RUMAH SENI BUDAYA, SEKAR ADI WIRAMA, SALAM BUDAYA, MARI KITA MELESTARIKAN ( MELINDUNGI, MEMBINA, MENGEMBANGKAN, DAN MEMANFAATKAN SENI BUDAYA................ SEBAGAI ASET BUDAYA BANGSA............. SERTA UNTUK ANAK CUCU KITA SEBAGAI GENERASI PENERUS BANGSA................ MATURNUWUN.....TERIMA KASIH.... SALAM BUDAYA
29 Nov 2017
10 Oct 2017
BUKU DJOKO LANGGENG DAN WAYANG KULIT KARYANYA
Buku Djoko Langgeng dan wayang kulit karyanya
Penerbit Karunia
Penulis Adiyanto, S.Sn
Jumlah halaman 151
40 hal warna
Ukuran A5 (15x 21)
Ukuran A5 (15x 21)
Terbitan tahun 2016
BUKU KARAWITAN JAWA TIMURAN
BUKU KARAWITAN JAWA TIMURAN
Buku ini berisikan tentang pengetahhuan teori serta praktek tentang seni karawitan gaya jawatimuran.
jumlah halaman : 86 halaman
penulis : Adiyanto, S.Sn
penerbit : Karunia
Ukuran A5 (15 x 21)
Terbitan tahun 2016
OPINI ....MEROSOTNYA NILAI ADILUHUNG DALAM PERTUNJUKAN WAYANG KULIT
MEROSOTNYA NILAI ADILUHUNG
DALAM PERTUNJUKAN WAYANG KULIT
Pertunjukan wayang
kulit memang sudah banyak berubah dari waktu
ke waktu. Pada jaman dahulu pertunjukan wayang kulit di dominasi oleh cerita
dalam pewayangan serta keindahan suara gamelan pada gendhing-gendhinya. Pertunjukan wayang kulit jaman sekarang hampir
sebagian besar dalam penyajiannya ditambahi campursari dengan penyanyinya yang
cantik-cantik serta lawakan yang dibawakan oleh pelawak sebagai bintang tamu. Dalam
penyajian wayang kulit saat ini sebelum pergelaran, diawali oleh musik
campursari terlebih dahulu untuk mendatangkan penonton, setelah itu baru
pergelaran wayang kulit dimulai. Pada waktu pergelaran wayang kulit di dalam limbukan
dan goro-goro juga disajikan musik campursari serta datangnya bintang tamu
lawakan, sebagai penyegar dengan banyolan-banyolannya. Penyajian wayang
kulit untuk saat ini memang menyesuaikan kebutuhan masyarakat yang konsumtif,
jadi didalam penyajiannya disesuaikan dengan tingkat kemampuan imajinasi
masyarakat secara umum. Para seniman dalang menganggap dengan adanya penambahan
musik campursari serta hiburan lawak dapat menyemarakkan suasana didalam sebuah pertunjukan wayang
kulit, supaya dapat menyedot penonton lebih banyak. Apa lagi ditambah sajian
para penyanyi dan pelawak yang kurang etis yang selalu mengarah ke vulgarisasi,
dan lelucon yang berbau porno atau jorok.
Seperti misalnya seorang penyanyi dengan berpakaian kebayak dan jarikan tetapi
berjoget layaknya penyanyi dangdut, dengan goyang ngebornya sehingga
pertunjukan tersebut dapat megundang tawa penonton yang menjadikan pertunjukan
wayang terkesan ramai. Ditambah lagi banyolan- banyolan para pelawak yang
selalu menjurus kearah pornografi seperti misalnya, kata kata parikan “ minakjinggo, jengking penak miring monggo”
yang artinya minakjingga, nungging enak miring silahkan (konotasi porno) dan
masih banyak lagi contoh kata-kata yang lainya. Penyajian wayang kulit semacam
ini sudah menjadi trend atau kebiasaan dalam pertunjukan wayang di jaman sekarang
ini. Pernah saya menanyakan kepada salah
satu penonton wayang kulit, apa yang menarik dari penyajian wayang kulit untuk
di tonton? Kemudian dijawab bahwa didalam pergelaran wayang kulit yang menarik yaitu
pada waktu adegan limbukan dan goro-goro, kerena penyayinya cantik-cantik dan
bisa goyang. Apalagi bisa reques lagu serta ada pelawaknya yang selalu
membawakan sajian lawakannya yang lucu. Hampir sebagian penonton selalu
mengatakan seperti itu. Maka dari itu ketika pergelaran wayang kulit dimulai
banyak para penonton yang cangkruan diwarung, tapi ketika adegan limbukkan atau
goro-goro mulai, para penonton baru mendekat ke panggung untuk menyaksikan
jalannya pertunjukan.
Pergelaran wayang kulit
yang seperti ini memang sudah sudah menjadi viral disemua kalangan masyarakat.
Dikalangan pemerintahan yang menangani tentang kebudayaan ketika menanggap pergelaran wayang kulit juga
sudah ikut-ikutan seperti penyajian wayang kulit pada saat ini, malah terkadang
terkesan mewajibkan. Pernah suatu ketika salah satu pejabat dipemerintahan mau menanggap pergelaran wayang kulit, Ia
sangat bingung ketika bintang tamu seorang penyanyi tidak bisa ikut karena ada job lain, sehingga Ia menganggap nanti
tidak akan rame penonton, ketika bintang tamu penyanyi tersebut tidak ada. Dengan
demikian para pejabat yang duduk di pemerintahan kadang dengan sengaja dan
bahkan mewajibkan didalam pergelaran wayang kulit harus ada bintang tamu
penyanyi, lawak dan campursari agar dalam pergelaran bisa ramai. Karena memang
ukuran suksesnya pergelaran bagi orang-orang pemerintahan pada saat ini adalah
banyak sedikitnya penonton yang hadir, bukan masalah estetis, edukasi dan
moralitas. Sehingga ketika mengadakan pergelaran wayang kulit yang diutamakan
masalah bintang tamu penyanyi dan lawak, sampai didalam pergelaran wayang kulit
harus ada lighting untuk bintang tamu
penyanyi dan para lawak.
Disisi lain ada sesuatu
yang semakin berkurang dengan pertunjukan wayang kulit pada jaman sekarang
yaitu masalah etika, filosofi dan nilai luhur yang terkandung pada pakeliran
wayang. Sekarang tampaknya sebagian besar pertunjukan wayang kulit telah kandas
dalam suatu permainan yang sifatnya hura-hura. Bentuk kesenian yang bersifat materialistik
dan hedonistik. Lama-kelamaaan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam penyajian
wayang kulit akan merosot dari sifatnya yang adiluhung menjadi sesuatu yang
hanya sebatas eforia semata. Apabila penyajian wayang kulit terus menerus
seperti itu maka para pelaku seni khususnya para dalang, pengrawit dan sinden
akan kehilangan arah dan hanya
menghasilkan karya seni yang tiada berjiwa. Dan dapat dipastikan akan
menurunkan derajad para seniman itu sendiri dari kedudukannya yang tinggi
sebagai seorang pencipta menjadi homo
ludens, yaitu tukang mayang dan tukang nabuh, yang hanya mengutamakan
komoditi pasar yang dangkal akan nilai-nilai estetika.
Penulis
: Adiyanto
Pamong
Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur
DI MUAT DI HARIAN POJOK KIRI KORANE RAKYAT
SELASA LEGI, 3 OKTOBER 2017
5 Mar 2017
WAYANG KEDIREN KI DJOKO LANGGENG
I.
WAYANG KULIT KI DJOKO
LANGGENG
Ketika
Djoko Langgeng masih duduk di bangku Sekolah Rakyat (SR), dia sangat berbakat
dalam hal menggambar. Ki Djoko Langgeng masih kelas satu, dia mengikuti lomba
menggambar wayang kulit yang diadu dengan kelas enam, dan hasil dari perlombaan
menggambar itu, justru dia yang mendapat juara satu. Itu artinya bahwa memang dia
sudah mempunyai bakat menggambar sejak dia masih kecil. Sedangkan tambahan pengalaman
untuk membuat wayang, dia mendapat pengalaman dari banyak orang.
Wayang
kulit Ki Djoko Langgeng yang dibuat bukan wayang kulit biasa, banyak orang yang
bilang wayang kulit buatannya adalah wayang pedalangan, karena memang dalam hal
membuat wayang kulit dia tidak berpikir bahwa wayang yang dia buat untuk di
jual, tapi dia membuat wayang berdasarkan hobi atau kesukaan, dan didalam benaknya
membuat wayang kulit itu adalah untuk kebutuhannya didalam pertunjukan wayang karena dia sendiri
adalah seorang dalang. Ciri khas wayang kulit buatannya adalah :
1.
Mengutamakan Wanda dan Kapangan
pada wayang kulit. (raut wajah/ muka dan anatomi tubuh yang proporsional)[1].
2.
Mengutamakan bedahan pada wayang
kulit. (tatahan pada bagian wajah/ raut muka dalam wilayah estetik yang paling
tinggi dalam mengapresiasi rupa pada wayang kulit)[2].
4.
Sunggingan[4]
biasanya sangat sederahana tapi mungguh dan semu. (sesuai dan
serasi).
Ki Djoko Langgeng juga sangat gemar untuk memperbaiki wayang
kulit yang sudah rusak, dia menganggap kalau memperbaki wayang kulit yang rusak
adalah bagian dari menghargai pembuat wayang yang terdahulu. Ketika wayang yang sudah rusak itu menjadi
utuh kembali maka dia juga akan menyenangkan leluhur nenek moyang yang telah
membuat wayang kulit tersebut.
Dia memperbaiki
wayang yang rusak itu karena ngugemi (mentaati) pesan dari mbah Wiro
Warsono[5]
pada waktu itu.
Mbah
Wiro Warsono mengatakan :
“
le yen kowe kepingin dadi dalang lan iso duwe wayang, awakmu kudu iso ndandani
wayang lan kudu gemati karo wayang”.
yang
artinya “nak ketika kamu ingin menjadi dalang dan ingin mempunyai wayang, kamu
harus bisa memperbaiki wayang dan harus cinta dengan wayang”.
Dari pernyataan mbah Wiro Warsono tersebut maka dia
sampai sekarang senang sekali memperbaiki wayang yang rusak apalagi jika wayang
tersebut mempunyai nilai sejarah dari para leluhur terdahulu. Banyak orang yang
mengatakan bahwa dia adalah dokternya wayang. Karena banyak wayang yang telah
rusak parah menjadi utuh kembali oleh tangannya.
[1] Rudy Wiratama
Partohardono, Rupa dan bentuk wayang
kulit purwa Jawa ditinjau dari mazhab/ alirannya ( Surakarta, 2009).
[2] Heru S
Sudjarwo et al, Rupa dan Karakter Wayang purwa (Jakarta, Kakilangit Kencana,
2013). Hal. 13.
[3] Tatahan
adalah lubang yang berbentuk semacam ukiran pada wayang kulit. (Ki Marwoto
Panenggak widodo, 1984, hal. 17)
[4] Sunggingan adalah pemberian warna pada
wayang kulit, para seniman pedalangan juga menyebutnya pulasan. (Ki Marwoto Panenggak widodo, 1984, hal. 89)
[5] Dalang
dari Soran Kabupaten Klaten, beliau adalah kakak dari kakeknya Ki Djoko
Langgeng, dia menyebutnya Mbah Soran.
![]() |
| Tambahkan teks |
Subscribe to:
Comments (Atom)



























