3 Jan 2018

MAKALAH "GAMELAN SEBAGAI WARISAN BUDAYA STRATEGI PELESTARIAN DAN PEMBERDAYAAN DI JAWA TIMUR"

 

GAMELAN SEBAGAI WARISAN BUDAYA

STRATEGI PELESTARIAN DAN PEMBERDAYAAN

DI JAWA TIMUR

Oleh: Adiyanto, S.Sn, MMPd

Pamong Budaya Ahli Muda Disbudpar Jatim

 

 

PENDAHULUAN

Gamelan merupakan salah satu bentuk seni tradisional Indonesia yang memiliki nilai estetika tinggi serta mencerminkan keragaman budaya Nusantara. Sebagai warisan budaya tak benda, gamelan tidak hanya berfungsi sebagai alat musik, tetapi juga memiliki dimensi filosofis, sosial, dan spiritual yang mendalam. Instrumen ini hadir sebagai bagian integral dari berbagai tradisi, ritual keagamaan, serta ekspresi seni di masyarakat Jawa, Bali, Sunda, dan beberapa wilayah lain di Indonesia. Di Jawa Timur, gamelan memainkan peran yang sangat penting dalam kesenian tradisional dan tetap eksis di tengah dinamika sosial dan budaya yang berkembang.

Makalah ini berfokus pada kajian mendalam mengenai pelestarian gamelan di Jawa Timur, dengan perhatian khusus pada produksi, penggunaan, serta persebaran gamelan di wilayah tersebut. Berbagai tantangan dan peluang yang dihadapi oleh para pengrajin dan pengguna gamelan di Jawa Timur, baik dalam konteks ekonomi, sosial, maupun budaya, menjadi inti pembahasan dalam makalah ini. Jawa Timur, sebagai salah satu provinsi dengan keberagaman budaya yang kaya, memiliki peran strategis dalam mempertahankan eksistensi gamelan sebagai warisan budaya yang tak ternilai.

Secara garis besar, kajian ini meliputi enam poin utama, yaitu: tata kelola jaringan dan standar produksi gamelan di Jawa Timur, kajian ketersediaan bahan baku gamelan di wilayah Jawa Timur, identifikasi kelompok pengrajin gamelan yang masih aktif di Jawa Timur, kajian terhadap komunitas pengguna gamelan, baik individu maupun kelompok, di Jawa Timur, analisis faktor ekonomi, sosial, dan budaya yang memengaruhi kelestarian gamelan di Jawa Timur, pemetaan persebaran gamelan di berbagai daerah di Jawa Timur dan dampaknya terhadap pelestarian seni ini. Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat diperoleh rekomendasi strategis untuk pelestarian gamelan di Jawa Timur, sekaligus meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni tradisional yang sangat berharga ini.

ANALISIS TATA KELOLA JARINGAN DAN STANDAR PRODUKSI GAMELAN DI JAWA TIMUR

Di Jawa Timur, tata kelola jaringan dan standar produksi gamelan sangat dipengaruhi oleh tradisi panjang yang telah ada sejak zaman kerajaan. Gamelan di wilayah ini tidak hanya diproduksi di pusat-pusat besar seperti Surabaya, Malang, atau Banyuwangi, tetapi juga di berbagai daerah yang memiliki komunitas seni yang aktif. Produksi gamelan di Jawa Timur memiliki karakteristik tertentu, terkait dengan bahan baku, teknik pembuatan, serta hubungan antara pengrajin dan pengguna gamelan. Berdasarkan analisis terhadap perkembangan industri gamelan di Jawa Timur, dapat digolongkan dalam empat kategori utama yang mencerminkan kualitas dan skala produksi:

1.          Kategori A: Besalen (Pusat Produksi Gamelan Kualitas Tinggi)

Besalen, sebagai tempat pembuatan gamelan berkualitas tinggi, memiliki peran yang sangat penting di beberapa daerah di Jawa Timur. Besalen di wilayah ini, seperti di Magetan dan Ponorogo, tetap mempertahankan metode tradisional dalam produksi gamelan, terutama gamelan berbahan perunggu (gangsa).

·         Proses Produksi: Proses produksi di besalen melibatkan pengrajin yang sangat ahli (empu) yang memproduksi gamelan secara manual. Penggunaan bahan baku tembaga dan timah dalam rasio tertentu, serta pelaksanaan pelarasan dan perakitan, dilakukan dengan penuh ketelitian untuk menghasilkan suara yang jernih dan harmonis. Di Jawa Timur, besalen seperti yang terdapat di Magetan menjadi pusat produksi yang tidak hanya melayani pasar lokal tetapi juga mendapatkan pesanan dari luar negeri.

·         Standar Produksi: Gamelan yang dihasilkan di besalen memiliki kualitas suara dan bentuk yang sangat tinggi. Besalen memproduksi berbagai jenis instrumen, seperti bilah, gong, pencon, kenong, dan gong ageng, yang membutuhkan proses pembuatan rumit dan berkualitas. Standar produksi yang diterapkan di besalen mencakup ketelitian dalam pemilihan bahan baku, teknik pembuatan, serta kondisi kerja yang kondusif bagi para empu.

2.          Kategori B: Bengkel Plus (Produksi Gamelan dengan Bahan Campuran)

Bengkel plus di Jawa Timur berperan dalam memenuhi permintaan gamelan dengan kualitas yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan produk besalen, namun tetap mempertahankan keaslian dan kualitas suara yang baik. Pengrajin di kategori ini memproduksi gamelan menggunakan bahan perunggu, kuningan, dan besi.

·         Proses Produksi: Di bengkel-bengkel seperti di Kabupaten Magetan dan Tulungagung, pengrajin memanfaatkan teknik las dan tempa untuk menghasilkan instrumen berbahan besi dan kuningan. Sementara itu, untuk bahan perunggu, proses pembuatan tetap mengikuti teknik tradisional meskipun dalam skala yang lebih kecil.

·         Standar Produksi: Meskipun tidak sekompleks besalen, bengkel plus menghasilkan gamelan dengan kualitas suara yang cukup baik dan harga yang lebih terjangkau. Gamelan jenis ini banyak diproduksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal dan beberapa paguyuban seni yang ada di daerah.

3.          Kategori C: Bengkel (Produksi Gamelan dengan Bahan Besi dan Kuningan)

Bengkel kategori ini lebih berfokus pada produksi gamelan berbahan besi dan kuningan yang lebih ekonomis. Bengkel-bengkel ini sering ditemukan di daerah-daerah seperti Mojokerto dan Nganjuk, yang memiliki pasar lokal yang cukup besar untuk gamelan.

·         Proses Produksi: Proses produksi di bengkel ini lebih sederhana dibandingkan dengan besalen dan bengkel plus. Gamelan berbahan besi dan kuningan diproduksi dengan menggunakan teknik pemotongan, penyambungan, dan pelarasan yang lebih praktis.

·         Standar Produksi: Gamelan yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik, meskipun tidak sebaik produk dari besalen atau bengkel plus. Gamelan jenis ini lebih banyak diproduksi untuk acara-acara komunitas dan pertunjukan lokal dengan harga yang lebih terjangkau.

4.          Kategori D: Pertukangan (Pembuatan Bagian Pendukung Gamelan)

Di Jawa Timur, terdapat banyak pengrajin yang mengkhususkan diri dalam pembuatan bagian pendukung gamelan, seperti rancakan, plangkan, kendang, dan siter. Pembuatan bagian-bagian ini sering dilakukan di daerah-daerah yang memiliki tradisi karawitan yang kuat, seperti di Surabaya, Blitar, dan Malang.

·         Proses Produksi: Proses pembuatan rancakan dan plangkan melibatkan penggunaan kayu jati atau kayu nangka yang dipilih dengan cermat untuk memastikan kekuatan dan ketahanan instrumen. Pengrajin di kategori ini menggunakan teknik ukir atau pelapisan untuk mempercantik tampilan gamelan.

·         Standar Produksi: Kualitas rancakan dan plangkan berperan penting dalam keseluruhan kesan visual gamelan. Walaupun tidak mempengaruhi kualitas suara secara langsung, bagian pendukung ini turut menentukan estetika dari set gamelan yang dihasilkan.

Tata Kelola Jaringan Pengrajin Gamelan di Jawa Timur

Jawa Timur memiliki jaringan pengrajin gamelan yang saling terkait antara produsen besar (besalen) dengan pengrajin kecil (bengkel dan pertukangan). Pengrajin yang lebih besar sering menjadi acuan bagi pengrajin kecil dalam hal pengetahuan, teknik, dan bahan baku. Misalnya, pengrajin di Magetan yang memproduksi gamelan perunggu berkualitas tinggi seringkali menjadi rujukan bagi pengrajin di daerah lain yang hanya mampu memproduksi gamelan dengan bahan besi atau kuningan.

Selain itu, beberapa pengrajin besar juga memiliki sistem pembagian kerja dengan pengrajin yang lebih kecil, di mana pengrajin besar memproduksi instrumen utama seperti gong atau kenong, sementara pengrajin kecil memproduksi bagian lainnya, seperti bilah atau saron. Hal ini menciptakan jaringan produksi yang terintegrasi dan saling mendukung.

KAJIAN TERHADAP KETERSEDIAAN BAHAN BAKU

Bahan baku memainkan peran yang sangat penting dalam produksi gamelan, baik untuk menjaga kualitas suara maupun daya tahan instrumen. Secara organologis, bahan baku yang digunakan untuk satu perangkat gamelan mencakup logam seperti perunggu, besi, kuningan, serta bahan pendukung lain seperti kayu dan kulit. Kajian terhadap ketersediaan bahan baku ini memberikan gambaran tentang tantangan yang dihadapi pengrajin gamelan dalam mengakses bahan berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau.

Di Jawa Timur, ketersediaan bahan baku bervariasi berdasarkan jenis gamelan yang diproduksi dan lokasi pengrajin. Kajian ini mencakup bahan baku utama seperti perunggu, besi, kuningan, kayu, dan kulit, yang tersebar di berbagai daerah di Jawa Timur.

 

1.     Perunggu atau Gangsa

Perunggu, yang merupakan campuran tembaga dan timah dengan rasio 10:3, adalah bahan baku utama untuk produksi gamelan berkualitas tinggi. Bahan ini memiliki sifat akustik yang unggul, menjadikannya pilihan utama untuk membuat bilah, pencon, dan gong. Di Indonesia, tembaga dan timah tersedia dalam jumlah yang cukup karena negara ini memiliki tambang-tambang besar. Namun, kendala utama yang dihadapi pengrajin adalah harga bahan baku yang tinggi. Sebagai industri rumahan, pengrajin gamelan tradisional sering kali kesulitan bersaing dengan pelaku industri besar dalam mendapatkan bahan berkualitas.

Ketersediaan:
Di Jawa Timur, bahan baku perunggu sebagian besar diperoleh dari pemasok lokal maupun luar daerah. Wilayah seperti Magetan dan Ponorogo menjadi pusat produksi gamelan berbahan perunggu. Meskipun Indonesia adalah penghasil tembaga dan timah, harga bahan ini cenderung mahal, sehingga menjadi tantangan bagi pengrajin kecil.

Tantangan:

    • Harga perunggu yang tinggi memengaruhi daya saing pengrajin lokal.
    • Pengrajin tradisional sering kesulitan memperoleh bahan berkualitas dengan harga terjangkau.

Peluang:
Pengembangan sistem koperasi atau subsidi bahan baku dari pemerintah dapat membantu pengrajin di daerah seperti Magetan untuk mengurangi biaya produksi.

2.     Besi
Besi digunakan sebagai alternatif bahan baku untuk memproduksi gamelan yang lebih ekonomis. Besi lembaran sering kali diperoleh dari limbah industri, seperti drum bahan bakar atau plat baja bekas per mobil. Meskipun kualitas suara gamelan besi tidak sebaik perunggu, bahan ini sangat populer di kalangan masyarakat karena harga yang lebih terjangkau. Ketersediaan limbah besi di pasar lokal masih mencukupi, sehingga memudahkan pengrajin untuk memenuhi permintaan.

Ketersediaan:
Besi lembaran di Jawa Timur banyak diperoleh dari limbah industri, seperti drum bahan bakar atau plat baja bekas. Daerah seperti Ponorogo dan Tulungagung terkenal dengan pengrajin gamelan berbahan besi.

Tantangan:

Ketebalan dan kualitas bahan limbah tidak selalu konsisten, sehingga memengaruhi hasil akhir produk.

Peluang:
Program daur ulang limbah industri di Jawa Timur dapat mendukung kebutuhan bahan baku ini dan memastikan keberlanjutan produksi.

3.     Kuningan
Gamelan berbahan kuningan berada di antara kualitas perunggu dan besi. Kuningan memiliki tampilan yang lebih menarik dibandingkan besi, serta menghasilkan suara yang lebih baik. Penggunaan bahan ini banyak diterapkan pada produksi bilah saron, slentem, gender, dan pencon seperti bonang atau kenong. Meskipun ketersediaan kuningan cukup baik di Indonesia, harga bahan ini cenderung lebih mahal daripada besi, sehingga menjadi pilihan yang lebih eksklusif.

Ketersediaan:
Kuningan lebih mudah diakses oleh pengrajin di wilayah Nganjuk dan Banyuwangi. Namun, seperti perunggu, harganya cenderung lebih mahal dibandingkan besi.

Tantangan:

Harga kuningan yang fluktuatif sering menjadi hambatan bagi pengrajin kecil.

Peluang:
Peningkatan teknologi pengolahan bahan kuningan dapat membantu menurunkan biaya dan meningkatkan efisiensi produksi.

4.     Kayu
Kayu digunakan untuk membuat bagian pendukung gamelan seperti rancakan, plangkan, kendang, dan siter. Jenis kayu yang umum digunakan meliputi kayu jati dan kayu nangka, yang memiliki karakteristik kuat dan tahan lama. Namun, ketersediaan kayu berkualitas semakin menurun akibat eksploitasi hutan. Pengrajin sering kali menghadapi kesulitan dalam mendapatkan kayu yang sesuai dengan standar untuk rancakan gamelan berkualitas tinggi.

Ketersediaan:
Kayu berkualitas di Jawa Timur semakin langka karena eksploitasi yang berlebihan. Namun, daerah seperti Blitar dan Malang masih memiliki akses terhadap kayu jati dan Nangka serta Mangga/ Kayu Pakel  untuk kebutuhan pembuatan gamelan.

Tantangan:

    • Kesulitan dalam mendapatkan kayu berkualitas tinggi untuk rancakan gamelan yang awet dan estetis.
    • Perubahan kebijakan pengelolaan hutan sering kali membatasi akses pengrajin terhadap kayu yang dibutuhkan.

Peluang:
Pemanfaatan kayu alternatif atau pengolahan kayu limbah dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi kelangkaan bahan ini.

 

 

5.     Kulit
Kulit hewan, seperti kulit kerbau, digunakan pada instrumen kendang. Bahan ini semakin sulit diperoleh, terutama dengan kualitas yang sesuai untuk menghasilkan suara optimal. Ketersediaan kulit berkualitas bergantung pada daerah penghasil ternak, sehingga pengrajin terkadang harus mendatangkan bahan ini dari luar daerah.

Ketersediaan:
Bahan kulit biasanya diperoleh dari peternakan lokal di daerah seperti Jombang dan Kediri. Namun, ketersediaan kulit berkualitas sangat tergantung pada jumlah ternak dan kondisi pengolahan kulit di daerah tersebut.

Tantangan:

    • Proses pengolahan kulit yang memerlukan keahlian khusus.
    • Harga bahan kulit berkualitas semakin mahal.

Peluang:
Pengrajin dapat memanfaatkan inovasi dalam pengolahan kulit untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas bahan.

Tantangan dan Peluang

Tantangan utama dalam ketersediaan bahan baku adalah fluktuasi harga dan persaingan dengan sektor lain yang menggunakan bahan serupa. Misalnya, tembaga dan timah juga digunakan dalam industri elektronik, sehingga pengrajin gamelan tradisional sering kali kalah dalam persaingan harga. Di sisi lain, penggunaan bahan alternatif seperti limbah industri memberikan peluang untuk menghasilkan gamelan dengan biaya produksi yang lebih rendah, meskipun dengan kualitas suara yang berbeda.

Melalui kajian ini, diusulkan agar pemerintah memberikan dukungan kepada pengrajin gamelan, seperti subsidi bahan baku atau insentif untuk pengembangan teknologi pengolahan bahan. Langkah ini penting untuk memastikan kelangsungan produksi gamelan tradisional sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi.

 

 

 

Strategi Mengatasi Tantangan Ketersediaan Bahan Baku di Jawa Timur

  1. Subsidi dan Bantuan Pemerintah
    • Memberikan subsidi untuk bahan baku utama seperti tembaga, timah, dan kayu kepada pengrajin kecil.
    • Mendirikan koperasi bahan baku yang mengelola pasokan secara kolektif bagi pengrajin di daerah seperti Magetan dan Ponorogo.
  2. Dukungan Teknologi dan Inovasi
    • Mengembangkan teknologi tepat guna untuk pengolahan bahan baku lokal, seperti daur ulang limbah industri besi dan kuningan.
    • Memanfaatkan teknologi modern untuk mengolah kayu atau kulit sehingga dapat meningkatkan kualitas bahan baku.
  3. Kolaborasi dengan Industri Lain
    • Menjalin kerja sama dengan sektor industri untuk memanfaatkan limbah logam dan kayu yang dapat digunakan dalam produksi gamelan.
  4. Promosi dan Edukasi
    • Mengedukasi pengrajin tentang alternatif bahan baku yang lebih ekonomis tanpa mengurangi kualitas suara gamelan.
    • Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya bahan baku berkualitas dalam mendukung keberlanjutan seni gamelan.

KAJIAN TERHADAP PAGUYUBAN ATAU KELOMPOK MASYARAKAT PENGGUNA GAMELAN DI JAWA TIMUR

Di Jawa Timur, gamelan tidak hanya diproduksi oleh para pengrajin tetapi juga dilestarikan dan digunakan oleh berbagai kelompok masyarakat, baik secara individu maupun kolektif. Pengguna gamelan tersebar di berbagai komunitas seni, lembaga pendidikan, hingga masyarakat umum. Berikut adalah kategori utama pengguna gamelan di Jawa Timur:

1.          Individu Pengguna Gamelan

Kelompok individu yang menggunakan gamelan di Jawa Timur umumnya meliputi: Kolektor Seni: Individu yang mengoleksi perangkat gamelan sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya atau nilai estetika. Beberapa kolektor di wilayah Nganjuk dan Ponorogo diketahui memiliki perangkat gamelan kuno yang digunakan untuk pertunjukan maupun kebutuhan spiritual. Seniman Dalang: Dalang di berbagai daerah seperti Tulungagung dan Ponorogo menggunakan gamelan sebagai elemen utama dalam pertunjukan wayang kulit, yang menjadi salah satu tradisi seni terbesar di Jawa Timur.

  1. Lembaga Pemerintah dan Swasta

Banyak lembaga pemerintah dan swasta di Jawa Timur yang memiliki gamelan sebagai sarana untuk mendukung program kebudayaan dan pendidikan. Contohnya: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di beberapa kabupaten, sering menggunakan gamelan dalam kegiatan upacara adat atau festival budaya. Perusahaan swasta, terutama di sektor pariwisata, juga memanfaatkan gamelan sebagai daya tarik bagi wisatawan. Misalnya, beberapa hotel dan resor di Malang dan Surabaya mengadakan pertunjukan gamelan sebagai bagian dari promosi budaya lokal.

  1. Lembaga Pendidikan

Sekolah-sekolah di Jawa Timur, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, banyak yang menggunakan gamelan sebagai sarana pendidikan seni. Ekstrakurikuler Seni Gamelan: Banyak sekolah, seperti di Blitar dan Tulungagung, Kediri, Banyuwangi, Surabaya dan yang lainnya menyediakan kegiatan ekstrakurikuler seni gamelan untuk mengenalkan siswa pada seni tradisional. Konservatori Karawitan: Beberapa institusi pendidikan tinggi, seperti  Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) di Surabaya, mengintegrasikan pembelajaran gamelan dalam kurikulum mereka untuk melatih generasi muda menjadi seniman yang profesional. SMKN 12 Surabaya/ SMKI. Dan yang lainnya.

  1. Paguyuban dan Sanggar Seni

Jawa Timur memiliki banyak paguyuban dan sanggar seni yang melestarikan tradisi gamelan. Beberapa di antaranya: Paguyuban Campursari dan Karawitan: Di Kabupaten dan Kota di Jawa Timur, banyak paguyuban seni yang menggunakan gamelan untuk mengiringi pertunjukan campursari atau karawitan. Kelompok ini sering tampil dalam acara hajatan, bersih desa, atau festival lokal. Sanggar Seni Dalang dan Wayang Kulit: sanggar seni wayang kulit menggunakan gamelan untuk mengiringi pertunjukan tradisional. Komunitas Seni Tari dan seni yang lainnya, beberapa komunitas seni ada di seluruh kabupaten Kota se Jawa Timur telah mengembangkan gaya pertunjukan yang memadukan gamelan dengan alat musik modern, menciptakan inovasi seni yang menarik bagi generasi muda.

  1. Masyarakat Umum

Gamelan juga digunakan secara luas oleh masyarakat umum dalam berbagai konteks budaya: Ritual Adat: Di Banyuwangi, gamelan digunakan dalam upacara adat seperti ruwatan atau selamatan desa. Instrumen ini menjadi bagian dari tradisi spiritual yang bertujuan menjaga harmoni antara manusia dan alam. Kesenian Rakyat: Tradisi kesenian rakyat seperti jaranan di Kediri dan Ludruk di Mojokerto tetap memanfaatkan gamelan sebagai pengiring utama. Wisatawan Mancanegara: Di beberapa destinasi wisata seperti Gunung Bromo, pertunjukan gamelan kerap diadakan untuk menarik minat wisatawan asing, memberikan mereka pengalaman langsung budaya tradisional Jawa Timur.

Tantangan dalam Pelestarian di Komunitas Pengguna

Meskipun pengguna gamelan di Jawa Timur tersebar luas, terdapat beberapa tantangan utama: Kurangnya Regenerasi: Banyak komunitas dan sanggar seni menghadapi kesulitan dalam merekrut generasi muda untuk belajar gamelan. Minimnya Dukungan Finansial: Beberapa kelompok seni tradisional, terutama yang berbasis di pedesaan, menghadapi kendala pendanaan untuk membeli atau merawat perangkat gamelan. Persaingan dengan Seni Modern: Kesenian tradisional seperti gamelan sering kali kalah populer dibandingkan seni modern, terutama di kalangan generasi muda urban.

Peluang dan Upaya Pelestarian

Untuk mendukung keberlangsungan gamelan sebagai bagian dari budaya masyarakat Jawa Timur, beberapa langkah strategis dapat diambil: Peningkatan Dukungan Pemerintah: Subsidi dan program pelatihan bagi komunitas seni dapat meningkatkan kualitas dan daya tarik gamelan. Kolaborasi dengan Sektor Pariwisata: Integrasi gamelan dalam promosi pariwisata, seperti festival budaya dan atraksi wisata, dapat memberikan manfaat ekonomi bagi komunitas pengguna. Digitalisasi dan Promosi: Memanfaatkan platform digital untuk memperkenalkan gamelan kepada khalayak yang lebih luas, baik di tingkat lokal maupun internasional.

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KELESTARIAN GAMELAN DI JAWA TIMUR

Kelestarian gamelan di Jawa Timur dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi, baik dari aspek ekonomi, sosial, maupun budaya. Analisis ini bertujuan untuk memahami tantangan serta peluang dalam upaya pelestarian gamelan sebagai warisan budaya tak benda di Jawa Timur.

Aspek Ekonomi

Peluang Ekonomi dari Gamelan, Pasar Lokal dan Internasional: Banyak pengrajin di Jawa Timur, seperti di Magetan dan Nganjuk, telah memasarkan gamelan mereka hingga ke luar negeri, seperti Afrika dan Amerika Serikat. Produk ini menarik perhatian karena kualitasnya, namun skala produksinya masih terbatas. Peluang Profesi Baru: Profesi seperti penglaras, penyervis, dan agen penjualan gamelan menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat. Di Banyuwangi dan Tulungagung, profesi ini telah membantu meningkatkan pendapatan keluarga pengrajin. Tantangan Ekonomi, Harga Bahan Baku yang Tinggi: Seperti telah dijelaskan sebelumnya, harga bahan baku seperti tembaga dan timah sangat mahal. Hal ini menjadi tantangan besar, terutama bagi pengrajin kecil di Ponorogo dan Tulungagung. Pasar yang Terbatas: Meskipun gamelan diminati, tidak semua masyarakat mampu membeli perangkat gamelan, terutama yang berbahan perunggu, karena harganya yang tinggi.

Aspek Sosial

Kelompok Pelestari Masyarakat Tradisional: Kelompok masyarakat yang memiliki hubungan historis dengan gamelan, seperti komunitas dalang di Ponorogo dan Magetan, menjadi motor pelestarian tradisi ini. Mereka memainkan peran penting dalam menjaga relevansi gamelan di tengah perubahan zaman. Institusi Pendidikan dan Kebudayaan: Sekolah dan lembaga seni seperti sanggar karawitan di Blitar dan Malang berkontribusi besar dalam memperkenalkan gamelan kepada generasi muda. Tantangan Sosia, Kurangnya Regenerasi: Di banyak daerah, minat generasi muda untuk mempelajari gamelan semakin berkurang. Hal ini disebabkan oleh pengaruh modernisasi dan preferensi mereka terhadap alat musik modern. Kurangnya Pengakuan Sosial: Profesi pengrajin dan seniman gamelan sering kali dipandang sebelah mata, sehingga kurang mendapat dukungan dari masyarakat maupun pemerintah.

Aspek Budaya

Peran Budaya dalam Pelestarian Gamelan, Bagian dari Ritual Tradisional: Gamelan masih menjadi bagian integral dari ritual adat di Jawa Timur, seperti bersih desa di Kediri, ruwatan di Banyuwangi, dan selamatan desa di Tulungagung. Identitas Budaya Lokal: Di beberapa daerah seperti Ponorogo, gamelan tidak hanya digunakan untuk seni pertunjukan tetapi juga menjadi simbol identitas budaya masyarakat. Tantangan Budaya, Perubahan Ekosistem Budaya: Perubahan gaya hidup modern, urbanisasi, dan globalisasi telah menyebabkan berkurangnya perhatian terhadap seni tradisional seperti gamelan. Masyarakat cenderung lebih memilih hiburan yang instan dan mudah diakses.  Pengaruh Budaya Asing: Kehadiran budaya populer dan alat musik elektronik semakin menggusur eksistensi gamelan di kalangan generasi muda.

Strategi untuk Mengatasi Tantangan

Penguatan Ekonomi Pengrajin, Pemerintah dapat memberikan subsidi bahan baku atau menciptakan koperasi pengrajin gamelan untuk mengurangi biaya produksi. Mengembangkan teknologi tepat guna untuk mempercepat proses produksi tanpa mengurangi kualitas. Revitalisasi Sosial. Mengintegrasikan pelatihan gamelan dalam kurikulum sekolah untuk menarik minat generasi muda. Memberikan penghargaan kepada seniman dan pengrajin gamelan sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi mereka dalam melestarikan budaya. Promosi Budaya dan Pariwisata. Meningkatkan eksposur gamelan melalui festival budaya, seperti Festival Gandrung di Banyuwangi atau Festival Ludruk di Surabaya. Menggunakan media digital untuk memperkenalkan gamelan kepada audiens global, seperti video tutorial atau konser daring. Kolaborasi Antar Komunitas Seni. Menggabungkan gamelan dengan seni modern untuk menciptakan karya-karya baru yang relevan dengan zaman, seperti yang dilakukan beberapa komunitas seni di Malang dan Surabaya.

PEMETAAN PERSEBARAN GAMELAN DI WILAYAH JAWA TIMUR

Jawa Timur memiliki keragaman budaya yang tercermin dari persebaran gamelan di berbagai daerah. Persebaran ini tidak hanya mencakup pusat-pusat produksi, tetapi juga melibatkan komunitas seni dan lembaga yang menggunakan gamelan sebagai bagian integral dari aktivitas mereka. Berikut adalah pemetaan persebaran gamelan di Jawa Timur berdasarkan wilayah:

1. Lingkungan Budaya Etnik

Pengrajin gamelan di Jawa Timur umumnya melayani kebutuhan lokal, terutama di wilayah dengan tradisi seni yang kuat. Misalnya:

  • Magetan: Wilayah ini menjadi salah satu pusat produksi gamelan berbahan perunggu, besi, dan kuningan. Magetan juga memiliki komunitas seni karawitan yang aktif, seperti kelompok Margo Laras yang mendukung tradisi lokal melalui produksi dan pertunjukan gamelan.
  • Ponorogo: Sebagai daerah asal Reog, gamelan menjadi bagian penting dalam seni pertunjukan tradisional ini. Persebaran gamelan di Ponorogo juga terkait dengan komunitas-komunitas Reog yang tersebar hingga ke luar daerah.
  • Banyuwangi: Gamelan osing memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari gamelan Jawa Tengah atau Bali. Persebarannya berpusat di komunitas-komunitas seni tradisional seperti Gandrung dan Barong.

2. Wilayah Luar Pulau

Masyarakat Jawa Timur yang bermigrasi ke luar pulau turut membawa tradisi gamelan mereka. Hal ini terlihat dalam komunitas seni di Kalimantan dan Sumatra yang mengadopsi gamelan sebagai bagian dari acara adat mereka. Misalnya, gamelan buatan pengrajin di Tulungagung telah dikirim ke luar pulau untuk memenuhi permintaan seni tradisional di wilayah-wilayah tersebut.

3. Pasar Internasional

Beberapa pengrajin gamelan di Jawa Timur telah berhasil menembus pasar internasional, baik melalui ekspor langsung maupun pesanan khusus dari luar negeri. Contoh:

  • Tulungagung: Pengrajin seperti Mujiono pernah menerima pesanan gamelan dari negara-negara seperti Afrika, Suriname, dan Amerika Serikat.
  • Ponorogo: Pesanan gamelan berbahan plat baja dari Ponorogo telah dikirim ke berbagai negara sebagai bentuk promosi budaya Jawa Timur.
  • Nganjuk: Galeri Mbah Dharmo dikenal memiliki jaringan distribusi internasional dengan menyediakan perangkat gamelan untuk institusi seni di Asia Tenggara dan Amerika.

4. Sentra Produksi Lokal

Persebaran gamelan di Jawa Timur juga ditentukan oleh lokasi sentra produksi yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota. Sentra-sentra ini tidak hanya memproduksi gamelan tetapi juga menjadi pusat pelestarian seni tradisional. Beberapa sentra produksi utama meliputi:

  • Nganjuk: Selain sebagai produsen, Nganjuk juga menjadi tempat wisata edukasi yang memperkenalkan generasi muda pada seni gamelan.
  • Mojokerto: Produksi gamelan di Mojokerto difokuskan pada kebutuhan lokal, seperti untuk pengiring ludruk dan kesenian rakyat lainnya.
  • Tulungagung dan Magetan: Kedua wilayah ini berkontribusi besar dalam memenuhi kebutuhan gamelan untuk masyarakat Jawa Timur dan luar daerah.

Strategi Peningkatan Persebaran Gamelan

1.          Pengembangan Teknologi Produksi

Memanfaatkan teknologi seperti power hammer dan spinning untuk meningkatkan efisiensi produksi gamelan, terutama bagi pengrajin di Tulungagung dan Magetan.

2.          Promosi Melalui Festival Budaya

Festival-festival seperti Festival Reog Nasional di Ponorogo dan Festival Gandrung Sewu di Banyuwangi dapat dijadikan platform untuk mempromosikan gamelan kepada audiens yang lebih luas.

3.          Kolaborasi dengan Diaspora

Melibatkan diaspora Jawa Timur di luar pulau dan luar negeri untuk mempromosikan gamelan sebagai bagian dari identitas budaya mereka.

4.          Edukasi dan Pelatihan

Meningkatkan edukasi dan pelatihan gamelan di tingkat sekolah hingga komunitas lokal untuk memastikan regenerasi seniman dan pengguna gamelan di masa depan.

Kesimpulan

Persebaran gamelan di Jawa Timur menunjukkan hubungan yang erat antara tradisi, seni, dan masyarakat lokal. Wilayah ini memiliki potensi besar untuk terus mengembangkan gamelan sebagai produk budaya yang tidak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi juga dikenal secara internasional. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, komunitas seni, dan sektor swasta, sangat diperlukan untuk menjaga kelestarian gamelan sebagai warisan budaya tak benda yang berharga.

 

 

DAFTAR RUJUKAN

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur. (2017). Laporan Tahunan Kegiatan Pelestarian Budaya di Jawa Timur.

Kartomi, M. (1990). Gamelan: Cultural Interaction and Musical Development in Central Java. University of Chicago Press.

Soedarsono, R.M. (2002). Wayang dan Gamelan Sebagai Warisan Budaya Dunia. Penerbit ISI Yogyakarta.

Suyono, B. (2006). Ensiklopedia Musik Tradisional Jawa. Balai Pustaka, Jakarta.

UNESCO. (2008). Indonesian Gamelan: Intangible Cultural Heritage of Humanity. Diakses dari https://ich.unesco.org/en/RL/gamelan-00207.

Yampolsky, P. (1995). Gamelan Tradisi dan Perkembangannya di Nusantara. Southeast Asian Studies Journal. Diakses dari http://seasjournal.org/archive/gamelan-tradition/.

The Metropolitan Museum of Art. (2005). Gamelan Instruments from Java and Bali. Diakses dari https://www.metmuseum.org/toah/hd/gaml/hd_gaml.htm.

Smithsonian Folkways. (2010). Gamelan Music of Indonesia. Diakses dari https://folkways.si.edu/gamelan-music-of-indonesia/world/music/album/smithsonian.








5 Dec 2017

REVITALISASI GENDING-GENDING YANG HAMPIR PUNAH PADA KARAWITAN DI WILAYAH JAWA TIMUR

REVITALISASI GENDING-GENDING YANG HAMPIR PUNAH
PADA KARAWITAN DI WILAYAH JAWA TIMUR

Adiyanto
Pamong Budaya Pertama
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Provinsi Jawa Timur

Intisasri
Revitalisasi Gending-Gending yang hampir punah ini adalah suatu kegiatan untuk mengimbangi perkembangan karawitan di masyarakat, yang mana ketika di dalam kehidupan berkesenian khususnya seni karawitan sudah sangat jarang sekali para pelaku seniman, penikmat seni menyajikan gending-gending tinggalan para leluhur yang mempunyai nilai filosofi yang sangat hebat. Pada kenyataannya karena pengaruh pergeseran kebudayaan khususnya seni karawitan mengalami penurunan nilai yang cukup pesat dari seni karawitan yang sifatnya sebagai tuntunan, tontonan dan tatanan sekarang hanya menjadi sebuah tontonan yang bersifat menghibur.
Kata Kunci :  Uyon-Uyon -  Gending-Gending - Revitalisasi


A.    KARAWITAN DI WILAYAH JAWA TIMUR YANG HAMPIR PUNAH
Karawitan adalah seni suara yang menggunakan laras slendro dan pelog, baik suara manusianya maupun instrument (gamelan)asal berlaras slendro dan pelog dapat disebut karawitan. Ada dua pokok isi karawitan yaitu irama dan lagu. Irama yaitu pelebaran atau penyempitan gatra. Lagu yaitu susunan nada-nada yang diatur dan apabila nada tersebut dibunyikan sudah terdengar enak. Pengatur nada-nada tersebut nantinya berkembang kearah suatu bentuk, sehingga menimbulkan bermacam- macam bentuk, dan bentuk inilah yang nantinya disebut gending ( R.L Martopangrawit : 1975).
Mengambil pengertian diatas, maksud dari karawitan di wilayah Jawa Timur ini adalah penyajian gending-gending karawitan yang berlaraskan slendro maupun pelog yang tumbuh dan berkembang di wilayah Jawa Timur. Di Jawa Timur sendiri ada beberapa gaya karawitan antara lain  gaya Malang-an, Banyuwangi-an, Madura ( Bangkalan, Sumenep) serta karawitan gaya Mojokerto-Surabaya ( Soenarto : 2016 : 10). Dari pemetaan gaya karawitan tersebut dapat di simpulkan bahwa di wilayah Jawa Timur  memiliki gaya karawitan yang cukup majemuk ditambah lagi gaya Mataraman yaitu karawitan gaya Surakarta dan Yogyakarta yang juga berkembang di wilayah Jawa Timur ini, bahkan keberadaannya ada hampir di seluruh Kabupaten/ Kota se Jawa Timur.
Didalam perkembangannya seni karawitan diwilayah Jawa Timur lambat laun akan terancam punah dalam hal jenis gending-gendingnya, sanggar seninya, senimannya serta nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam seni karawitan tersebut.  Seperti contohnya karawitan gaya Madura untuk jenis gending-gending sudah banyak yang hilang, senimanya sudah banyak yang meninggal dan tidak ada regenerasi, sehingga tidak ada lagi sanggar seni karawitan. Sedangkan karawitan gaya Jawatimuran[1] untuk pergelaran klenengan[2] sudah sangat jarang sekali bahkan hampir tidak ada lagi para seniman yang mempergelarkan gending- gending gaya jawatimuran. Dan sangat jarang juga masyarakat yang nanggap[3] klenengan gaya jawatimuran untuk keperluan upacara manten, sunatan dan upacara yang lain.. Sehingga keberadaan gending-gending untuk keperluan karawitan secara mandiri banyak sekali yang sudah tidak diketahui lagi garap sajian gendingnya. Seperti misalnya gending Gambir Sawit, Onang Onang, Titipati, Semeru dan yang lainnya (gaya jawatimuran).
Pak Mulyono[4] mengatakan untuk garap gending-gending seperti Gambirsawit, Onang-Onang, Titipati, Semeru dan gending sejenisnya untuk garap sajiannya sudah lupa karena sudah jarang sekali dibunyikan. Sehingga untuk pengendang jarang sekali yang mengerti garap sajian kendanganya. dan  untuk instrument gamelan yang lain jalannya ajian, garapannya, serta teknik tabuhan yang lain sudah tidak ada lagi yang tau. (wawancara: Mulyono, Oktober 2016).
Keberadaan gending-gending klenengan gaya Jawatimuran memang sudah jarang sekali dibunyikan yang ada sekarang hanya sebagian gending-gending saja seperti gending Gandakusuma, Gedok Tamu, Ayak Kempul Kerep dan Ayak Kempul Arang yang memang masih eksis sebagai iringan pakeliran gaya Jawatimuran. (wawancara: Amuji[5], September, 2016).
Dengan adanya pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa keberadaaan sebagian gending-gending klenengan sudah banyak sekali yang hampir punah, baik karawitan gaya Jawatimuran, karawitan gaya Madura dan karawitan Mataraman.  Untuk keberadaan gending – gending karawitan gaya Madura sudah banyak yang punah baik jenis gendingnya maupun sumber daya senimannya, sedangkan karawitan gaya Jawatimuran jenis gending yang masih ada dan eksis, adalah gending- gending yang digunakan dalam iringan pakeliran gaya Jawatimuran. Keberadaan gending klenengan gaya Jawa Timuran sudah dipastikan lima atau sepuluh tahun kedepan akan punah. Sedangkan untuk karawitan gaya Mataraman di wilayah Jawa Timur keberadaannya hampir seperti karawitan gaya Jawatimuran cuma untuk keperluan sajian klenengan masih dibunyikan karena masih ada satu atau dua orang yang nanggap dalam keperluan hajatan manten dan keperluan upacara yang lainnya.

B.     KEBERADAAN UYON-UYON[6] SAAT INI
Pada saat ini pertunjukan Uyon-Uyon khususnya di Jawa Timur sudah mulai bergeser dalam suatu pertunjukan yang sifatnya hura-hura. Ada salah satu seniman pengrawit yang bilang “sing penting rame” yang penting rame. Bentuk sajian karawitan yang hanya bersifat materialistik dan hedonistik, yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dengan  berkesenian yang sifatnya hanya sebatas hura-hura. Pernah saya bertanya kepada salah satu seniman pengrawit yang intinya menanyakan apakah tidak jenuh ketika melakukan pementasan yang hanya menuruti selera penonton yang dangkal akan nilai luhur yang kadang lagu-lagu tersebut mempunyai syair yang jorok dan mengarah ke pornografi. dan beliau menjawab “halah le sing penting payu lan entuk bayaran entuk duwit, sak iki sing dijaluki tukang nanggap lan penonton ki yo sing rame lan rodo mambu mambu jorok ngene “  artinya iya nak yang penting laku dan dapat bayaran uang, saat ini yang diminta para penanggap dan penonton itu yang penting rame dan agak berbau porno.
Dari salah satu pernyataan seniman tersebut diatas  penulis simpulkan bahwa untuk sajian Uyon-Uyon pada saat ini yang terpenting adalah bagaimana caranya para seniman pengrawit itu bisa laku dan dapat job-joban sebanyak mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidupnya walaupun lagu-lagu atau gending-gending yang disajikan tidak etis. Seperti contohnya : gending Kutut Manggung  pada pos-posan cengkok Candralukitan
Syair :  e manukke Pak Citro lemes  
           e burungnya (kelaminnya) Pak Citro lemas
Syair : e manuke sing ngendang dowo
           E burungya (kelaminnya) yang main kendang panjang
Syair yang sebenarnya adalah e manuke kutut. Syair ini diplesetkan sehingga menimbulkan asosiasi yang jorok dan seronok mengarah kearah pornografi yang berubah dari arti syair yang sebenarnya. Nampaknya untuk syair yang mengarah ke arah pornografi tersebut sdah menjadi tren untuk penyajian karawitan pada saat ini. Ada lagi lagu –lagu tren yang syairnya berbau porno dan sudah menjadi tren di kalangan masyarakat seperti lagu penthil kecakot, penak mlumah, tali kotang, ngidam pentol [7]dan yang lainnya.
Kehidupan seni karawitan bila terus-menerus seperti iu lambat laun seniman karawitan akan kehilangan arah dan hanya menghasilkan karya seni yang tidak berjiwa dan tidak mempunyai sifat edukasi atau tuntunan yang menggambarkan nilai- nilai luhur.  Dengan demikian akan menurunkan derajad seniman itu sendiri sebagai seniman karawitan yang hanya memikirkan materi “ pokok entuk duwit” asal mendapat uang dengan menghilangkan estetik musikal yang melalui rasa. Sehingga dimungkinkan akan menghasilkan karya-karya musik karawitan yang hanya menuruti pasaran yang dangkal akan nilai-nilai luhur.

C.    UYON-UYON PROGRAM DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA PROVINSI JAWA TIMUR
 Pada tahun 2011 ketika penulis pertama kali menjadi pegawai negeri sipil di lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Disitu ada salah satu program kegiatan yang dinamakan Uyon-Uyon. Kegiatan tersebut dilaksanakan setiap hari kemis kliwon malam jum’at pahing dengan menampilkan salah satu Sanggar Karawitan dari Kota Surabaya.
Dalam acara tersebut menampilkan gending-gending dan lagu –lagu yang sudah populer dimasyarakat. Seperti Ldr. Ayun-Ayun, Ldr Elo-Elo Gandrung, Ngidam Sari, Yen Ing Tawang dll, yang memang gending-gending atau lagu-lagu tersebut sangat familier sekali di masyarakat. Pada waktu menjelang tengah malam sekitar pukul 22.00 Wib  ada penawaran ke penonton untuk menyumbang lagu serta ada yang joget sehingga suasana menjadi meriah dan rame. 
Pada waktu acara tersebut, kebetulan penulis di tugasi untuk menjadi panita. penulis mulai berfikir dengan adanya kegiatan tersebut, apa sih tujuan dari adanya kegiatan Uyon-Uyon ini, apa hanya sebatas senang-senang / hura-hura. Pada saat itu penulis sempat bertanya kepada pimpinan tentang kegiatan Uyon-Uyon ini, dan dijawab bahwa kegiatan ini adalah bagian dari program pelestarian dan pengembangan kebudayaan khususnya seni karawitan. Dari pengalaman menjadi penitia  tersebut, timbul pertanyaan dalam hati saya :
a.      Mengapa sanggar karawitan yang mengisi di kegiatan tersebut selalu sama?
b.      Mengapa gending- gending yang dibunyikan pada kegiatan tersebut hanya gending-geding yang populer dimasyarakat dan setiap pementasan gendingnya juga kebanyakan hampir sama?
c.       Kalau Program Uyon-Uyon ini merupakan pelestarian, yang dilestarikan itu yang mana, Senimanya, Keseniannya, Sanggarnya atau nilai adiluhunggya?
Dengan adanya kegiatan Uyon-Uyon yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur dapat di simpulkan bahwa kegiatan tersebut hanyalah mengikuti pasar seperti yang berkembang dimasyarakat, yaitu sebagai media hiburan semata. Sehingga kegiatan Uyon-Uyon sebagai program pelestarian serta pengembangan di bidang kebudayaan menurut penulis masih kurang maksimal, karena pertunjukan Uyon-Uyon yang seharusnya mempunyai nilai yang adiluhung sebagai tuntunan, tatanan dan tontonan sudah bergeser ke pertunjukan yang sifatnya untuk hiburan semata atau hanya sebatas hura-hura.
Dalam perkembangannya kegiatan Uyon-Uyon yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur ini setelah melalui banyak evaluasi baik dari seniman, penikmat seni dan panitia, maka pertunjukan Uyon-Uyon  yang semula bersifat hura-hura sekarang menjadi kegiatan yang mempunyai tujuan untuk merevitalisasi gending-gending baik gaya Jawatimuran maupun gaya Mataraman yang berkembang di seluruh Kabupaten / Kota se Jawa Timur.
Dengan adanya revitalisasi gending-gending pada kegiatan Uyon-Uyon ini, diharapkan bisa sebagai wahana apresiasi dan dapat meningkatkan rasa handarbeni terhadap budaya sendiri khususnya para pelaku seni karawitan (pengrawit), penggemar seni dan masyarakat secara umum. Serta bisa menginventarisasi dengan langkah nduduk, ndudah, ndeder dan ngrembakakaken gending-gending tradisi peninggalan para leluhur yang hampir punah.
Kegatan Uyon-Uyon yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur selain menyajikan gending-gending yang hampir punah, penyaji diharapkan membuat diskripsi gending yang diunggulkan sebagai pertanggungjawaban dalam penyajian karawitan yang natinya akan menjadi  aset data dalam bentuk tulisan diskripsi dan audio sebagai data yang kedepan sangat dibutuhkan bagi para seniman, akademisi seni dan para kolektor seni khususnya seni karawitan.

D.    SAJIAN UYON-UYON SEBAGAI USAHA REVITALISASI
Sanggar karawitan “Sekar manik Dhanirogo” dari Kabupaten Ponorogo menyajikan gending unggulan “ Gending Mega Mendung, Ketuk 4 Kerep, Minggah Ladrang Remeng, Laras Slendro Patet Nem”. Gending Mego Mendung ini biasa digunakan untuk mendatangkan hujan lebat, meskipun semua itu tidak dapat dibbuktikan secara ilmiah, tetapi para pengrawit bisa membuktikan dengan rasa yng mereka miliki. Pada perkembangannya gending Mega mendung ini biasa digunakan pada pergelaran wayang kulit pada waktu jejer kedua. Di Kabupaten Ponorogo gending ini sudah jarang di bunyikan karena pengaruh pergeseran budaya, baik pergelaran dalam upacara manten maupun sebagai iringan pakeliran dalam wayang kulit. Karena di Kabupaten Ponorogo untuk porsi pergelaran dalam upacara manten serta pakeliran wayang kulit terlalu banyak dihiburan sehingga seakan tidak ada waktu untuk membunyikan gending-gending yang memakan waktu cukup lama.
Gending Mega Mendung, Ketuk 4 Kerep, Minggah Ladrang Remeng,
 Laras Slendro Patet Nem

Buka :    . . . 2  2 1 y t  . 3 5 .  2 3 5 6  1 2 1 g6
       ..65  eety  etyt  2232  ..2.  22.3  5653  212n6
       ..y1  2353  5653  212y  22..  22.3  5653  21ynt
       .ttt  wwet  we5e  212y  .1y.  y123  5653  21ynt            .y12  .1yt  .y12  .1yt  .et.  wet.  2ety  121gy

Omp.   .y12  .1yt  .y12  .1yt  .y12  .1yt  !!..  #@!g6

Ladrang Remeng Laras Slendro Patet Nem
       ..6.  665n6  !65p3  223n2
       ..yp1  223n2  321py  ty1g2
       321y  ty1n2  321py  335n3
       .21py  335n3  56!p6  532g3
       6521  y12n3  56!p6  532n1
       .11p1  232n1  321p2  .1ygt
       .y12  .1ynt  .y1p2  .1ynt
       .y1p2  .1ynt  !!.p.  #@!g6

Sangar Karawitan “Gita Laras” dari Kabupaten Malang menyajikan Gending Unggulan “Gending Kembang Gayam Laras Slendro Patet Sanga”. Gending Kembang Gayam ini adalah gending pemangku praja, gending pedanyangan atau gending punden. Gending tersebut pada jamannya selalu di bunyikan di Pendopo Kabupaten dalam acara pisowanan kemudian berkembang ke masyarakat dan selalu mengumandangkan di punden-punten dalam upacara bersih desa. Namun karena pelakunya telah habis termakan usia maka gending Kembang Gayam kini nyaris hilang tertelan jaman. Maka dari itu pada kegiatan Revitalisasi gending gending ini Sanggar Gita Laras menggali kembali keberadaan gending tersebut supaya bisa muncul kembali di tengah masyarakat.
Gending Kembang Gayam Laras Slendro Patet Sanga
 Buka:                                  6 5 6 !   . 3 . 5   . 3 . g2
A   ...6  ...p5  ...6  ...n3  ...2  ...p1  ...5  ...n3
    5353  232p1  6!6!  235n3  65!6  35!p6  3565  231g2
B       6 3 6 j52   j52j35j63j5p6   j35j.1j216    j23j53j65n3
    j53j.2j653    2 3 2 p1    j6!j.2j6@j!6   j52j35j65n3   
    j53j.2j653    2 3 2 p1    j6!j.2j6@j!6   j52j35j65n3
    6 5 ! 6    j36j51j21p6    3 5 6 5    2 3 1 g2   
C   6 . j653    6 . j165    2 . 2 3    5 ! 6 p5
    6 . j653    ! j.6j@!6    5 3 6 j52   j35j6!j65n3  
    5 j.3j653    5 j.3j653    2 . 2 3    5 j65j32p1
    j6@j.!j6@j!6   j!@j.!j6@1    6 . 2 3    5 j6!j65n3
         5 j.3j653    5 j.3j653    2 . 2 3    5 j65j32p1
    j6@j.!j6@j!6   j!@j.!j6@1    6 . 2 3    5 j6!j65n3
    6 6 !65    ! @ ! 6    5 3 6 5    6 2 1 p6 pos
    . 2 3 5    3 6 3 5    . 2 3 5    2 1 3 g2 swk
Gending yang disajikan oleh kedua sanggar yaitu dari Sanggar  Sekar Manik Danigoro dan Sanggar Gita Laras, dengan penyajian “Gending Kembang Gayam Laras Slendro Patet Sanga” gaya Mataraman dan “Gending Kembang Gayam Laras Slendro Patet Sanga”. Gaya Jawatimuran. Ini adalah sebagian contoh revitalisasi gending-gending dalam bentuk kegiayan  Uyon-Uyon. Dengan semangat revitalisasi  gending-gending sebagai peninggalan para leluhur yang adiluhhung ini adalah sebagai bentuk karya kearifan lokal yang memiliki nilai-nilai filosofi, sosial, etika dan estetika yang hebat dan tinggi bagi kehidupan masa lalu dan sekarang.
Revitalisasi gending-gending tradisi ini adalah suatu langkah maju bagi kepentingan kehidupan khususnnya seni karawitan. Ada beberapa hal yang pokok yang didapatkan pada revitalisasi gending-gending ini , adalah dapat menyegarkan kembali kehidupan gending-gending kuno/ terdahulu serta dapat memahami dan menghargai gending-gending tradisi karya para leluhur sebagai karya yang adiluhung.      
DAFTAR PUSTAKA
Adiyanto, Kumpulan Diskripsi Uyon-Uyon tahun 2016, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, 2016
Martopangrawit, Catatan Pengetahuan Karawitan, Volume I, ASKI Surakarta, 1975.
Prabawanti, Wingit. 1983. “Pengetahuan Karawitan Daerah Surakarta”. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan dan Kebudayaaan  Dasar dan Menengah.
Prasetyo,     Puguh. 2015 “Tabuhan dan Vokal Wayang Jawatimuran”. Surabaya,  Dewan Kesenian Provinsi Jawa Timur.
Soenarto, Tehnik Tabuhan Karawitan Jawa Timur Gaya Mojokerto Surabaya. Surabaya, PT Revka Petra Media, 2016.





















[1] Karawitan gaya jawatimuran adalah karawitan yang berkembang di wilayah pesisr Jawa Timur seperti, Jombang, Mojokerto, Surabaya, Gresik, Pasuruan dan Sidoarjo.
[2] Klenengan adalah sajian karawitan secara mandiri
[3] Nanggap adalah membutuhkan untuk menyajikan/ megelar pertunjukan.
[4] Pak Mulyono adalah empu seniman dari Kabupaten Jombang yang sampai saat ini masih eksis dalam pertunjukan karawitan iringan pakeliran gaya Jawatimuran. 
[5] Amuji adalah seniman karawitan gaya jawatimuran dari RRI Surabaya.
[6] Uyon –Uyon adalah istilah lain dari klenengan
[7] Lagu-lagu ini adalah lagu campursari yang pada saat ini di gunakan juga pada sajian Uyon-Uyon di daerah- daerah khususnya di daerah Jawa Timur. 

UYON-UYON APA HANYA SEKEDAR HURA-HURA




UYON-UYON APA HANYA SEKEDAR HURA-HURA


Keberadaan Uyon-Uyon Saat Ini
Pada saat ini pertunjukan Uyon-Uyon khususnya di Jawa Timur sudah mulai bergeser dalam suatu pertunjukan yang sifatnya hura-hura. Ada salah satu seniman pengrawit yang bilang “sing penting rame” yang penting rame. Bentuk sajian karawitan yang hanya bersifat materialistik dan hedonistik, yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dengan  berkesenian yang sifatnya hanya sebatas hura-hura. Pernah saya bertanya kepada salah satu seniman pengrawit yang intinya menanyakan apakah tidak jenuh ketika melakukan pementasan yang hanya menuruti selera penonton yang dangkal akan nilai luhur yang kadang lagu-lagu tersebut mempunyai syair yang jorok dan mengarah ke pornografi. dan beliau menjawab “halah le sing penting payu lan entuk bayaran entuk duwit, sak iki sing dijaluki tukang nanggap lan penonton ki yo sing rame lan rodo mambu mambu jorok ngene “  artinya iya nak yang penting laku dan dapat bayaran uang, saat ini yang diminta para penanggap dan penonton itu yang penting rame dan agak berbau porno.
Dari salah satu pernyataan seniman tersebut diatas  saya menyimpulkan bahwa untuk sajian Uyon-Uyon pada saat ini yang terpenting adalah bagaimana caranya para seniman pengrawit itu bisa laku dan dapat job-joban sebanyak mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidupnya walaupun lagu-lagu atau gending-gending yang disajikan tidak etis. Seperti contohnya : gending Kutut Manggung  pada pos-posan cengkok Candralukitan
Syair :  e manukke Pak Citro lemes  
           e burungnya (kelaminnya) Pak Citro lemas
Syair : e manuke sing ngendang dowo
           E burungya (kelaminnya) yang main kendang panjang
Syair yang sebenarnya adalah e manuke kutut. Syair ini diplesetkan sehingga menimbulkan asosiasi yang jorok dan seronok mengarah kearah pornografi yang berubah dari arti syair yang sebenarnya. Nampaknya untuk syair yang mengarah ke arah pornografi tersebut sdah menjadi tren untuk penyajian karawitan pada saat ini. Ada lagi lagu –lagu tren yang syairnya berbau porno dan sudah menjadi tren di kalangan masyarakat seperti lagu penthil kecakot, penak mlumah, tali kotang, ngidam pentol dan yang lainnya.
Kehidupan seni karawitan bila terus-menerus seperti iu lambat laun seniman karawitan akan kehilangan arah dan hanya menghasilkan karya seni yang tidak berjiwa dan tidak mempunyai sifat edukasi atau tuntunan yang menggambarkan nilai- nilai luhur.  Dengan demikian akan menurunkan derajad seniman itu sendiri sebagai seniman karawitan yang hanya memikirkan materi “ pokok entuk duwit” asal mendapat uang dengan menghilangkan estetik musikal yang melalui rasa. Sehingga dimungkinkan akan menghasilkan karya-karya musik karawitan yang hanya menuruti pasaran yang dangkal akan nilai-nilai luhur.

Uyon-Uyon Program Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur
 Pada tahun 2011 ketika saya pertama kali menjadi pegawai negeri sipil di lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Disitu ada salah satu program kegiatan yang dinamakan Uyon-Uyon. Kegiatan tersebut dilaksanakan setiap hari kemis kliwon malam jum’at pahing dengan menampilkan salah satu Sanggar Karawitan dari Kota Surabaya.
Dalam acara tersebut menampilkan gending-gending dan lagu –lagu yang sudah populer dimasyarakat. Seperti Ldr. Ayun-Ayun, Ldr Elo-Elo Gandrung, Ngidam Sari, Yen Ing Tawang dll, yang memang gending-gending atau lagu-lagu tersebut sangat familier sekali di masyarakat. Pada waktu menjelang tengah malam sekitar pukul 22.00 Wib  ada penawaran ke penonton untuk menyumbang lagu serta ada yang joget sehingga suasana menjadi meriah dan rame. 
Pada waktu acara tersebut, kebetulan saya di tugasi untuk menjadi panita. Saya mulai berfikir dengan adanya kegiatan tersebut, apa sih tujuan dari adanya kegiatan Uyon-Uyon ini, apa hanya sebatas senang-senang / hura-hura. Pada saat itu penulis sempat bertanya kepada pimpinan tentang kegiatan Uyon-Uyon ini, dan dijawab bahwa kegiatan ini adalah bagian dari program pelestarian dan pengembangan kebudayaan khususnya seni karawitan. Dari pengalaman menjadi penitia  tersebut, timbul pertanyaan dalam hati saya :
a.      Mengapa sanggar karawitan yang mengisi di kegiatan tersebut selalu sama?
b.      Mengapa gending- gending yang dibunyikan pada kegiatan tersebut hanya gending-geding yang populer dimasyarakat dan setiap pementasan gendingnya juga kebanyakan hampir sama?
c.       Kalau Program Uyon-Uyon ini merupakan pelestarian, yang dilestarikan itu yang mana, Senimanya, Keseniannya, Sanggarnya atau nilai adiluhunggya?
Dengan adanya kegiatan Uyon-Uyon yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur dapat di simpulkan bahwa kegiatan tersebut hanyalah mengikuti pasar seperti yang berkembang dimasyarakat, yaitu sebagai media hiburan semata. Sehingga kegiatan Uyon-Uyon sebagai program pelestarian serta pengembangan di bidang kebudayaan menurut penulis masih kurang maksimal, karena pertunjukan Uyon-Uyon yang seharusnya mempunyai nilai yang adiluhung sebagai tuntunan, tatanan dan tontonan sudah bergeser ke pertunjukan yang sifatnya untuk hiburan semata atau hanya sebatas hura-hura.
Dalam perkembangannya kegiatan Uyon-Uyon yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur ini setelah melalui banyak evaluasi baik dari seniman, penikmat seni dan panitia, maka pertunjukan Uyon-Uyon  yang semula bersifat hura-hura sekarang menjadi kegiatan yang mempunyai tujuan untuk merevitalisasi gending-gending baik gaya Jawatimuran maupun gaya Mataraman yang berkembang di seluruh Kabupaten / Kota se Jawa Timur.
Dengan adanya revitalisasi gending-gending pada kegiatan Uyon-Uyon ini, diharapkan bisa sebagai wahana apresiasi dan dapat meningkatkan rasa handarbeni terhadap budaya sendiri khususnya para pelaku seni karawitan (pengrawit), penggemar seni dan masyarakat secara umum. Serta bisa menginventarisasi dengan langkah nduduk, ndudah, ndeder dan ngrembakakaken gending-gending tradisi peninggalan para leluhur yang hampir punah.
Kegatan Uyon-Uyon yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur selain menyajikan gending-gending yang hampir punah, penyaji diharapkan membuat diskripsi gending yang diunggulkan sebagai pertanggungjawaban dalam penyajian karawitan yang natinya akan menjadi  aset data dalam bentuk tulisan diskripsi dan audio sebagai data yang kedepan sangat dibutuhkan bagi para seniman, akademisi seni dan para kolektor seni khususnya seni karawitan.




Adiyanto dilahirkan di Semarang, 02 Juli 1982. Sejak kecil ia sudah diajari oleh orang tuanya  di bidang seni, diantaranya, seni karawitan, pedalangan dan seni tatah sungging wayang. Setelah remaja Ia mematangkan ketrampilan olah seninya di SMKN 8 Surakarta Jurusan Karawitan pada tahun 1998, kemudian melanjutkan kuliah di STSI Surakarta pada tahun 2001 sampai semester 4 transfer ke STKW Surabaya lulus pada tahun 2006. Sejak tahun 2011 di angkat menjadi Pegawai Negeri Sipil di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur Bidang Budaya, Seni dan Perfilman. Kemudian pada tahun  2015 diangkat sebagai Pamong Budaya Jawa Timur sampai sekarang. Di sela-sela kesibukanya sebagai Pamong Budaya Ia juga aktif sebagai seniman, baik pelaku seni, pengkarya seni dan pemerhati seni. Ia juga aktif mengajar Karawitan Pedalangan dan Campursari di berbagai sanggar diantaranya : Sanggar Elektro Budoyo, di ITS Surabaya Jurusan Elektro, Sanggar Maesa Kencana, Petro Kimia Gresik.


ARTIKEL INI DI MUAT DI MAJALAH SENI BUDAYA JAWA TIMUR
EDISI 3 SEPTEMBER 2017 

OPINI.....ANEKDOT BIDANG KEBUDAYAAN






ANEKDOT BIDANG KEBUDAYAAN

            Apabila kita mengamati persoalan-persoalan saat ini  bagaikan anekdot yang sering bermunculan baik di jejaring sosial maupun di media massa. Lalu apakah anekdot itu? menurut pamahaman masyarakat umum bahwa anekdot adalah cerita-cerita yang lucu, konyol serta menarik. Disisi lain ada hal yang menarik perhatian, dan saya anggap itu sebagai anekdot tentang kebudayaa. Banyak pemahaman masyarakat kita yang salah kaprah memahami tentang kebudayaan. Mereka mengganggap bahwa kebudayaan adalah kesenian. Ketika ngomong masalah melestarikan kebudayaaan yang dijadikan contoh kebayakan hal-hal yang terkait dengan seni, seperti melestarikan wayang, tari, dan yang lainnya. Kalau bicara tentang pengembangan kebudayaan yang di pahami yaitu karya tari baru, musik kontemporer, menginovasi lagu dan lainnya. kalau menangani tentang kelembagaan budaya pasti yang di tangani tentang sanggar seni, Komunitas seni atau paguyuban seni, pokoknya seni, seni dan seni.
            Ada sesuatu hal yang menarik yang perlu dipikirkan bersama, salah satunya di  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur ada bidang Kebudayaan yang membawahi tiga seksi, yaitu seksi Pelestarian Tradisi, Seksi Pembinaan Kesenian dan Seksi Pengembangan Kelembagaan Budaya. Di bidang Kebudayaan ini mempunyai program kegiatan yang hampir 90% semuanya adalah kesenian diantaranya adalah Apresiasi wayang kulit, Festival Karya Tari, Festival Kesenian Pesisir Utara, uyon-uyon, Penghargaan Seniman dan masih banyak lagi, hampir semuanya berkaian dengan yang namanya kesenian. Dari semua kegiatan yang berkaitan dengan kesenian itu hampir 80% sifatnya adalah pergelaran. Di seksi Pelestarian Tradisi juga menangani pergelaran seni, di seksi Pengembangan Kesenian menangani pergelaran seni walaupun sebenarnya pembinaan kesenian tidak harus bersifat pertunjukan. Di seksi Pengembangan Kelembagaan Budaya juga menangani pergelaran seni. Kalau seperti itu apa fungsinya nama-nama yang  melebeli pada setiap seksi, apa hanya sebagai hiasan semata. Yang menjadikan pertanyaan mengapa hal ini terjadi?. Kenapa nama-nama yang melekat pada setiap seksi tidak membuat program kegiatan yang sesuai dengan tugas, pokok dan fungsinya masing-masing.
            Ada anekdot masyarakat yang menarik juga untuk kita pikirkan. “DPR adalah Dewan Perwakiran Rakyat, masyarakat ingin mobil mewah sudah diwakili DPR, masyarakat ingin rumah mewah sudah diwakili DPR, masyarakat ining jalan-jalan ke luar negeri sudah diwakili DPR”. Dari anekdot diatas yang sebenarnya DPR adalah mewakili semua aspirasi masyarakat akan tetapi diplesetkan mewakili keinginan yang bersifat barang mewah seperti, mobil, rumah dan jalan-jalan ke luar negeri. Dari anekdot itu yang sifatnya adalah guyonan akan tetapi di dunia nyata ini terkesan “fakta”. Dengan melihat bayaknya anekdot yang terkesan seperti nyata, apakah Bidang Kebudayaan saat ini juga bagian dari anekdot yang lagi ngetrend, yang selalu ingin ditanyakan mengapa ini terjadi?. Lalu siapa yang salah ?.
            Terlepas dari salah dan benar, mungkin bisa dianggap sebagai solusi. Menurut pemikiran saya, program kegiatan yang dilakukan oleh Bidang Kebudayaan selama ini adalah program yang bagus serta sangat bermanfaat  bagi seniman dan masyarakat secara umum.  Jadi menurut saya lebih baik Bidang Kebudayaan diganti saja menjadi Bidang Kesenian dengan membawahi entah itu seksi Pelestarian Kesenian, seksi Pengembangan Kesenian, seksi Pembinaan kesenian, seksi Pemanfaatan Kesenian, seksi Perlindungan Kesenian, seksi Lembaga Kesenian atau seksi yang lain yang terkait dengan kesenian. Sehingga program kegiatan yang dilakukan selama ini bisa di kerjakan sesuai dengan nama-nama seksi melekat sebagai nama. Jadi nama-nama seksi tidak hanya sebatas hiasan nama semata, akan tetapi bisa menampung program kegiatan yang selama ini dilakukan, dan sebagai kepala Bidang, Kepala Seksi bahkan semua pegawai akan bisa bekerja sesuai dengan tugas, pokok dan fungsinya. Yang dampaknya nanti akan bisa mempertanggungjawabkan kepada masyarakat serta pimpinan tertinggi didalam kinerja.

Penulis : Adiyanto, S.Sn

Pamong Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur.


DI MUAT DI HARIAN
POJOK KIRI KORANE RAKYAT
SETU WAGE, 21 OKTOBER 2017

OPINI ...SPECTA NIGHT CARNIVAL, SEBUAH KONSISTENSI









SPECTA NIGHT CARNIVAL, SEBUAH KONSISTENSI


Sebagai mana kita ketahui bersama bahwa Jatim Specta Night Carnival dalam petunjuk teknisnya adalah bersifat arak-arakan, apresiatif, kompetitif, kolosal dan spektakuler. Yang dibingkai dalam koreografi gerak sambil berjalan dengan memunculkan efek visual yang menonjol dengan komposisi dan lintasan yang dinamis. Sehingga dengan adanya ketentuan teknis seperti itu,  semua peserta pasti akan berlomba-lomba untuk mempersiapkan sebuah sajian yang sesuai dengan petunjuk teknis, karena mereka ingin tim yang dibawanya bisa menjadi yang terbaik dan bisa mendapatkan kejuaraan.
Ada sesuatu yang menarik di acara  Jatim Specta Night Carnival  yang diselenggarakan pada tanggal 7 Oktober 2017,  dengan start di Museum Brawijaya, panggung kehormatan di Simpang Balapan dan Finish Baperwil  Kota Malang  , yaitu konsistensi panitia penyelenggara dengan petunjuk teknis yang dibuatnya. Salah satunya adalah pada waktu prosesi pembukaan di panggung kehormatan, ada sebuah pertunjukan tari kolosal yang tergarap dengan rapi dan cukup baik dalam durasi yang cukup lama, sehingga acara utama  sebuah pertunjukan arak-arakan terkesan tersaingi dan bahkan kesilep atau kalah dengan pertunjukan pada waktu prosesi pembukaan.  Idealnya acara yang digarap dengan serius adalah acara utama yaitu pertunjukan arak-araknya dan untuk acara prosesi di garap dengan standar saja supaya pertunjukan utama yang bersifat arak-arakan bisa lebih specta. Kalau memang panitia penyelenggara sudah menyerahkan pelaksanaan teknisnya ke EO, seharusnya memilih EO yang sesuai, sehingga EO bisa menyarankan hal yang terbaik untuk sebuah acara. Misalnya acara tersebut adalah acara yang bersifat arak-arakan otomatis secara teknis akan menfokuskan sesuai dengan sifat acara tersebut. Jadi terkesan panitia tidak konsisten dengan acara yang di buat, yaitu Jatim Specta Night Carnival yang seharusnya bersifat arak-arakan akan tetapi berubah menjadi pertunjukan diatas panggung yang disajikan di panggung kehormatan pada waktu prosesi.
Adalagi suatu permasalahan yang terjadi yaitu panitia penyelenggara sangat marah ketika jarak antara peserta satu dengan yang lainnya terlalu jauh. Karena akan menyita waktu cukup lama yang mengakibatkan kurang bagus bagi para pimpinan. Coba kita berfikir bersama, para peserta ikut dalam acara ini inginnya pasti menang, karena acara ini adalah acara kompetisi. Sehingga bagaimanapun juga akan berusaha menggarap sebaik mungkin sesuai dengan petunjuk teknis yang telah disepakati. Ketika peserta satu menggarap dengan gerak dan peserta yang lain ada yang menggarap hanya sekedar berjalan biasa. Maka secara logika peserta yang jalan biasa akan lebih dulu dari pada peserta yang menggunakan gerak sambil berjalan sehingga dampaknya jarak peserta yang satu dengan yang lain   akan menjadi jauh. Faktor yang lain yaitu adanya kereta hias cukup besar  dengan  menggunakan mesin dan ada yang secara manual didorong oleh beberapa orang, secara otomatis yang menggunakan mesin akan lebih cepat dari yang manual, sehingga jarak antara peserta yang satu dengan yang lain akan berbeda.  Walaupun ada masalah seperti itu, penonton sendiri tidak mempermasalahkan itu, bahkan dianggap tetap menghibur.  sedangkan untuk para peserta juga cukup menikmati sebagai peraga dalam acara arak –arakan seperti ini.  
Sehingga timbul tanda tanya dalam pikiran saya, untuk siapakah acara ini diadakan? Untuk penonton yang notabene adalah masrarakat awam, untuk peserta, untuk panitia atau untuk para pimpinan yaitu para pejabat tinggi.  Mungkin ada sedikit pemikiran untuk di pikirkan, kalau memang acara tersebut untuk menghibur masyarakat berarti acara yang diselenggarakan kemarin sudah dianggap sukses kenyataannya penonton cukup banyak dan banyak yang terhibur, karena memang kebutuhan masyarakat penoton hanya butuh suatu tontonan yang rame, unik dan jarang diadakan di wilayah tersebut, penonton tadak ada kometar jelek adanya acara tersebut dan menonton sampai selesainya acara. Kalau acara tersebut untuk peserta seharusnya panitia memberikan ruang gerak para peserta untuk berkreasi sesuai dengan keinginan peserta karena bagaimanapun ini bersifat kompetisi, jadi biarkan para peserta secara liar menterjemahkan karya –karyanya sesuai dengan petunjuk teknis yang telah disepakati, jadi para seniman punya cara, strategi dan rasa estetik sendiri-sendiri disesuaikan oleh tingkat pemikiran mereka.  Terlepas dari kesesuaian tema, jarak antara peserta yang satu dengan yang lain, dan estetika.  Jadi siapapun peserta yang tidak sesuai dengan petunjuk teknis yang dibuat panitia maka dengan sendirinya akan kalah dalam penilaaian. Karena bagaimanapun juga dewan pengamat  punya kewenangan untuk melilih siapapun pemenangnya dengan mempertanggungjawabkan hasilnya.    Kalau memang acara ini untuk panitia ya seharusnya sebelum mengadakan acara, keinginan panitia pada acara tersebut   yang  bagaimana.  Jadi tidak akan terjadi panitia melanggar aturan yang dibuatnya sendiri.  Kalau memang acara ini untuk pimpinan seharusnya acara ini dibuat sepraktis mungkin, meyesuaikan keinginan para pimpinan. Dengan study kasus yang kemarin bisa diterjemahkan,  bahwa slera pimpinan adalah  suatu pertunjukan praktis tidak memakan waktu yang cukup lama dan estetik menurut pandangannya.
Maka acara Jatim Specta Night Carnival perlu pemikiran yang matang untuk kita renungkan bersama. Semoga pemikiran diatas bisa menjadi pemikiran kita bersama -bersama sehingga bisa menghasilkan suatu acara yang benar-benar specta untuk semua kalangan masyarakat, peserta, panitia penyelenggara dan para pimpinan atau pejabat.  



DIMUAT DI 
HARIAN DUTA MASYARAKAT, JUM'AT 13 OKTOBER 2017