pembacaannya menggunakan penataan seni suara atau nada disertai susunan bahasa dan sastra.

2.                 Unsur Pokok Tembang Macapat

Dalam pengertiannya, selain menyiratkan gambaran hidup manusia sejak lahir sampai mati, tembang macapat juga mempunyai unsur pokok, karena sebelumnya tembang memiliki arti karangan dengan aturan tertentu dan cara membacanya dilakukan dengan menggunakan seni suara. Dalam pengertian tersebut, unsur pokok yang dimiliki adalah sebagai berikut.
a.       Karangan

Tembang adalah karangan. Karangan sebagai karya manusia seperti para pujangga, sastrawan, guru, dosen, mahasiswa, pembelajar, petani, buruh. Siapa saja diperbolehkan membuat tembang, asal mampu dan mau mentaati  aturan (guru gatra, guru lagu guru wilangan).
b.      Aturan tertentu

Aturan dalam tembang telah ditentukan dan tidak dapat dirubah. Merubah aturan tembang berarti merusak tatanan tembang. Akibatnya, tembang sulit dilagukan nada, irama, dan lagunya, baik dilagukan dengan vokal saja (accapela) maupun dilagukan dengan iringan gamelan.
c.       Cara membaca tembang dilagukan

Cara membaca tembang dilagukan dengan seni suara. Jika tidak dilagukan bukan nembang, tetapi membaca tembang. Agar dapat dilagukan dibuatlah rangkaian nada. Nada-nada ini yang melambangkan tinggi rendahnya suara. Menurut Padmopuspito (Suwardi, 2010: 13) Tembang macapat merupakan tembang yang berasal dari kata “mocone papat papat” (membacanya empat-empat). Hal ini dapat dinalar, karena dalam melagukan macapat hampir selalu silabik (empat suku kata).
Ada beberapa pengertian tentang tembang macapat yang menyatakan bahwa tembang macapat iku tembang anggone maca papat-papat tembang macapat itu tembang yang dilagukan empat-empat (jeda pada setiap empat suku kata)”, dari suku kata larik, dan suku kata selanjutnya sisa dalam setiap lariknya (Suwarna, 2008: 70).
Contoh tembang Mijil :

Dhek samana / durung ana / mijil /                 : 4-4-2

Pangkur miwah / sinom /                                  : 4-2 Dhandhanggula / pocung kinan- / thine /                                      : 4-4-2 Gambuh mega- / truh lawan mas / kintir /                                             : 4-4-2 Durung ana / lair /      :  4-2
Kabeh tembang / kidung /                                : 4-2


d.      Konvensi Struktural Tembang Macapat

Konvensi struktural tembang macapat meliputi aspek sastra dan aspek lagu. Konveksi struktural tembang macapat adalah kaidah atau ketentuan terkait dengan aspek bahasa atau sastra dalam teks tembang macapat. Kaidah dalam tembang macapat meliputi: guru gatra, guru lagu, atau guru wilangan.

              3.            Aturan dan Watak Tembang Macapat

Menurut Suwarna (2008: 88-89) tembang macapat mempunyai tiga aturan yang harus diperhatikan, yaitu:
a.       guru gatra  : jumlah larik setiap bait.
b.      guru wilangan       : jumlah suku kata setiap kalimat/baris.
c.       guru lagu    : suara vokal di akhir baris (dhong-dhing).

Tabel 1: Aturan Setiap Tembang Macapat

No.
Nama Tembang
Aturan
1.
Mijil
10-i, 6-o, 10-e, 10-i, 8-i, 6-u
2.
Kinanthi
8-u, 8-i, 8-a, 8-i, 8-a, 8-i
3.
Sinom
8-a, 8-i, 8-a, 8-i, 7-i, 8-u, 7-a, 8-i, 12-a
4.
Asmaradana
8-1, 8-a, 8-e/o, 8-a, 7-a, 8-u, 8-a
5.
Dhandhanggula
10-i, 10-a, 8-e, 7-u, 9-i, 7-a, 6-u, 8a, 12-i, 7a
6.
Gambuh
7-u, 10-u, 12-i, 8-u, 8-o
7.
Maskumambang
12-i, 6-a, 8-i, 8-a
8.
Durma
12-a, 7-i, 6-a, 7-a, 8-i, 5-a, 7-i
9.
Pangkur
8-a, 11-i, 8-u, 7-a, 12-u, 8-a, 8-i
10.
Megatruh
12-u, 8-i, 8-u, 8-i, 8-o
11.
Pocung
12-u, 6-a, 8-i, 12-a


Banyak baris dalam tiap bait dalam tembang tersebut adalah :
a.    terdiri dari 4 baris
-       Pucung
-       Maskumambang
b.    terdiri dari 5baris
-       Megatruh
-       Gambuh
c.    terdiri dari 6 baris
-       Kinanti
-       Mijil
d.    terdiri dari 7 baris
-       Pangkur
-       Durma
-       Asmarandana
e.    terdiri dari 8 baris
-       Sinom
f.     terdiri dari 9 baris
-       Dandanggula

Sedangkan jenis dan watak tembang macapat ada 11, yaitu:


a.       Mijil berwatak        himbauan      dan     mengasihi.    Cocok digunakan untuk menyampaikan nasehat.
b.      Kinanthi mempunyai watak gembira, senang, cinta kasih. Tembang ini biasanya digunakan untuk menyampaikan piwulang, cerita cinta.
c.       Sinom berwatak lincah dan bermasyarakat. Cocok untuk nasehat dan pendidikan atau pengajaran.
d.      Asmaradana mempunyai watak sedih karena cinta, biasanya  digunakan  dalam cerita cinta.
e.      Dhandhanggula berwatak luwes, indah dan menyenangkan. Tembang ini cocok untuk menyampaikan suasana apapun.
f.        Gambuh berwatak cocok, senang bergaul. Melukiskan kesenangan karena telah menemukan kecocokan.
g.      Maskumambang berwatak memilukan. Tembang ini melukiskan perasaan sedih dan memilukan.
h.      Durma berwatak keras, marah. Tembang ini biasanya digunakan untuk menyamapaikan suasana marah, dan cerita perang.
i.         Pangkur berwatak keras. Tembang ini digunakan untuk menceritakan sesuatu yang keras, cinta yang menyala-nyala atau membara.
j.         Megatruh berwatak prihatin, sedih, biasanya digunakan untuk menceritakan sesuatu penyesalan dan kesedihan.
k.       Pocung berwatak menggemaskan. Biasanya digunakan untuk menyampaikan sesuatu yang lucu dan sesuka hati.

              4.            Beberapa Pengertian Fungsi Tembang Macapat
a.       Sebuah karya sastra yang local genius
-       Karya sastra istimewa, menyampaikan pesan-pesan moral yang mengandung nilai Pendidikan etik, estetik, religi, menjadi inspirasi seniman kreatif (seni sastra)adalah sebuah nilai puisi jawa (sastra dan lagu) yang mencerminkan nilai-nilai yang adiluhung, dapat membangun dan mengembangkan imaginasi.
-       Berbentuk seni sastra ( susastra jawa yang indah) disenangi oleh orang jawa sepanjang masa.
-       Berbentuk metrum yang waton dan beragam, terdiri dari judul/ jenis/ pupuh/ pada/ p[edhotan/ gatra/ wilangan/ lagu yang beragam cengkok lagu dan wiletannya.
b.    Macapat dalam fungsi waosan (lagu winengku sastra) yang artinya lagu sangat dibatasi oleh sastra atau kejelasan sastranya lebih diutamakan daripada keindahan lagunya.
-       Membaca harus benar (maca kudu bener kedaling lesan)
-       Keindahan (ngesing kata)harus dapat diluluhkan, misalnya ngenes ing tyas    menjadi ngenesing tyas.
c.    Macapat dalam pertunjukan
-       Dalam sekar gendhing macapat menjadi gerongan, palaran, sindenan, laras madya, suluk dalang dan sebagainya.
-       Dalam bentuk drama tembang macapat menjadi langen driyan, langen mandrawanaran, drama gong di Bali dan sebagainya.
-       Dalam bentuk upacara adat macapat menjadi hastungkara, macapatan mantra wedha, nebus kembar mayang dan sebagainya
d.    Macapat dalam edukatif, tembang mengandung nilai-nilai pendidikan (estetik, etik, religi, spiritual dan kearifan local).
-       Nilai estetik, keindahan tembang tercermin pada penyusunan penciptaan suku kata (sastra) kalimat lagu suasana lagu dalam metrum tembang macapat, sebagaimana tercipta puisi sastra jawa yang menarik, elok indah dalam sajiannya. Serta Teknik vocal melalui cengkok, wiletan, luk gregel menjadi sesuatu yang mengesankan.
-       Nilai etik, makna yang tersirat dalam syair tembang menyampaikan pesan-pesan yang penting, unggah-ungguh, sopan santun dan sebagai kata-kata pesan moral dalam kearifan lokal.
-       Nilai Religi, nilai ketuhanan tercermin pada bentuk tembang yang isinya tentang ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga menjadi hastungkara.
              5.            Materi Penyajian Macapat
Yang harus dipahami oleh penyajian macapat/ mamaca ialah :
-       Kemampuan suara, kemantapan bobot bunyi suara vokal ( laras/ nada harus pleng slendro dan pelog, cetha/ tidak fals atau blero).
-       Teknik vocal, mengawali bersuara pas dengan nada, menguasai cengkok/ wiletan lagu, menguasai pedhotan lagu winengku ing sastra dan Teknik pernafasan dada, perut dan diagfrahma.
-       Pembawaan, unsur penafsiran seleh andegan gatra dan pada.
-       Penampilan, totalitas penyajian satu kesatuan estetik, unik, menarik dan nengsemake.






SEKAR MACAPAT
SINOM (GRESIK) Laras Pelog Patet Nem



@     #       #   #    @      @    z#x@c!   !  
E-        DAN          MA-    NI-     RA-          KU  -     SU-     MA
!    @    6  5   5   5   5   5
LA-  MUN,   O-   RA   A-    NI-   NGA -  LI

@    @   z@x!x@x#c!       6       5      3      3     3
SE-    DI-         NA                JANG-        KE-         PING         SA-      NGA

1   1    1    1        1       2   z1xc3    z2x1cy
A-     TE-   MA-   HAN               LA-           RA   BRANG-     TI

!    @    @    @    @     z@c!    @  z#x!c@
SA-    WE-  NGI      DA-      TAN-    PA       GU- LING

6    5   3    2    3    5   z5c6      z6x.c3    zyx.x1x2x3x.x2x1c2
TAN   A-      NA    ING-  KANG    KA-     E-             TOK                (YO)

2     3   5    6   6   6   6
MI-    DER  ING-   SUN   KU-   SU-   MA

6    6   6    6    6     z6x5c6   z2cx1   y
NE-   GA-    RA    SA-   BRANG    LAN-      JA-     WI

3   5    6    6     6    6      6   6
TE- MBE    TU-   WUH   DUH  WONG       A-    YU

6      6   z6c5      z3c5     z3c2      z6x.x1x2x3x.x2xcx1c2
KANG    KA-   YA              NDI-        KA                      (YO)



SEKAR MACAPAT
DANDANGGULO (GRESIK) Laras Slendro Patet wolu   



5     6   6   6    6      !     @    @   @   @
SAM- PUN   SU-   RUP HYANG    PRA-  TANG-  GA     PA-    TI

@    @    @   z!x6x!c@    6     6     6      6    6    6
PAN  GE-  GEN-      TEN       PA-      DHANGING   HYANG  CAN- DRA 

5    6    6    6  6   z6c5     z5x6x!c@  z!x6xc5
NU-   LI       DI-    PUN  TA- NGGAP          A-        KE

6     !    @     !   !    6  z5x6x!c5
ING     WAYANG    GE-   DOG    SA- MPUN

2    2    2   2     2    2    2   2   z1xyx1c2  z1xyx1cy
MI-  WAH    TO-  PENG    WA- YANG    KE- RU-  CIL         (YO I)

56    6  6   6   6      6   zx!x6x!c5
PUN     U-   GI    WA- YANG    PUR-    WA

5    5   5    z3x2x3c5    z1c21   zyct
KA-  LA-  WAN    WONG      NGI- DUNG

z6c!   !    !    !    !   !     !   !
MI-  WAH   ING- KANG    RI-NGGIT   JAL-  MA

5      6   !  z6x.x!x@x6x!x.c5    2  2    2   2  2  1    y    1  2
SANG    PA-  NDI  -   TA                EN-TING     SU- KA- NI-  PUN  SANG   RE- SI

2     2   2   2   3     z2c3    z2c1     ztxycq
WUS   AN- TUK     PI- TUNG   NDI-        NA              (YO)


SEKAR MACAPAT
PANGKUR KASMARAN Laras Pelog Patet Nem

y   1  1   1   1    z1x2c1  3  3
DE-     DU-  GA      LA-  WAN          PRA-     YO- GA

  2     3   3   3    2   1   y    1   2    3   z2x.x1x2c1
MYANG   WA-  TA-  RA     RI-   RI-    NGO     HA- YWA   LA-         LI

5   6    !   !   !     !   z!c@   @
I-      KU     PA-   RA-   BOT    SA-     TU-     HU

6     5   5   5     5   z6c5   3
TAN    KE-   NA     TI-    NING-   GA-    LA

3    3     2    3    2   1    1   1    y    1    2  3
TA-  NGI     LUNG-GUH      A-   NGA-  DEG    TU-  WIN     LU-   MA-  KU

1    1   1     1   1     1       1   1
A-     NGU- CAP    ME- NENG     MYANG    NEN- DRA

1    2   3   3    2    2   z3x2c1  1
DU-  GA-    DU-   GA      A-    YWA     KE-     RI
  










SEKAR MACAPAT
GAMBUH  GLIYUNG Laras Pelog Patet Nem


@   @     @   #   !  z@c!   6
TU- TUR    BE-  CIK      PU-   NI-     KU

3   5     3  2   !   @  #    !   z@x!c  6
SA-  YEK-  TI-  NE      A-    PAN-TES  TI -      NI-  RU

2    1     2   3   3   5     6    5  3    zzzzzz2c3  z1c2  2
NA- DYAN    ME-  TU    SA- KING   WONG  SU-  DRA    PE-    PE-   KI

6    6    6   6    5    3   5   6
LAN   BE-  CIK     A-   NGGO- NE     MU-  RUK

!   @   #    !     5  z6c7     5   6
I-    KU    PA-  NTES         SI-    RA      ENG- GO.















SEKAR MACAPAT
SINOM JABUNG (MALANG) Laras Pelog Patet Nem


@     #    #  #    @   @   6  z7x c@
GO-   LAR     GA- LIR     KE-  NA   GU-  NA

@        @   #      @  7    5   2   z3x c5
WONG     MBA- THIK      SI-  NAM-  BI      NA-   NGIS

7     @    #    @   7    z6x c7   5  6
MA-   LAM    WU-  TAH    BE-     LA-      BA-  RAN

2   u     2  z3x5c6   2    2   z3x c2  zux cy
GE-   NI      MU-  RUB     DEN   DA-      MO-     NI

z5x c6     6    6    6   6   z6x c5   6  7
CAN-    THING- E        DEN    U-     RING    U-  RING

5    5    5     5  6      7    z5x6c5  z3c2
GA-  WA-  NGAN      SI-  NAN-     DUNG    PU-  TUNG

6    7   7     7     7    7  z7c@   7
RU-  JAK   GA- DHUNG   MAS    PA- NGE-  RAN

3    3   3     3  5     6z xc7   z2x3c2  zux cy
KE- CU-  BUNG      LO- RO       MEN-     DE-       MI

5    6    6   6      6     6  6    6     z5c3 z5x6c7   z5x6c5 z3c2
E-    MAN      E-    MAN   WONG        A-  YU   KANG       KE-  NA      GU-   NA








SEKAR MACAPAT
DANDANGGULA (NATAKUSUMAN) Laras Pelog Patet Nem


6   !   !   !   !    @   @   @    @   @
YO-GYA -NI-   RA  KANG   PA  -RA   PRA-   JU-  RIT

!    !   @   !   6   5   5   5   5   5
 LA- MUN  BI-   SA    SA-    MI     A-    NU-   LA-  DA

6    !   @   !   6   z5c6   3   5
DUK  ING    U-    NI     CA-    RI-    TA-  NE

!    @   @   @   @     z@c#   !
 AN-   DE-  LI-    RA   SANG    PRA-  BU

6    z5c6   2   1   1   1   1    1   1
 SA-   SRA-   BA-  HU   ING   MA-  HES-   PA-  TI

6    !    z@x c!  6    5  3    z1c2
A-    RAN         PA-   TIH      SU- WAN  -DA

1   1  1    1     z1x2c1  zyct
 LE- LA- BU -HAN-           I-     PUN

  1      2  2   2      3   5    5   5
 KANG      GI-   NE- LUNG     TRI    PRA- KA-   RA,

5    5   z6x5c3  z2c1   1  1  1    1     1    2   2  2
 GU - NA-     KA-   YA     PU- RU-NE    KANG    DEN    AN- TE-  PI

 2    2  2   z2x c3    z2c1  z3x2c1    1
 NU-   HO- NI    TRAH          U-      TA-    MA



SEKAR MACAPAT
ASMARANDANA ( MALANG ) Laras Pelog Patet Barang



7      5    5     5     5     6    z7x c6  z6c7
YEN      SA-    GET        NYRA-   TE-        NI        NE-      KI

2   3  5    5   5   5    z6c5       z3x.c2
U-   RI-  PE       ING   A-  LAM       NDO-          NYA

5    6   7    z7x.x6x.x4xc      2     3   4     z4x3c4
O-     RA     NE-          MEN             SANG-  SA-   RA-        NE

zuc2     2     2   2   2    2   2    2
LAN         MA-    LIH    KA-  WE-    RU-   HA-    NA

2    3     z4x2x4x3c       2     2    2      2   2
TI-    NGGA-      LA-               NE        TI-   YANG       KI -  NA

2    3     4   4    4     4      z4c6      z6x.x7x6x4c3
NI-     KU        SE-    JA-    TI-       NENG          IL-           MU

3       3    3    3    3    3      z3c5        z5x.x7x6x5x.x3x4x.x2x4x3c2
KANG    TU-   MRAP    ING       A-     LAM         PA-                   DHANG












                                         

SEKAR MACAPAT
MIJIL LARASATI Laras Slendro Pathet Manyuro


3    6    !  !  !   @     #  #    #  #
PO-   MA     KA- KI   PA-  DHA    DI-  PUN      E-  LING

!    !   !  !     z@x!c6  6
 ING  PI-   TU-  TUR      ING-ONG

6  !    6  z!c@   6   3    5  6  3  z2x.c1
SI-   RA    U-   GA       SA-   TRI-  YA    A-   RA-   NE

1   2     1   3    2  1    1   1    1  1
KU- DU      AN- TENG    JAT- MI-  KA    ING     BU- DI

2    3    3   3   z3c5  3
RU-RUH    SAR-  TA     WA-  SIS

2    2   1   3    z1c2  z1cy
SA- MU-   BA-   RANG-   I-    PUN






















SEKAR MACAPAT
KINANTHI Laras Pelog Pathet Barang


6    7   @   @    @    @   z@c#  z7x@c#
YEK-TI-    NE       U-    RIP      PU-      NI-     KU

@   @   z@x c#     z7x@c#   6   7       2  zuxx2x3x2cu
KU-  DU        E-          LING    MA-  RANG     GUS-   TI

@     @     #    @      7     6   z7x6x5c6  6
TI-    NDAK      TA-   NDUK    KANG        U-      TA-        MA

@    7    6   zx7x6x5c6   3     z3x2cu   2  z3x4x3x2c3
KAR-  YE- NAK    TYAS      ING      SE-         SA-     MA

2    2   3   z5xc6   3   2      z2x3c2  zucy
DEN    E-  LI-    NGA     LA-MUN      MBE-NJANG

y-     u    2      2    2    2  z3x2xucy   zux2x.x3x2cu
MA- NUNG-    SA      NGU-NDUH        PA-   KAR-           TI























                                          SEKAR MACAPAT
                   MASKUMAMBANG Laras Pelog Pathet Nem


5       6     !   !   !  !  !    !      @  #  z!x@c! z!x6c5
WONG   TAN     MA-NUT     PI-  TU- TUR   WONG   TU- WA     U-      GI

!  z@c#  #     #   z#x@x!c6  z!c@
A-   NE-   MU     DU-     RA-     KA

6     5   5    5   6     z!x@x!c@   z6x5c3  z2x1x2c1
ING   NDO-NYA    T U-   ME-      KENG        A-         KIR

1      2    3    1  2    3      zc3c2  z2x3c5
TAN    WU-  RUNG     KA- SU- RANG-        SU-    RANG
































SEKAR MACAPAT
MEGATRUH Laras Pelog Pathet Barang

6   7   @  @    @  @  @    @  @   @   z7c6  z7x@x.x#x@c7
PE-   GAT     PE-  GAT     SI-   NAR-TAN        TE-   TES-  ING           E-          LUH

@    z#x@x#c@   7    6    5    7  z7c5 z7x6x5x6c5
LU-    LUH        ING    MA-   HA     KA— EK-    SI

2  z3c5    5     5     5  5    z5c7  z6x5x6c5
SI-   NE-   RAP     MRIH       A-  JA        LU-     NTUR

3  2   2    2     3   z5c6  2    zux2x3x2cu
I-     SI     TU-TUR         AN-    JA-    GE-       NI

5  6      6   6  z6c5  z3x5x6c7     z5x7x6c5   z3x2x3c2
NI- MAS     MUS- TI-    KA –    NE            WA-        DON



























SEKAR MACAPAT
ASMARANDANA (MAJAPAHITAN) Laras Slendro Patet Manyura

@   #   #   #   @   @   z#c%   z!c6   z5c6
BE-     LA     BANG- SA     LAN     NA-      GA-          RI        (YOI)

@   #   #   #   @     6   z6x!c6   z5c3
I-     KU   TIN-DAK  KANG    U-       TA-      MA

3    3   3     5    3    z2c3    3   3
NGI-  SI MRING     KA-   MAR-     DI-       KA-NE

z3c5     5    5    3    3    3    3
NGLU- HUR-     A-      KE      BU-      DA-    YA

z3c2    2    2    2    2    2    2
BA-       SA    LAN     SAS-   TRA     CE-    THA


z2c3     3    3    3     !    !    z!c@     z!x.x6x@x!c6
RAK-   YAT      KU-     AT      TRUS    AM-      BA-           NGUN

6    6    6    6    5    z5c3    z!c6    z3c2    zyx1c2
JA-    TI         DI-      RI       NING    PRI-     YANG-   GA        (YA)



Cengkok lain

3    6    !    z!c@    6    3    z!c6    z3c2    zyx1c2
JA-     TI        DI-        RI       NING PRI-    YANG-     GA        (YA)









SEKAR MACAPAT
MEGATRUH Laras Slendro Patet Manyura

6    3    5    6    6    5    6    3    !   !    z!c@   z!c6
A-     YWA     PE-   GAT   ANG-   GA-    YUH    WU-    WU-   ING    KA-  WRUH

6    !    !    z!c@    6    3    z3c5    z3c2
NGU- DI     UN-       DAK-     ING     PA-     NGER-   TI

2    1    2    z3c5    2    2    z2x3c2    z1cy
KAN-THI     MA-      DEP     MAN-TEP        TE-       KUN

2    1    2    3     2    1    z2c1    y
TE-   KUN   TE-       KAT     TE-      KI-        TE-      KI

5    5    z5c6    2    3    5    z5c6    z5c3
ING TEM-      BE       BA-     KAL    KE-      LA-      KON




























                                                DAFTAR PUSTAKA

Adiyanto, “Karawitan Jawatimuran” Surabaya; Karunia; 2016.
Endraswara, Suwardi, “Tuntunan Tembang jawa” Yogyakarta; Lumbung Ilmu Fajar; 2010.
Luwar, “Macapat Gaya Gresik” Surabaya; Karunia; 2008.
Mawardi, “Tuntunan Sekar Macapat” Solo;Tiga Serangkai; 1992.
Padmosoekotjo, “Suluk Pedalangan Abasa Jawi Kina Ingkang Leres Tuwin Katranganing Tembung-Tembungipun” Surabaya; Citra jaya Murti; 1978.
Saputro, Darmono, “Serba-Serbi Tetembangan Macapat Berbagai Aspek, Sudut Pandang dan Teknik Penyajiannya” Surabaya; Lembaga ;Javanologi Surabaya, 2014.
Supatmi, “Tembang-Tembang Palaran Cengkok Gagrag Surakarta-Yogyakarta” Surakarta; Cendrawasih;
Widodo, Sri, “Ketrampilan Karawitan(Ajar Nabuh Gamelan)” Surakarta; Cendrawasih; 1996.








BIODATA NARASUMBER 



Adiyanto dilahirkan                di Semarang, 02 Juli 1982. Sejak kecil ia sudah diajari oleh orang tuanya di bidang seni, diantaranya, seni karawitan, pedalangan dan seni tatah sungging wayang. Setelah remaja Ia mematangkan ketrampilan olah seninya di SMKN 8 Surakarta Jurusan Karawitan pada tahun 1998,
kemudian melanjutkan kuliah di STSI Surakarta pada tahun 2001 sampai semester 4 transfer ke STKW Surabaya lulus pada tahun 2006. Sejak tahun 2011 di angkat menjadi Pegawai Negeri Sipil di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur Bidang Budaya, Seni dan Perfilman. Kemudian pada tahun 2015 diangkat sebagai Pamong Budaya Jawa Timur sampai sekarang. Dan pada tahun 2016 diangkat sebagai tim penilai Pamong Budaya tingkat Provinsi Jawa Timur. Di sela-sela kesibukanya sebagai Pamong Budaya Ia juga aktif sebagai seniman, baik pelaku seni, pengkarya
seni dan pemerhati seni. Ia juga aktif di berbagai Sanggar Karawitan Pedalangan, Karawitan dan Campursari di berbagai sanggar diantaranya : Sanggar Sekar Melati Sanggar Elektro Budoyo di ITS Surabaya Jurusan Elektro, dan Sanggar Maesa Kencana, Petro Kimia Gresik.

Pengalaman Berkesenian

1.    3 (tiga) Dalang Penyaji Terbaik Bidang Sabet pada Festival Dalang dalam rangka Pekan Wayang se Jawa Timur tahun 1999 di Surabaya.
2.    3 (tiga) Dalang Penyaji Terbaik Bidang Sanggit Cerita pada Festival Dalang dalam rangka Pekan Wayang se Jawa Timur tahun 1999 di Surabaya.
3.    Sebagai Pengamat Daerah pada Parade Lagu daerah Taman Mini “ Indonesia Indah” tahun 2011 mewakili provinsi Jawa Timur.
4.    Menjadi salah satu  pemusik dalam pertunjukan Festival Kesenian Indonesia III tingkat Nasional tahun 2011 di Surabaya.
5.    Duta Seni mewakili Indonesia ke Ho Chi Mint City, Vietnam pada tahun 2005.
6.    Komposer dalam Festival Gegitaan tingkat Nasional pada tahun 2013 di Jogjakarta.
7.    Komposer Iringan Tari Ganggasmara dalam acara Festival Tari
Sakral tingkat Nasional pada tahun 2013 di Jogjakarta.
8.    Juara 1 (satu) Komposer Iringan Tari Kidung Kasanga dalam acara Festival tari Sakral tingkat Provinsi Jawa Timur pada tahun 2014 di Sidoarjo. Sampai sekarang karya tari tersebut masih di gunakan pada acara Tawur Kesanga rangkaian Hari Raya Nyepi di Surabaya sampai Sekarang.
9.    Komposer Iringan Tari Mandaragiri dalam acara  melasti tingkat Provinsi Jawa Timur di Surabaya.
10. Komposer Iringan Tari Nawa Cita Negara Kertagama dalam acara Mahasaba Tingkat Nasional pada tahun 2016 di Surabaya.
Alamat Rumah : Perum Graha Angkasa RRI Blok F/12, waru, Sidoarjo
HP. 081554034724





TANTANGAN PEGAWAI PEMERINTAHAN DAN POLITIK KEBOHONGAN


TANTANGAN PEGAWAI PEMERINTAHAN DAN POLITIK KEBOHONGAN

Sekarang ini memasuki tahun 2019, yang disebut tahun politik. Penyelenggaraan pemilu makin dekat, dan persaingan antar calon untuk para wakil rakyat dan presiden makin memanas. Kita lihat di pemberitaan medsos banyak sekali kita saksikan pertarungan politik dengan upaya menyebar banyak kebohongan, menawarkan janji-janji yang tidak mungkin bisa di impementasikan. Dengan gampangnya solusi dangkal ditawarkan dan dianggap solusi paling ampuh.
Kemudahan yang dihadirkan lewat teknologi digital di manfaatkan untuk memunculkan berita-berita bohong demi menciptakan kebencian dengan memanipulasi fakta. Menyebarkan hoaks dianggap bukan lagi sebagai perbuatan yang hina. Mereka tidak sadar bahwa cara-cara berpolitik seperti ini akan mendatangkan bahaya. Akan tetapi demi untuk mencari dukungan, pertimbangan soal baik dan buruk itu ditinggalkan tidak sedikit pula orang yang termakan dan bahkan menggandrungi pola kampanye yang seperti ini.
Lalu siapa saya aktor dari praktik berpolitik seperti ini?. Mereka adalah orang-orang yang berpendidikan, elite parpol, bahkan kelompok masyarakat yang mempunyai pengaruh dan punya gelar kehormatan tinggi di masyarakat tersebut. Kalaupun ada yang ketahuan perilaku kebohongan ini, mereka umumnya hanya pion yang diatur sekelompok elite.
Dengan adanya persoalan tersebut, bahwa pendidikan tinggi, gelar kehormatan di masyarakat dan jabatan yang tinggi, tidak menjamin orang tersebut untuk berprilaku yang baik. Hal itu bisa sebagai instrument untuk berbagai macam kepentingan, termasuk demi uang dan kekuasaan.
Ternyata tidak hanya di tahun-tahun politik seperti ini berita kebohongan itu terjadi. Hal tersebut sebenarnya sudah ada sejak lama.  mengapa demikian? Sudah tidak asing lagi bahwa rata- rata para pejabat yang mempunyai kuasa lah yang sering membuat berita kebohongan, walaupun itu tidak semuanya.
Permasalahan inilah yang menjadikan salah satu tidak idealnya kinerja di pemerintahan dikarenakan prosesnya yang tidak benar. Proses untuk memperoleh jabatan yang tidak benar, yang hanya diperoleh bukan berdasarkan kompetensi sesuai dengan keahliannya. Akan tetapi hanya lewat perkenalan dan uang. Sehingga siapa yang punya kedekatan dengan para pejabat atau pimpinan serta uang maka merekalah yang akan direkomendasikan untuk menjadi pimpinan di tingkat bawahnya.
Dengan adanya permasalahan tersebut, mendorong saya untuk memberikan beberapa catatan diantaranya adalah: pertama, para pejabat pemerintah yaitu Kepala Dinas, Kepala Bidang dan Kepala Upt atau yang lainnya harusnya resah ketika para pegawai bawahannya resah. mereka seharusnya berfikir bahwa apa yang diresahkan pegawai bawahan tersebut sesungguhnya bukanlah hal yang salah untuk bisa di pertimbangkan sebagai masukan ataupun saran demi kemajuan suatu lembaga pemerintahan. Kedua, permasalahan kebohongan yang sering terjadi, patut disesalkan karena dilakukan oleh pejabat atau pemimpin kita yang seharusnya memberikan contoh sikap dan perilaku yang baik kepada pegawai bawahannya. Bagaimana kita bisa berharap supaya lembaga pemerintahan ini maju kalau para pejabat atau pemimpin kita tidak layak untuk dijadikan sebagai panutan. Ketiga, permasalahan kebohongan seperti ini kalau tidak dapat diatasi secara efektif, maka eskalasi permasalahan yang melibatkan para pejabat pemerintahan dan pegawai bawahan dapat berkembang menjadi bola salju yang dapat meruntuhkan sendi-sendi tatanan lembaga pemerintahan. Keempat, di lembaga pemerintahan harus ada keterbukaan untuk saling mengenal antara pegawai, baik pegawai bawahan maupun para pejabat. Karena hal yang harus di hilangkan adalah eksklusivisme, yang berujung pada keangkuhan dan egoisme pribadi. Bahaya dari eksklusivisme ini nyata lewat cara kerja para pimpinan yang hanya percaya pada informasi yang mereka ciptakan, dengan tidak mau percaya kepada pegawai bawahan  sebagai pembanding. Sehingga yang terjadi mereka menciptakan jarak antara pegawai yang satu dengan yang lain.
Upaya melawan hal ini, para pimpinan yang tertinggi setingkat Presiden ataupun Kepala Daerah, harus mengubah sistem  untuk perekrutan pegawai yang transparan dan akuntabel, serta memilih pejabat yang sesuai dengan speksifikasinya dan harus dibuka secara kompetitif dan transparan, sehingga menghasilkan para pejabat yang benar-benar berkwalitas serta mempunyai mental yang baik. Dan juga mereka memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi contoh dan tauladan untuk para pegawai bawahannya.
Kita merindukan para pegawai pemerintah yang memiliki kesadaran dan mental yang baik sehingga terbentuk harmoni dalam pemerintahan, sebagai pegawai dan abdi negara. Kita merindukan pegawai-pegawai yang mengabdi pada kebenaran. Dengan demikian, di masa depan kita bisa menciptakan pegawai-pegawai yang akan muncul dan bersuara tegas menolak kebohongan, dan secara jernih menghadirkan kebenaran. Kita merindukan pegawaii masa depan yang memegang prinsip, apa artinya kekuasaan jika diraih dengan cara nista.
   
Penulis :
Nama             :  Adiyanto, S.Sn,MM
Jabatan          :  Pamong Budaya Ahli Muda, Prov. Jatim.


tulisan ini pernah dimuat di pojokkiri korane rakyat
pada Kamis Pahing 17 Januari 2019


 

KAMPUS STKW PERLU KETEGASAN




KAMPUS STKW PERLU KETEGASAN

Tahukah anda bahwa Kampus STKW (Sekolah Tinggi kesenian Wilwatikta Surabaya) untuk menjadi kampus yang maju secara kwalitas serta dapat bersaing dengan kampus seni yang lain, maka perlu ketegasan pemangku kepentingan yaitu Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam hal ini Upt. Pemberdayaan Lembaga Seni dan Ekonomi Kreatif Wilwatikta, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Jatim, sebagai Instansi yang bertanggung jawab untuk melakukan pengawasan terhadap lembaga seni yaitu STKW Surabaya.
Ketegasan disini bukan berarti sewenang-wenang, bersikap semaunya. Ketegasan yang penulis maksudkan adalah lebih kearah transparansi, membuat kebijakan yang benar, mentaati aturan, selalu membuat keputusan untuk kesejahteraan orang banyak. Apabila ketegasan tersebut sudah dilakukan maka tidak menutup kemungkinan STKW akan lebih maju dan dapat bersaing dengan kampus seni yang lain.
Dinamika persoalan yang ada di STKW saat ini ditandai oleh beberapa hal diantaranya: dengan adanya kebijakan pemangku kepentingan masalah kesejahteraan para dosen yang tidak seimbang dan tebang pilih antara dosen DPK, Dosen Yayasan dan Dosen Luar Biasa. Sehingga yang terjadi antara dosen yang satu dengan yang lain saling iren, sikut-sikutan dan tidak akur, ada istilah “pinter ora manut disisihke, bodho ning manut tetep dienggo” (pandai didak sejalan dengan pimpinan di buang, bodoh tapi sejalan dengan pimpinan tetap di gunakan).
Ketika penulis berbicara dengan salah satu dosen luar biasa, Beliau mengatakan kalau gajinya tidak seimbang dengan biaya transportasi, waktu dan tenaga. Akan tetapi Beliau tetap mengajar karena ada panggilan batin yang mana STKW sudah menjadi satu dengan jiwanya. Dengan adanya hal ini masih banyak pejuang STKW yang tulus untuk kemajuan STKW. Akan tetapi dengan adanya persoalan itu, artinya kebijakan pimpinan belum ada perhatian tentang kesejahteraan kepada dosen luar biasa. Selain itu banyak para dosen yang diberikan tuntutan serta target untuk mengikuti seminar nasional, sosialisasi publikasi kampus, penelitian internal kampus, menjalin kerjasama dengan pihak lain dan membuka jaringan seluar-luasnya. Sayangnya hal tersebut tidak disertai dengan dukungan dana dari pihak administrasi, kalaupun ada jumlahnya hanya secukup cukupnya dan ada kemungkinan dosen yang tombok. Dengan demikian perlu adanya ketegasan dari pemangku kepentingan untuk merombak tatanan yang ada baik secara tata kelola, tata pamong dan secara administrasi.
Struktural STKW yang asal asalan
Ditahun 2019 terjadi perombakan struktural STKW yang penulis rasakan masih asal-asalan dan tidak mengutamakan profesionalisme dalam proses pembentukannya. Pertama yaitu jabatan Ketua STKW di jabat lebih dari dua periode. yaitu Dr. H. Jarianto, M.Si yang menjabat Ketua STKW selama empat periode: pertama tahun 2006-2010, kedua tahun 2010-1014, ketiga tahun 2014-2018, keempat tahun 2018-2022.  Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan RI Nomor 67 tahun 2008 pada Pasal 12 dijelaskan, bahwa masa jabatan pimpinan perguruan tinggi dan pimpinan fakultas adalah 4 tahun dan dapat diangkat kembali dengan ketentuan tidak lebih dari 2 kali masa jabatan berturut-turut. Itu artinya untuk jabatan ketua STKW saat ini sudah menyalahi regulasi yang ada.
Kedua, Jabatan Pembantu Ketua II (bagian keuangan, SDM dan Kerjasama) di jabat oleh Kepala UPT Pemberdayaan Lembaga Seni dan Ekonomi Kreatif Wiwatikta (PLSW), serta Kepala Unit Informasi dan Teknologi (IT) yang di jabat oleh Kasubag TU UPT PLSW.  Menurut penulis hal tersebut adalah suatu hal yang kurang benar secara administrasi. Seharusnya Kepala UPT PLSW  tidak merangkap sebagai Pembantu Ketua II bagian Keuangann, SDM dan Kerjasama, karena tugas Kepala UPT adalah melakukan monitoring, evaluasi anggaran yang dikelola oleh STKW. Sehingga ketika jabatan tersebut dirangkap, maka yang terjadi pelaporan anggaran STKW di monitoring sendiri oleh Kepala UPT karena orangnya adalah sama. Dengan demikan secara administrasi di STKW menjadi kurang sehat, salah satunya adalah gampang terjadi penyalahgunaan anggaran.
Dengan adanya kasus tersebut, menurut penulis sebaiknya dengan alasan apapun jabatan pembantu ketua II (bidang keuangan, SDM dan kerjasama) serta Kepala Unit Informasi dan Teknologi (IT)   harus di jabat oleh orang lain di luar pegawai UPT PLSW, sehingga yang terjadi untuk pengelolaan dan pelaporan anggaran di STKW bisa di monitoring serta evaluasi oleh Kepala UPT PLSW sesuai dengan prosedur.  Sehingga secara administrasi bisa dilakukan dengan benar dan tentunya tidak ada rekayasa dalam pelaporan anggaran.
Ketiga, kinerja pegawai UPT PLSW dan STKW saat ini carut marut, artinya untuk pekerjaan atas nama STKW seperti Akademik, kemahasiswaan, program kegiatan kampus dan yang lainnya, UPT  PLSW selalu ikut intervensi sehingga STKW sendiri tidak bisa mandiri dalam pengelolaan kampus.
Dengan adanya permasalahan tersebut, menurut penulis struktural STKW  harus di benahi. Pertama, dalam perekrutan jabatan struktural di STKW harus aja lelang jabatan, dengan cara kompetisi secara terbuka, tentunya dengan syarat administrasi yang benar, sehingga akan menjaring para pejabat struktural yang berkwalitas yang berkomitmen untuk memajukan STKW secara tulus tidak hanya sekedar omong kosong. Kedua, dosen pengajar harus di berikan kesejahteraan yang cukup serta tunjangan yang lebih agar seimbang dengan kinerja serta jerih payahnya. Ketiga, antara STKW dan UPT PLSW harus pisah, karena STKW dan UPT PLSW adalah dua instansi yang berbeda yang mana mempunyai tupoksi masing-masing.

STKW Menjadi Kampus Negeri
             Ditahun 2012 kita melihat Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengintruksikan agar Sekolah Tinggi Seni menjadi ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia) diantaranya STSI Bandung, ISI Jogjakarta, ISI Surakarta, ISI Padang Panjang, ISI Denpasar, ditambah dengan Papua, ditambah dengan STKW, ditambah dengan Makasar dan Kalimantan, juga Aceh. Dari semua perguruan tinggi itu hanya STKW yang tidak mau menjadi ISBI, sedangkan perguruan tinggi yang lain sudah berjalan sampai sekarang.
Penulis pernah berbicara dengan  kepala UPT PLSW soal penegerian STKW, Beliau mengatakan bahwa STKW masih dalam proses menuju penegerian tersebut, sedangkan prosesnya sampai mana, masih perlu dipertanyakan. Dengan melihat permasalahan diatas menurut pengamatan penulis selama ini, kelihatannya para pemangku kepentingan di STKW masih setengah hati untuk memajukan STKW. Mengapa demikian?.   Mencermati STKW saat ini, secara umum para pemangku kepentingan masih keberatan untuk membuat perubahan yang akan membawa STKW lebih maju dan punya daya saing. Padahal banyak para pejuang untuk STKW yang rela mengabdikan diri puluhan tahun hanya untuk STKW, akan tetapi para pemangku kepentingan hanya ingin meraup keuntungan, bisa menikmati kekuasaan dengan merasa paling benar sendiri (kemingsun) tanpa tahu batin para pengabdi di STKW. Maka dari itu untuk kemajuan STKW diperlukan ketulusan hati baik dari para pemangku kebijakan maupun semua orang di STKW. Dengan kebersamaan perjuangan untuk STKW akan lebih mudah, karena perjuangan ini belum selesai.
Menurut penulis, dengan banyaknya gambaran persoalan di STKW yang ada, maka untuk kemajuan STKW harus tetap mengarah ke penegerian. Menurut Dr Ir Patdono Suwignjo,M.Eng.Sc, Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti mengatakan bahwa saat ini pemerintah masih melaksanakan moratorium penegerian. Akan tetapi sambil menunggu moratorium, perguruan tinggi swasta bisa menjadi perguruan tinggi lewat Program Studi Diluar Kampus Utama (PSDKU). Seperti contohnya untuk saat ini politeknik kediri yang sudah menjadi negeri lewat jalur PSDKU. Sehingga STKW juga bisa untuk menjadi kampus negeri lewat jalur PSDKU supaya pengelolaan kelembagaan, anggaran bisa mengikuti ketentuan di kemenristekdikti yang nantinya STKW bisa lebih kredibel, sejahtera, maju dan masih banyak keuntungan yang lain. Apabila STKW masih berada dibawah UPT PLSW Disbudpar Prov. Jatim, atau mungkin masih dibawah yayasan Wilwatikta, maka penulis yakin dalam beberapa tahun kedepan STKW hanya akan menjadi kampus pengemis, miskin dan tanpa kehormatan.
Sebagai pegawai Negeri Sipil dan alumni STKW, penulis tetap konsisten untuk bersikap selalu ngelingke terhadap pemerintah, bukan berarti bersikap kritis. Hal ini diharapkan supaya STKW bisa mengalami perubahan untuk lebih maji, dan selain itu bisa memperbaiki mekanisme kinerja dipemerintahan supaya sesuai dengan prosedur yang ada dan bersih dari tindak yang kurang benar.

Penulis :

Adiyanto, S.Sn, MM
Pamong Budaya Ahli Muda
Disbudpar Prov. Jatim

tulisan ini pernah diunggah di 
koran harian Pojok Mataraman Selasa Kliwon, 26 Maret 2019

 pada tanggal 25 maret 2019


pada tanggal 6 April 2019