3 Mar 2020

WAYANG PAMEKASAN PUNAH, TANPA PENERUS



WAYANG PAMEKASAN PUNAH, TANPA PENERUS
Kesenian tradisional wayang kulit Pamekasan, di Madura, sekarang ini sudah punah karena tidak ada lagi generasi baru yang meneruskannya. Para dalang tua yang menguasai wayang dengan dialog berbahasa khas Madura itu sudah tiada lagi. Sementara Instansi yang terkait dengan Kebudayaan, seperti Dinas Kebudayaan, Dewan Kesenian serta lembaga yang lain tidak memiliki agenda konkret untuk melestarikan kekayaan tradisional seperti wayang kulit gaya Pamekasan. Sehingga yang terjadi untuk generasi penerus di pertunjukan wayang kulit pamekasan sekarang sudah tidak ada lagi.
Penjaga Vihara Avalokitesvara Pamekasan Bapak Kosala Mahindra mengatakan, generasi muda tidak berminat untuk menekuni seni tradisi wayang pamekasan ini karena dinilai kurang menarik, ketinggalan zaman, tidak menjanjikan penghasilan yang layak, serta kurang diapresiasi publik.
Wayang Pamekasan, yang diperkirakan tumbuh sejak 300 tahun yang lalu, memiliki sumber cerita yang sama dengan wayang purwa dari Jawa. Bedanya, wayang di Pamekasan mempunyai bentuk wayang yang berbeda dan dimainkan dengan menggunakan bahasa Madura, serta menggunakan iringan gending-gending khas gaya Pamekasan Madura.
Dewasa ini perkembangan kebudayaan sangatlah pesat. Hal itu merupakan efek langsung dari globalisasi yang menjadikan dunia yang luas ini bagaikan hanya satu kampung saja sehingga informasi yang ada di belahan bumi bagian barat bisa dengan mudah dan cepat di katahui oleh belahan bumi bagian lain, begitu halnya dengan kebudayaan.
Akhir- akhir ini buming yang namanya budaya k-pop. Mulai dari musik dan gaya dance ala- ala boyband dari Negara Korea tersebut. Penulis yakin masyarakat juga fasih tentang gaya yang update pada  saat ini, yaitu gangnam style yang dalam sekejab menjadi tren di masyarakat. Hal ini merupakan bukti betapa mudahnya budaya dari satu negara bisa masuk ke negara lain dan juga ke indonesia dan ke pulau madura juga. Disadari atau tidak, hal tersebut bisa menggerus habis budaya kita. Karena bisa jadi generasi muda kita malah lebih mencintai budaya luar dan melupakan budaya sendiri. Ini harus mendapatkan perhatian khusus dari semua lapisan masyarakat
Kemajuan teknologi adalah bagus apabila bisa kita gunakan semaksimal mungkin. Globalisasi adalah kesempatan apabila kita bisa memanfaatkannya untuk mempromosikan jati diri kita. Bukan malah kehilangan jati diri dan terombang ambing dalam arus budaya orang lain. Akan tetapi yang penulis lihat di dunia nyata adalah masyarakat pada saat ini terlalu terlena dengan globalisasi dan teknologi sehingga kita hanya menjadi penikmat belaka. Akhirnya, budaya yang seharusnya kita perkenalkan dengan bangga ke daerah daerah lain, akan tetapi kita malah bingung sendiri.
Agar hal di atas tidak terjadi, maka Kabupaten Pamekasan ketika mengadakan acara-acara formal dipemerintahan sebaiknya menampilkan kesenian tradisional khas Pamekasan salah satunya wayang kulit Pamekasan.  
Kesenian wayang kulit pamekasan merupakan kesenian di Pamekasan Madura yang hampir dilupakan. Maka dari itu kesenian tersebut coba diangkat kembali di acara-acara gelar seni di Madura agar tidak benar – benar di lupakan. Kesenian yang bersifat modern di perbolehkan tampil di acara- acara di Pamekasan , akan tetapi perbandingannya tidak boleh melebihi bobot kesenian tradisional. Tujuan utamanya adalah memperkenalkan kesenian khas Pamekasan yang mulai ditinggalkan karena banyaknya seni modern yang beredar, sehingga diharapkan masyarakat akan mengenal dan mencintai kesenian khas pamekasan yang menjadi identitas diri dari kabupaten pamekasan.
 Untuk menghidupkan kembali seni budaya tradisional sebagai wujud dari jati diri maka perlu sumbangsih dari berbagai pihat diantaranya pemerintah, pecinta seni tradisi, senimannya serta masyarakat,  harus punyakesadaran untuk  benar – benar mengangkat seni tradisi dan budaya sebagai jati diri suatu bangsa.
Apabila banyak kesenian tradisi kita yang hilang dan tergantikan oleh seni modern dari negara lain yang notabene bukan kesenian asli dari daerah kita, malah yang lebih parah kita pernah jumpai kesenian kita hidup dan berkembang di negara lain. Tidakkah kita merasa tertampar dengan kenyataan seperti itu? Atau jangan – jangan kita juga termasuk yang tidak tahu dan tidak mau tahu. Oleh sebab itu sudah saatnya kita bangun dari mimpi buruk ini. Dengan cara mebuat generasi muda kita tidak hanya tahu secara kontekstual tentang seni budayanya, akan tetapi kita harus memberi wawasan juga secara praktek.
Tertarik akan hal yang baru adalah wajar. Bahkan itu adalah sifat dasar manusia. Biasanya manusia itu menyukai hal – hal baru yang belum pernah ia temukan dan menarik perhatiannaya. akan tetapi apabila semua itu menjadikan manusia lupa dengan jati diri yang sebenarnya, maka kita patut prihatin.
Melihat fenomena ini kita memang tak lantas dapat menyalahkan masyarakat yang lebih memilih kesenian modern dibanding kesenian tradisional yang kita miliki. Perlunya ada penanaman dini tentang kecintaan terhadap kesenian tradisi seperti mengenalkan, wayang, tarian,musik karawitan dan yang lainnya agar setelah mereka mengenal lalu mereka tertarik untuk mempelajari selanjutnya.
Sudah saatnya kita sebagai masyarakat khususnya pelajar dan mahasiswa, harus bisa memilah apa yang masuk dari luar artinya kita harus bisa memilih dan menyaring mana yang lebih baik dan positif untuk kita ikuti. Bukan sekedar ingin mengikuti tren yang sudah ada tanpa memfilter terlebih dahulu. Sudah saatnya kita kembangkan dan lestarikan kembali kesenian tradisional yang sudah mulai tergerus oleh kesenian modern, karena bagaimanapun itu adalah hasil cipta karya bangsa kita.
Hal yang harus dilakukan banyak pihak untuk menghidupkan kembali kesenian tradisional wayang Pamekasan adalah mengenalkan  sejak dini wayang Pamekasan di sekolah mulai dari TK, SD, SMP, SMA sesuai dengan tingkat pemahaman anak tentang wayang, Dengan kegiatan program masuk sekolah ini, diharapkan kepada generasi muda untuk lebih mengenal kesenian yang sudah semakin langka tersebut dan akan tertarik mempelajari dan mengenal wayang kulit lebih dekat. Selanjutnya adalah promosi ketika ada pergelaran wayang sehingga dalam pergelaran banyak sekali penontonnya. Karena sukses tidaknya suatu acara juga dilihat dari banyaknya orang yang antusias dengan acara tersebut. Kita bisa merasakan bagaimana garingnya acara tersebut apabila penontonnya tidak semarak / meriah atau hanya segelintir orang saja yang menonton.

Penulis : Adiyanto, S.Sn, MM
Pamong Budaya Ahli Muda
Provinsi Jawa Timur

24 Feb 2020

BAHASA JAWA TERANCAM PUNAH


 BAHASA JAWA TERANCAM PUNAH



Mengapa bahasa Jawa terancam punah? Apakah orang Jawa tidak mempertahankan bahasanya? Atau bagaimana masyarakat Jawa itu sendiri? Apa yang terjadi sehingga muncul pendapat semacam itu? Kiranya kita perlu mencari sumber yang menyebabkan terjadinya pernyataan tersebut. Tidak mungkin ada suatu pernyataan yang terungkap jika tidak ada sebab yang menjadi gejalanya. Sehingga dapat ditemukan makna sesungguhnya dari pernyataan yang digambarkan dalam kata-kata tersebut. Tentunya ada sebuah peristiwa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Jawa yang berkaitan dengan bahasa yaitu bahasa Jawa.
Bahasa merupakan salah satu alat pemersatu dan identitas bangsa dalam komunitasnya masing-masing, dalam hal ini bahasa Jawa pada komunitas masyarakat Jawa tentunya. Jika kehidupan bahasa Jawa telah mulai terancam, bagaimana dengan masyarakatnya? Secara tidak langsung, ketika bahasa Jawa terancam punah, maka dapat mengakibatkan bercerai-berainya masyarakat Jawa itu sendiri dan berangsur-angsur hilanglah identitasnya. Hal ini bukanlah masalah kecil dalam perkembangan budaya masyarakat Jawa, namun karena tidak terungkap secara vulgar dalam satu kesatuan masyarakatnya, maka tidak dianggap sebagai sebuah masalah besar yang mengancam dalam kehidupannya. Oleh karena itu, perlulah diadakan suatu penelitian lebih lanjut untuk menjawab pertanyaan tersebut.


Tentunya kemungkinan jawaban yang terjadi adalah ya bahasa Jawa memang terancam punah. Untuk memperoleh jawaban tersebut, ada baiknya kita memperhatikan keadaan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Jawa berkaitan dengan bahasanya akhir-akhir ini.

Pengaruh lingkungan terdekat yang paling menentukan untuk saat ini, misalnya, dalam kehidupan keluarga Jawa, mereka sudah tidak lagi menggunakan bahasa Jawa seperti yang terjadi pada jaman era orang-orang tua kita dengan unggah-ungguhing basa Jawa dalam komunikasinya. Bahkan saat ini mereka lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh faktor ajaran yang diterima dari orang tua yang tidak lagi menggunakan bahasa Jawa, apalagi mengajarkan bahasa Jawanya. Dan faktor lingkungan dalam masyarakat yang tidak lagi mengganggap penting bahasa Jawa.
Di samping itu, aspek pendidikan pada pemerintahan yang baru mempunyai kebijakan secara politis merugikan kepentingan perkembangan bahasa Jawa. Mengapa? bahasa Jawa tidak memberikan ruang pengembangan bahasa Jawa yang sepadan dengan ilmu lain dari tingkat dasar sampai lanjut. Kurikulum Sekolah Menengah Atas tidak mengijinkan bahasa Jawa diajarkan pada anak didik. Pada level perguruan tinggi, bahasa Jawa sama sekali tidak mendapatkan tempat.
Bahasa Jawa cepat atau lambat akan masuk dalam ranah masa lampau yang mungkin tak akan dilirik lagi oleh masyarakat pendukungnya.
Masyarakat pendukung kebudayaan Jawa yang seharusnya memakai bahasa ini sebagai medium berekspresi justru bersemangat untuk meninggalkannya. Orang Jawa yang berasal dari kalangan terdidik dan menempati kelas menengah masyarakat Indonesia lebih condong mempergunakan bahasa Inggris
, dan Indonesia. Mereka membiasakan anak-anak mereka dengan bahasa Inggris dan Indonesia yang lebih fleksibel, prestise, dan sesuai dengan spirit kemajuan.
Inilah realita sekarang bahasa Jawa seolah menunggu waktu untuk punah, butuh sebuah perjuangan yang berat untuk tetap bisa menjaga keberadaan dan kelestarian bahasa Jawa. Pemerintah dan masyarakat harus saling bahu-membahu untuk menjaga kelestarian bahasa Jawa. Memang kita tidak boleh saling menyalahkan, sebagai orang Jawa minimal kita secara pribadi, harus mau melestarikan dan menggunakan bahasa Jawa.
KESIMPULAN
Setelah melihat kenyataan sekarang , kita mungkin pesimis dengan gerusan bahasa asing dan budaya luar yang bertubi memasuki kancah lalu lintas komunikasi lokal dan apalagi nasional. Bahasa  Jawa mau tidak mau akan mengalami nasib yang sama dengan suku-suku lain yang ada di dunia ketika masyarakat pendukung budayanya mulai meninggalkan bahasa ini begitu saja. Dalam rentang historis, bahasa Jawa mengalami proses dinamikanisasi. Artinya ada saatnya bahasa Jawa menjadi sesuatu yang mutlak dan dibutuhkan untuk sarana legitimasi sosial politik, namun di sisi lain ada saatnya bahasa Jawa mengalami keruntuhan karena sudah dianggap tidak sesuai dengan perkembangan globalisasi.
Untuk itu mengembalikan bahasa Jawa sebagai bahasa pergaulan dan tetap eksis mutlak dibutuhkan perjuangan yang amat berat, perlu semua elemen bangsa untuk melakukannya agar bahasa Jawa tidak mengalami fosilisasi dan dapat kembali dipergunakan sebagai bahasa pergaulan dan komunikasi umumnya pada lingkup yang terbatas.
Banyak cara dan strategi untuk tetap bisa menjadikan bahasa Jawa tidak mengalami kepunahan, strategi tersebut antara lain :
    1.        Ajarkan bahasa Jawa tentu dengan unggah-ungguhnya dari diri kita dan keluarga kita.
    2.        Batasi penggunaan bahasa Indonesia/Inggris pada lingkup keluarga kita.
    3.        Pemerintah harus memberikan porsi mata pelajaran Bahasa Jawa yang seimbang dengan pelajaran yang lain sekolah-sekolah dari tingkat TK, SD, SMP dan SLTA.
    4.        Di tingkat Perguruan tinggi, Dikti atau Kopertis menganjurkan kepada Universitas-universitas untuk membuka Fakultas/Prodi Bahasa Jawa, sehingga ke depan SDM Intelektual bahasa Jawa tetap masih ada.

Sebenarnya masih banyak strategi-strategi untuk bisa menjadikan bahasa Jawa tetap lestari, kita bisa mengambil contoh Negara Jepang, Bahasa dan budaya Jepang disana sangat dijunjung tinggi, sehingga walaupun Negara Jepang sebuah Negara maju dengan peradaban yang modern, akan tetapi tidak akan lupa akan budaya dan bahasa mereka.


PENULIS : ADIYANTO, S.Sn, MM

DOSEN PENGAJAR MATA KULIAH SANSEKERTA, JAWA KUNO DAN SASTRA JAWA
DI STAH MALANG
 
PAMONG BUDAYA AHLI MUDA
PROVINSI JAWA TIMUR


DAFTAR PUSTAKA
apakabar@clark.net. Triyanto Triwikromo/Hendro Basuki-08
Budiman, Arif | Jumat, 23 Nopember 2007 Blog pada WordPress.com.
Fashri Fauzi. Penyingkapan Kuasa Simbol. Yogyakarta: Juxtapose.  2007
Herusatoto, Budiono. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: PT Hanindita.1985.