10 Oct 2017

BUKU DJOKO LANGGENG DAN WAYANG KULIT KARYANYA








Buku Djoko Langgeng dan wayang kulit karyanya
Penerbit Karunia
Penulis Adiyanto, S.Sn
Jumlah halaman  151
40 hal warna
Ukuran A5 (15x 21)

Terbitan tahun 2016

BUKU KARAWITAN JAWA TIMURAN




BUKU KARAWITAN JAWA TIMURAN

Buku ini berisikan tentang pengetahhuan teori serta praktek tentang seni karawitan gaya jawatimuran. 

jumlah halaman    : 86 halaman
penulis                  : Adiyanto, S.Sn
penerbit                : Karunia
Ukuran A5 (15 x 21)
 
Terbitan tahun 2016





OPINI ....MEROSOTNYA NILAI ADILUHUNG DALAM PERTUNJUKAN WAYANG KULIT




MEROSOTNYA NILAI ADILUHUNG
DALAM PERTUNJUKAN WAYANG KULIT

Pertunjukan wayang kulit  memang sudah banyak berubah dari waktu ke waktu. Pada jaman dahulu pertunjukan wayang kulit di dominasi oleh cerita dalam pewayangan serta keindahan suara gamelan pada gendhing-gendhinya. Pertunjukan wayang kulit jaman sekarang hampir sebagian besar dalam penyajiannya ditambahi campursari dengan penyanyinya yang cantik-cantik serta lawakan yang dibawakan oleh pelawak sebagai bintang tamu. Dalam penyajian wayang kulit saat ini sebelum pergelaran, diawali oleh musik campursari terlebih dahulu untuk mendatangkan penonton, setelah itu baru pergelaran wayang kulit dimulai. Pada waktu pergelaran wayang kulit di dalam limbukan dan goro-goro juga disajikan musik campursari serta datangnya bintang tamu lawakan,  sebagai penyegar dengan banyolan-banyolannya. Penyajian wayang kulit untuk saat ini memang menyesuaikan kebutuhan masyarakat yang konsumtif, jadi didalam penyajiannya disesuaikan dengan tingkat kemampuan imajinasi masyarakat secara umum. Para seniman dalang menganggap dengan adanya penambahan musik campursari serta hiburan lawak dapat menyemarakkan  suasana didalam sebuah pertunjukan wayang kulit, supaya dapat menyedot penonton lebih banyak. Apa lagi ditambah sajian para penyanyi dan pelawak yang kurang etis yang selalu mengarah ke vulgarisasi, dan lelucon yang berbau porno atau jorok. Seperti misalnya seorang penyanyi dengan berpakaian kebayak dan jarikan tetapi berjoget layaknya penyanyi dangdut, dengan goyang ngebornya sehingga pertunjukan tersebut dapat megundang tawa penonton yang menjadikan pertunjukan wayang terkesan ramai. Ditambah lagi banyolan- banyolan para pelawak yang selalu menjurus kearah pornografi seperti misalnya, kata kata parikan “ minakjinggo, jengking penak miring monggo” yang artinya minakjingga, nungging enak miring silahkan (konotasi porno) dan masih banyak lagi contoh kata-kata yang lainya. Penyajian wayang kulit semacam ini sudah menjadi trend atau kebiasaan dalam pertunjukan wayang di jaman sekarang ini.  Pernah saya menanyakan kepada salah satu penonton wayang kulit, apa yang menarik dari penyajian wayang kulit untuk di tonton? Kemudian dijawab bahwa didalam pergelaran wayang kulit yang menarik yaitu pada waktu adegan limbukan dan goro-goro, kerena penyayinya cantik-cantik dan bisa goyang. Apalagi bisa reques lagu serta ada pelawaknya yang selalu membawakan sajian lawakannya yang lucu. Hampir sebagian penonton selalu mengatakan seperti itu. Maka dari itu ketika pergelaran wayang kulit dimulai banyak para penonton yang cangkruan diwarung, tapi ketika adegan limbukkan atau goro-goro mulai, para penonton baru mendekat ke panggung untuk menyaksikan jalannya pertunjukan.
Pergelaran wayang kulit yang seperti ini memang sudah sudah menjadi viral disemua kalangan masyarakat. Dikalangan pemerintahan yang menangani tentang kebudayaan ketika menanggap pergelaran wayang kulit juga sudah ikut-ikutan seperti penyajian wayang kulit pada saat ini, malah terkadang terkesan mewajibkan. Pernah suatu ketika salah satu pejabat dipemerintahan mau menanggap pergelaran wayang kulit, Ia sangat bingung ketika bintang tamu seorang penyanyi tidak bisa ikut karena ada job lain, sehingga Ia menganggap nanti tidak akan rame penonton, ketika bintang tamu penyanyi tersebut tidak ada. Dengan demikian para pejabat yang duduk di pemerintahan kadang dengan sengaja dan bahkan mewajibkan didalam pergelaran wayang kulit harus ada bintang tamu penyanyi, lawak dan campursari agar dalam pergelaran bisa ramai. Karena memang ukuran suksesnya pergelaran bagi orang-orang pemerintahan pada saat ini adalah banyak sedikitnya penonton yang hadir, bukan masalah estetis, edukasi dan moralitas. Sehingga ketika mengadakan pergelaran wayang kulit yang diutamakan masalah bintang tamu penyanyi dan lawak, sampai didalam pergelaran wayang kulit harus ada lighting untuk bintang tamu penyanyi dan para lawak.
Disisi lain ada sesuatu yang semakin berkurang dengan pertunjukan wayang kulit pada jaman sekarang yaitu masalah etika, filosofi dan nilai luhur yang terkandung pada pakeliran wayang. Sekarang tampaknya sebagian besar pertunjukan wayang kulit telah kandas dalam suatu permainan yang sifatnya hura-hura. Bentuk kesenian yang bersifat materialistik dan hedonistik. Lama-kelamaaan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam penyajian wayang kulit akan merosot dari sifatnya yang adiluhung menjadi sesuatu yang hanya sebatas eforia semata. Apabila penyajian wayang kulit terus menerus seperti itu maka para pelaku seni khususnya para dalang, pengrawit dan sinden akan kehilangan arah  dan hanya menghasilkan karya seni yang tiada berjiwa. Dan dapat dipastikan akan menurunkan derajad para seniman itu sendiri dari kedudukannya yang tinggi sebagai seorang pencipta menjadi homo ludens, yaitu tukang mayang dan tukang nabuh, yang hanya mengutamakan komoditi pasar yang dangkal akan nilai-nilai estetika.

Penulis : Adiyanto
Pamong Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur

DI MUAT DI HARIAN POJOK KIRI KORANE RAKYAT
SELASA LEGI, 3 OKTOBER 2017

5 Mar 2017

WAYANG KEDIREN KI DJOKO LANGGENG

I.            WAYANG KULIT KI DJOKO LANGGENG

Ketika Djoko Langgeng masih duduk di bangku Sekolah Rakyat (SR), dia sangat berbakat dalam hal menggambar. Ki Djoko Langgeng masih kelas satu, dia mengikuti lomba menggambar wayang kulit yang diadu dengan kelas enam, dan hasil dari perlombaan menggambar itu, justru dia yang mendapat juara satu. Itu artinya bahwa memang dia sudah mempunyai bakat menggambar sejak dia masih kecil. Sedangkan tambahan pengalaman untuk membuat wayang, dia mendapat pengalaman dari banyak orang.
Wayang kulit Ki Djoko Langgeng yang dibuat bukan wayang kulit biasa, banyak orang yang bilang wayang kulit buatannya adalah wayang pedalangan, karena memang dalam hal membuat wayang kulit dia tidak berpikir bahwa wayang yang dia buat untuk di jual, tapi dia membuat wayang berdasarkan hobi atau kesukaan, dan didalam benaknya membuat wayang kulit itu adalah untuk kebutuhannya  didalam pertunjukan wayang karena dia sendiri adalah seorang dalang.  Ciri khas wayang kulit buatannya adalah :
               1.          Mengutamakan Wanda dan Kapangan pada wayang kulit. (raut wajah/ muka dan anatomi tubuh yang proporsional)[1].
               2.          Mengutamakan bedahan pada wayang kulit. (tatahan pada bagian wajah/ raut muka dalam wilayah estetik yang paling tinggi dalam mengapresiasi rupa pada wayang kulit)[2].
               3.          Tatahan[3] pada wayang kulit terlihat padang, wijang, dan lugu. (jelas, lugas dan sederhana)
               4.          Sunggingan[4] biasanya sangat sederahana tapi mungguh dan semu. (sesuai dan serasi).
Ki Djoko Langgeng  juga sangat gemar untuk memperbaiki wayang kulit yang sudah rusak, dia menganggap kalau memperbaki wayang kulit yang rusak adalah bagian dari menghargai pembuat wayang yang terdahulu.  Ketika wayang yang sudah rusak itu menjadi utuh kembali maka dia juga akan menyenangkan leluhur nenek moyang yang telah membuat wayang kulit tersebut.
Dia  memperbaiki wayang yang rusak itu karena ngugemi (mentaati) pesan dari mbah Wiro Warsono[5] pada waktu itu.


Mbah Wiro Warsono mengatakan :
  le yen kowe kepingin dadi dalang lan iso duwe wayang, awakmu kudu iso ndandani wayang lan kudu gemati karo wayang”.

yang artinya “nak ketika kamu ingin menjadi dalang dan ingin mempunyai wayang, kamu harus bisa memperbaiki wayang dan harus cinta dengan wayang”.
Dari pernyataan mbah Wiro Warsono tersebut maka dia sampai sekarang senang sekali memperbaiki wayang yang rusak apalagi jika wayang tersebut mempunyai nilai sejarah dari para leluhur terdahulu. Banyak orang yang mengatakan bahwa dia adalah dokternya wayang. Karena banyak wayang yang telah rusak parah menjadi utuh kembali oleh tangannya.









[1] Rudy Wiratama Partohardono, Rupa dan bentuk wayang kulit purwa Jawa ditinjau dari mazhab/ alirannya ( Surakarta, 2009).

[2] Heru S Sudjarwo et al, Rupa dan Karakter Wayang purwa (Jakarta, Kakilangit Kencana, 2013). Hal. 13.
[3] Tatahan adalah lubang yang berbentuk semacam ukiran pada wayang kulit. (Ki Marwoto Panenggak widodo, 1984, hal. 17)
[4] Sunggingan adalah pemberian warna pada wayang kulit, para seniman pedalangan juga menyebutnya pulasan. (Ki Marwoto Panenggak widodo, 1984, hal. 89)
[5] Dalang dari Soran Kabupaten Klaten, beliau adalah kakak dari kakeknya Ki Djoko Langgeng, dia menyebutnya Mbah Soran.













































Tambahkan teks